Gula cokla chapter 3
Sanggul rambut itu ada untuk memuaskan hawa nafsu-ku.
Sudah tiga bulan berlalu sejak pagi di mana aku menangis di depan cermin, di pelukan Abigail yang hangat, dan akhirnya menerima sepenuhnya bahwa hidupku kini terikat dengannya—dengan wanita negro yang dulu budakku, yang kini menjadi segalanya bagiku. Kabin kecil di tengah hutan pinus ini, yang awalnya hanya tempat berteduh sementara, kini benar-benar menjadi rumah kami. Dinding anyaman bambu yang aku perkuat sendiri dengan kayu pinus tua, atap daun palem yang aku ganti saat musim hujan, dan halaman kecil yang kini hijau oleh kebun sayur yang aku garap dengan tanganku sendiri.
Siang hari adalah milikku untuk bekerja. Aku bangun lebih pagi sekarang, sebelum ayam jantan berkokok, untuk memberi makan belasan ekor ayam yang kami pelihara di kandang bambu sederhana. Ayam-ayam betina yang gemuk menghasilkan telur setiap hari, cukup untuk kami makan dan simpan beberapa untuk ditukar dengan garam atau sabun di pasar kecil terdekat—jarang sekali kami ke sana, tapi cukup untuk bertahan. Lalu aku ke kebun: mencangkul tanah merah yang subur, menyiram kacang panjang yang merambat di ajir bambu, memetik jagung muda, ubi jalar, dan tomat yang mulai berbuah lebat. Lahan kosong yang dulu hanya semak liar kini jadi perkebunan kecil—tak sebanding dengan ribuan hektar tebu di perkebunan van Houten dulu, tapi cukup untuk menghidupi kami berdua tanpa kelaparan.
Tubuhku berubah. Kulit putihku yang dulu halus seperti porselen kini lebih gelap sedikit karena matahari, otot-otot di lengan dan dada mulai tebal karena kerja fisik setiap hari. Aku sering telanjang dada saat bekerja, celana panjang kusingsing hingga lutut, keringat mengalir deras di punggungku saat mencangkul. Abigail suka mengawasiku dari teras, duduk sambil mengupas sayur atau menenun keranjang anyaman, rambut panjang tebalnya dikepang satu dan digelung rapi agar tak mengganggu kerja.
“Tuan Muda-ku semakin kuat ya,” katanya suatu siang, suaranya genit sambil menyeka keringat di dadaku dengan ujung kain kepalanya. “Kulit putihmu masih mengkilap meski berkeringat begini… seperti mutiara basah. Aku suka lihat kau kerja keras untuk kita.”
Aku tersenyum canggung, tapi dada ku bangga. “Ini semua berkat kau, Abby. Kau yang ajarin aku cara tanam, cara pelihara ayam. Dulu aku cuma tahu perintah orang lain… sekarang aku lakukan sendiri.”
Ia mendekat, tangannya memeluk pinggangku dari belakang, payudaranya yang besar menindih punggungku. “Bagus, Tuan. Malam nanti kau akan dapat hadiah dari aku… karena sudah jadi lelaki sejati sekarang.”
Hadiah itu… aku tahu artinya. Malam hari adalah milik Abigail sepenuhnya. Saat matahari tenggelam dan api unggun kecil menyala di perapian, aku menjadi mainannya—tubuhku yang putih dan kini lebih berotot itu diserahkan sepenuhnya padanya, pada dominasinya yang manja tapi tak terbantahkan.
Setiap malam hampir sama, tapi selalu ada variasi baru yang membuatku tak pernah bosan—atau lebih tepatnya, tak pernah bisa melawan. Abigail, wanita yang sepuluh tahun lebih tua dariku, dengan tubuh tinggi semampai ebony yang matang dan kuat, selalu mulai dengan menggendongku ke ranjang seperti bayi. “Waktunya tidur, Tuan Muda,” katanya manja, meski aku sudah dewasa. Lalu ia buka bajuku satu per satu, mengikat tanganku ke tiang ranjang, dan mulai memainkan tubuhku dengan bibir tebalnya yang lembab, tangan gelap yang kuat, jari-jari panjang yang lincah, dan tentu saja—rambut kepang tunggalnya yang tebal dan panjang seperti ular python hitam.
Kadang ia tertawa genit saat menindihku, tubuhnya yang berat menekan tubuhku ke kasur. “Tuan Muda mau merasakan seperti apa dicambuk? Mungkin dicambuk dengan rambut panjang tebal yang dikepang ini?” katanya suatu malam, kepangnya ia angkat tinggi-tinggi, mengayunkannya pelan di atas pantatku yang telanjang. Aku merasa takut—mengingat cambuk kulit di perkebunan dulu yang digunakan untuk menghukum budak—tapi juga penasaran. Sensasi apa yang akan kurasakan dari cambukan rambut kepangnya yang lembut tapi berat itu?
“Abby… jangan… aku takut,” gumamku, tapi penisku sudah menegang hanya karena bayangan itu.
Ia tertawa, suaranya dalam dan menggoda. “Belum saatnya, Tuan sayang. Nanti kalau kau lebih nakal lagi… aku cambuk kau sampai minta ampun. Tapi dengan rambutku ini… pasti enak, kan? Geli… dan bikin kelinci putihmu bangun.”
Ia tak pernah benar-benar melakukannya dulu—hanya ancaman genit yang membuatku gelisah sekaligus terangsang. Tapi selama tiga bulan ini, permainan lain sudah cukup untuk menaklukkanku. Bibir tebalnya menghisap putingku hingga memar, tangannya mengocok penisku dengan irama sempurna, jari-jarinya menyusup ke tempat-tempat sensitif yang tak pernah kutahu sebelumnya, dan rambut kepangnya—ah, rambut kepang itu selalu jadi bintang utama. Ia lilitkan di batangku untuk hairjob yang lambat dan menyiksa, atau gerakkan seperti ular di seluruh tubuhku hingga aku menggeliat geli dan memohon ejakulasi.
Aku sering mengamati saat ia mendominasiku—karena meski tubuhku tak berdaya, pikiranku masih bisa berpikir. Abigail tak pernah benar-benar menjauhkan tanganku dari vagina atau payudaranya saat aku tak terikat—kadang ia bahkan biarkan aku sentuh sebentar, merasakan kehangatan dan kelembaban di sana. Tapi satu hal yang pasti: ia tak pernah biarkan penisku masuk ke vaginanya. Selalu oral, hairjob, handjob, atau gesekan luar—tapi tak pernah penetrasi penuh. Seperti ada batas yang ia jaga sendiri, meski ia yang mendominasi.
Itu… kelemahannya, pikirku suatu hari saat ia tertidur di sampingku setelah ritual malam. Wanita negro kuat ini, yang bisa buat aku tak berdaya setiap malam, mungkin masih punya rahasia di sana—mungkin malu, mungkin tak siap, atau mungkin… masih perawan? Pikiran itu membuatku tersenyum kecil. Mungkin saatnya aku balas dendam—bukan dengan kekerasan, tapi dengan godaan yang sama seperti yang ia lakukan padaku selama ini.
Tapi itu nanti. Untuk sekarang, hidup baru ini—siang hari sebagai pekerja keras untuk kebun dan ternak kami, malam hari sebagai mainan Abigail—terasa sempurna dalam caranya yang aneh. Aku tak lagi tuan muda dari perkebunan megah, tapi aku punya Abigail… dan itu sudah lebih dari cukup.
Malam itu datang seperti biasa, dengan angin sepoi dari hutan pinus yang membawa aroma tanah basah dan daun kering. Api unggun kecil di perapian sudah menyala redup, menerangi kabin anyaman bambu kami dengan cahaya keemasan yang menari-nari di dinding. Aku baru saja selesai mandi di bak kayu kecil di belakang rumah—air sumur yang dingin membuat tubuhku segar setelah seharian mencangkul kebun dan memberi makan ayam. Tubuhku yang putih kini lebih berotot, kulitnya agak kecokelatan di bagian yang sering terpapar matahari, tapi masih halus seperti dulu di mata Abigail.
Aku masuk ke kabin dengan hanya celana panjang tipis, dada telanjang berkilau karena air yang belum kering sempurna. Abigail sudah menunggu di ranjang, duduk bersila dengan rok panjangnya yang longgar, blus tipis yang menegang di dada karena payudaranya yang besar. Rambut panjang tebalnya malam ini sudah dikepang satu rapat—kepang hitam legam yang tebal seperti ular python, panjangnya hingga melewati bokongnya saat ia berdiri, mengembang sedikit karena kelembaban udara malam.
“Selamat malam, Tuan Muda-ku,” katanya lembut, suaranya manja tapi penuh godaan, matanya yang cokelat dalam menatap tubuhku dari atas ke bawah seperti serigala yang lapar. “Capek ya hari ini? Kebun kita semakin bagus… ayam-ayam juga tambah gemuk. Kau hebat sekali sekarang.”
Aku tersenyum, mendekat ke ranjang. “Terima kasih, Abby. Semua berkat kau yang ajarin aku. Tanpa kau, aku sudah mati kelaparan di jalan dulu.”
Ia tertawa kecil, tangannya meraih lenganku dan menarikku ke ranjang dengan mudah—kekuatannya yang dari kerja bertahun-tahun masih jauh di atasku. “Sudahlah, Tuan. Malam ini waktunya istirahat… istirahat dengan cara aku.” Ia menggendongku sebentar seperti bayi, tubuhku yang lebih berat sekarang masih terasa ringan baginya, lalu menurunkanku telentang di kasur jerami yang empuk.
Seperti ritual biasa, ia mulai membuka celanaku perlahan, jari-jarinya yang gelap menyentuh kulit pahaku yang putih hingga aku menggeliat. “Abby… malam ini apa lagi?” tanyaku, suaraku sudah bergetar karena antisipasi.
Ia tersenyum nakal, melepas celanaku sepenuhnya hingga aku telanjang bulat di depannya. Penisku sudah setengah tegang hanya karena tatapannya. “Malam ini… aku mau coba sesuatu yang kau takutkan dulu, Tuan sayang.” Ia mengangkat kepang rambutnya yang tebal itu tinggi-tinggi, memegangnya seperti cambuk, mengayunkannya pelan di udara hingga berdesir. “Ingat kan candaanku? Tuan Muda mau merasakan dicambuk seperti budak dulu?”
Aku menelan ludah, tubuhku menegang—takut tapi juga penasaran. “Abby… jangan serius… aku… aku takut sakit.”
Ia tertawa lagi, suaranya dalam dan menggoda, tubuhnya naik ke ranjang dan menindihku pelan, payudaranya yang besar menekan dadaku. “Tenang, Tuan. Ini bukan cambuk kulit kasar seperti di perkebunan dulu. Ini cambuk dari rambutku… rambut yang kau suka obsesi ini. Pasti enak… geli, mungkin. Balik dulu, Tuan Muda. Tunjukkan pantat putihmu yang mulus itu.”
Aku ragu sebentar, tapi patuh—tubuhku telungkup, pantatku yang bulat dan putih terangkat sedikit karena posisi. Abigail berlutut di belakangku, tangannya mengusap pantatku pelan dulu, jari-jarinya menyentuh celah hingga aku mendesah. “Indah sekali, Tuan… pantat putih ini masih seperti bayi besar.”
Lalu, tanpa peringatan lagi, ia mengayunkan kepang itu—cambukan pertama mendarat di pantatku dengan suara “plak” pelan. Sensasinya… ya Tuhan, tak sakit seperti yang kubayangkan. Kepang tebal itu berat, anyamannya rapat menyentuh kulitku seperti sikat lembut tapi kuat, helai-helai rambut menjuntai menyapu pantatku setelah benturan, meninggalkan rasa geli yang luar biasa—like ribuan bulu halus yang menggelitik sekaligus.
“Ahh! Abby… hihihi… geli!” aku tertawa tak terkendali, tubuhku menggeliat, pantatku terangkat sendiri mencari lebih.
Ia tertawa lepas, suaranya penuh kemenangan. “Lihat, Tuan! Tak sakit kan? Malah geli… dan lihat kelinci putihmu sudah bangun!” Ia cambuk lagi—beberapa kali pelan, kepang itu mendarat di pantatku, paha belakangku, bahkan sesekali menyapu bola zakarku yang menggantung. Setiap cambukan membuat rasa geli menyebar ke seluruh tubuhku, penisku menegang keras, berdenyut-denyut di bawah perutku.
“Abby… ampun… hahaha… ahh… enak… geli sekali!” rintihku campur tertawa, pinggulku bergoyang sendiri.
“Enak ya, Tuan nakal?” katanya sambil terus mencambuk pelan, kepang itu seperti cambuk sutra yang hidup. “Ini hukuman karena kau sering nakal dulu… mengintip rambutku malam-malam. Sekarang rambutku yang hukum kau!”
Selama tiga bulan ini, permainan seperti ini semakin intens. Abigail tak pernah bosan menaklukkan tubuhku dengan segala cara: bibir tebalnya menghisap penisku hingga aku ejakulasi di mulutnya, menelan setiap tetes sambil bilang “manis seperti yogurt putih”; tangannya yang kuat mengocok batangku dengan irama sempurna, ibu jarinya memutar kepala hingga aku memohon ampun; jari-jarinya yang panjang menyusup ke pantatku, mencari titik sensitif yang membuatku merintih seperti wanita; dan rambut kepangnya—selalu rambut kepang itu—dililitkan di penisku untuk hairjob lambat yang menyiksa, atau digerakkan seperti ular di seluruh tubuhku hingga aku menggeliat tak berdaya.
“Tuan Muda suka rambutku ya?” tanyanya hampir setiap malam, kepang itu melilit batangku erat, naik-turun pelan hingga aku hampir ejakulasi. “Rambut negro tebal ini… yang kau intip dulu… sekarang melilit kelinci putihmu setiap malam.”
“Ya… Abby… aku suka… obsesi aku…” aku selalu akui, tubuhku menyerah sepenuhnya.
Tapi di balik semua itu, aku semakin yakin: ada kelemahan di dirinya. Meski ia mendominasi, ia tak pernah biarkan aku masuk ke vaginanya—selalu hindari, alihkan dengan mulut atau rambutnya. Payudaranya boleh kusentuh, bahkan susui, tapi bagian bawah itu seperti batas suci yang ia jaga. Mungkin ia takut, mungkin malu, atau mungkin… masih tak tersentuh.
Malam cambukan rambut itu berakhir dengan hairjob panjang—kepang tebal itu melilit penisku hingga aku ejakulasi deras ke perutku sendiri, Abigail menjilat bersih sambil tertawa. Aku tertidur lemas di pelukannya, tapi di pikiranku, rencana balas dendam mulai terbentuk. Besok malam, saat makan malam… aku akan mulai.
Malam itu terasa berbeda. Udara di kabin lebih hangat dari biasanya, mungkin karena api unggun yang Abigail nyalakan lebih besar untuk memasak makan malam kami—kelinci panggang dengan ubi jalar rebus dan sayur kacang panjang segar dari kebun. Aroma daging yang gurih bercampur rempah herbal yang Abigail tambahkan membuat perutku keroncongan, tapi pikiranku sibuk dengan rencana yang sudah kubuat sejak pagi.
Selama tiga bulan ini, aku sudah terlalu sering jadi mainan Abigail di malam hari. Tubuhku yang putih ini sudah terlalu sering ditandai cupangan, dicambuk geli dengan kepang rambutnya, dihairjob hingga ejakulasi berkali-kali. Tapi aku sadar—ada kelemahannya. Ia tak pernah biarkan aku masuk ke dalamnya. Vaginanya seperti benteng terakhir yang ia jaga rapat, meski ia biarkan aku sentuh payudaranya atau paha dalamnya sesekali. Malam ini, aku akan coba bobol benteng itu. Bukan dengan paksa, tapi dengan godaan yang sama seperti yang ia lakukan padaku—perlahan, menyiksa, hingga ia tak tahan.
Kami duduk di meja kecil kayu, berhadapan seperti biasa. Cahaya lilin tebal di tengah meja menerangi wajah Abigail yang cantik ebony itu—kulit gelapnya mengkilap lembut, mata cokelat dalamnya menatapku penuh kasih, bibir tebalnya melengkung saat ia menyendokkan potongan kelinci ke piringku.
“Makan banyak ya, Tuan Muda,” katanya lembut, suaranya manja seperti selalu. “Kau kerja keras hari ini di kebun. Lihat, ototmu semakin tebal… aku suka pegang nanti malam.”
Aku tersenyum, pura-pura malu-malu sambil mengunyah daging yang empuk itu. “Enak sekali, Abby. Kau semakin pintar masak. Kelinci ini renyah di luar, lembut di dalam… seperti kau.”
Ia tertawa kecil, tangannya menyentuh tanganku di atas meja. “Nakal ya Tuan malam ini. Nanti aku hukum lagi dengan rambutku… mau dicambuk pantat lagi seperti kemarin?”
Penisku langsung bereaksi di balik celana tipis, mengingat cambukan geli malam sebelumnya. “Abby… jangan ingetin… aku masih ingat rasa gelinya.”
Kami makan sambil bercanda ringan—dia cerita tentang ayam yang mulai bertelur lebih banyak, aku cerita tentang tomat yang mulai merah di kebun. Tapi di pikiranku, rencana berputar. Aku pura-pura nikmati makanan, mengunyah pelan, tapi tanganku diam-diam menggenggam sendok lebih longgar.
Saat Abigail sibuk mengunyah ubi jalar, aku sengaja lepaskan sendokku—jatuh dengan suara “klenting” kecil ke kolong meja.
“Oh gawat, sendoknya jatuh,” kataku pura-pura kaget, suaraku polos. “Biar aku ambil, Abby.”
Ia mengangguk sambil terus makan. “Hati-hati ya, Tuan. Gelap di bawah sana.”
Aku tersenyum dalam hati. Gelap justru yang aku butuhkan. Aku turun dari kursi, merangkak masuk ke kolong meja yang sempit—meja kayu kecil kami cukup rendah hingga aku harus merunduk dalam. Di dalam sana, hangat dan gelap, aroma makanan bercampur aroma tubuh Abigail yang duduk tepat di depanku. Rok panjangnya yang longgar menggantung, menyentuh lantai, tapi cukup longgar untuk aku masuk.
Aku merangkak pelan, seperti predator kecil yang mendekati mangsa besar. Paha Abigail yang tebal dan gelap ebony itu terlihat samar di kegelapan—kulitnya halus mengkilap, hangatnya terpancar hingga aku merasakan sebelum menyentuh. Aku dekati lebih dekat, hidungku hampir menyentuh roknya.
“Abby… sendoknya agak jauh nih,” kataku dari bawah, suaraku pura-pura mencari.
“Ambil saja pelan-pelan, Tuan,” jawabnya santai, masih makan.
Aku tak ambil sendok itu. Malah aku angkat roknya perlahan dari bawah, masuk ke dalamnya seperti masuk ke gua hangat yang gelap. Di dalam sini… ya Tuhan, baunya memabukkan. Aroma kayu manis yang selalu melekat pada tubuhnya lebih kuat, bercampur aroma keringat ringan seharian dan sesuatu yang lebih dalam—aroma wanita yang terangsang samar. Paha dalamnya yang tebal dan gelap itu terbuka sedikit karena posisi duduknya, hangatnya seperti tungku yang menyambutku.
Aku mulai dengan ciuman pelan di paha kirinya—bibirku menyentuh kulit ebony yang halus itu, lembut seperti sutra tapi hangat. Lalu jilatan kecil, lidahku menyapu kulitnya dari bawah ke atas.
Abigail langsung menegang—aku rasakan pahanya bergetar. “Tuan… apa yang tuan lakukan di bawah sana?” tanyanya, suaranya masih tenang tapi sudah ada nada terkejut.
Aku tak jawab. Malah aku terus—cium lagi, lebih dalam, lalu cupangan kecil di paha dalamnya yang gelap, meninggalkan bekas merah tipis seperti yang sering ia lakukan padaku. Balas dendam dimulai: aku hisap kulitnya pelan, lidahku menjilat garis-garis otot pahanya yang tebal, naik lebih tinggi ke selangkangan.
“Ahh… Tuan… jangan… itu… sendoknya aja ambil…” desahnya, suaranya mulai bergetar, tapi ia tak geser kursinya—malah pahanya terbuka sedikit lebih lebar, seperti tak sadar.
Aku tersenyum dalam gelap. Aku terus naik, hidungku menyentuh celana dalamnya yang tipis—basah sudah, aroma wanita yang kuat membuat penisku menegang keras di celana. Aku endus-endus pelan, seperti anjing yang haus, lalu cium celana dalam itu langsung, lidahku menyentuh kain yang basah.
“Abby… enak sekali di sini…” bisikku dari bawah, suaraku serak.
Ia mendesah keras sekarang, tangannya mungkin memegang meja. “Tuan… stop… ahh… aku… aku tak tahan…”
Aku tak peduli. Ini saatnya. Aku turunkan celana dalamnya pelan dengan gigi dan tangan, hingga terlepas ke pergelangan kakinya. Vaginanya yang gelap dan tebal itu terbuka di depanku—bibir luarnya penuh, basah mengkilap, aroma yang memabukkan membuatku gila.
Aku mulai jilat—lidahku menyapu bibir vaginanya dari bawah ke atas, mencicipi cairan manis-asin yang mulai keluar. Lalu cium dalam, hisap klitorisnya yang mulai membengkak.
“Ahh! Tuan… Theo… jangan… aku… aku mau…” jeritnya kecil, tubuhnya menggeliat di kursi.
Aku terus, lidahku masuk lebih dalam, memutar-mutar, hisap kuat hingga cairan vaginanya membanjiri mulutku. Abigail akhirnya tak tahan—tubuhnya menegang, ia jatuh ke belakang dari kursi, terbaring di lantai dengan rok tersingkap, napasnya tersengal, vagina berdenyut-denyut karena orgasme pertama yang kuberikan padanya.
Aku keluar dari kolong meja, berdiri di atasnya, tersenyum puas. Raksasa ebony ini… akhirnya tumbang juga di tanganku.
Abigail terbaring di lantai kayu kabin, tubuh tinggi semampainya yang ebony terkulai lemas, roknya tersingkap hingga pinggang, pahanya yang tebal terbuka lebar, celana dalamnya tergantung di pergelangan kaki. Napasnya tersengal hebat, dada naik-turun cepat hingga payudaranya yang besar bergoyang di balik blus tipis yang basah keringat. Matanya setengah terpejam, penuh kejutan dan kenikmatan yang baru saja ia rasakan untuk pertama kalinya dari mulutku.
Aku berdiri di atasnya, cahaya lilin di meja makan dan api unggun di belakangku membuat tubuhku seperti bersinar—kulit putihku yang berkeringat mengkilap seperti matahari kecil di kegelapan kabin. Penisku sudah menegang keras di balik celana tipis, menonjol jelas, siap untuk balas dendam yang lebih dalam.
Abigail menatapku dari bawah, mata cokelat dalamnya terbelalak terpukau. “Tuan… Theo… kau… kau baru saja…” suaranya lemah, tapi ada nada kagum di sana, seperti ratu yang baru saja melihat rakyatnya bangkit.
Aku tersenyum puas, tanganku mulai membuka kancing kemejaku satu per satu, perlahan, sengaja biarkan ia lihat. “Ya, Abby. Sekarang giliranku. Kau sudah mainkan aku selama tiga bulan… malam ini, aku yang mainkan kau.”
Kemejaku jatuh ke lantai, lalu celana panjangku—aku telanjang bulat sekarang, tubuhku yang lebih berotot karena kerja keras di kebun berdiri tegak di depannya, penisku yang putih dan tebal mengacung ke atas, kepalanya merah dan basah karena pra-ejakulasi. Cahaya di belakangku membuat siluetku seperti dewa kecil—kulit putihku bersinar kontras dengan lantai kayu gelap.
Abigail terpana, mulutnya terbuka sedikit, napasnya semakin cepat. “Tuan… tubuhmu… indah sekali… seperti… seperti matahari…”
Aku berlutut di atasnya, tanganku mulai membuka blusnya—kancing demi kancing, hingga payudaranya yang besar dan bulat terbuka bebas, puting cokelat gelapnya yang besar sudah mengeras. Lalu roknya kuturunkan sepenuhnya, bersama celana dalam yang sudah tergantung. Kini Abigail telanjang bulat di lantai—tubuh ebony matangnya yang tinggi semampai terpampang di depanku: kulit gelap mengkilap keringat, payudara besar yang naik-turun, perut rata dengan pusar kecil, dan vagina gelap yang masih basah berdenyut karena orgasme tadi.
Aku menindihnya pelan, tubuh putihku menekan tubuh gelapnya—kontras yang sempurna, seperti salju menutupi ebony. Aku mulai cium seluruh tubuhnya dengan penuh gairah—mulai dari leher, turun ke dada, perut, paha. Setiap ciuman kujilati pelan, bibirku meninggalkan jejak basah di kulit gelapnya.
“Coklat… coklat… coklat… coklat…” kataku berulang kali setiap kali bibirku menyentuh kulitnya, suaraku serak karena hasrat. “Tubuhmu ini… coklat enak yang aku mau makan semua malam ini.”
Abigail menggeliat di bawahku, tangannya memegang pundakku lemah. “Tuan… Theo… ahh… itu… enak… tapi… aku… aku tak biasa…”
Aku tak peduli. Lidahku menjilat perutnya yang rata, turun ke pinggul, lalu naik lagi ke payudaranya yang besar. Mataku tertuju pada puting hitamnya yang besar dan mengeras itu. “Aku ingin minum susu coklat,” kataku genit, meniru kata-katanya dulu saat ia biarkan aku susui payudaranya.
Aku langsung hisap puting kirinya—mulutku menelan areola gelap itu, lidahku memutar-mutar putingnya, kenyot pelan dulu lalu lebih kuat seperti bayi lapar. Abigail tertawa geli campur desah. “Theo… hihihi… geli… stop… ahh… jangan kenyot keras begitu!”
Tapi aku malah perkencang—kenyot lebih dalam, gigit pelan ujung putingnya, hisap kuat hingga payudaranya tertarik ke mulutku. Bergantian ke puting kanan, tanganku meremas payudara satunya yang lembut tapi berat.
“Ahh! Tuan… aku… aku mau lagi…” jeritnya kecil, tubuhnya melengkung, dan aku rasakan cairan vagina keluar lagi—basah deras di paha dalamnya, membanjiri lantai kayu.
Penisku sudah tak tahan—menegang keras, berdenyut di perutnya yang gelap. Aku posisikan diri di antara pahanya yang tebal, kepala penisku menyentuh bibir vagina gelapnya yang basah dan terbuka.
Abigail tersadar sebentar, matanya terbuka lebar, tangannya mendorong dadaku lemah. “Tuan… tunggu… aku… aku belum siap… jangan masuk…”
Aku tak peduli lagi. Hasratku sudah memuncak. “Akan kubuat dirimu jadi milikku sepenuhnya malam ini,” kataku tegas, suaraku dalam karena nafsu. Aku dorong pelan—kepala penisku masuk ke bibir vaginanya yang tebal dan hangat, merasakan kelembutan yang menyempit itu.
“Ahh! Theo… sakit… pelan…” jeritnya, wajahnya meringis, air mata menetes di pipinya yang gelap.
Aku dorong lebih dalam—penisku masuk perlahan, merasakan dinding vagina yang ketat dan panas melingkar erat di batangku. Tiba-tiba aku rasakan hambatan—lalu robek. Darah hangat menetes kecil di pangkal penisku, bercampur cairan vaginanya. Rupanya… Abigail masih perawan. Aku ambil keperawanannya malam ini.
Aku hendak cabut, takut sakiti dia lebih. “Abby… maaf… aku… aku tak tahu…”
Tapi tangannya memegang pinggulku, menahan. “Jangan cabut… selesaikan apa yang kamu mulai, Tuan,” katanya lirih, suaranya campur sakit tapi tegas, air matanya mengalir tapi matanya penuh cinta. “Aku… aku mau ini… dengan kau.”
Aku mengangguk, dorong lagi pelan hingga seluruh penisku masuk—vagina Abigail yang ketat dan panas menelan batang putihku sepenuhnya, dindingnya berdenyut melingkar erat seperti sarung tangan hidup. “Ahh… Abby… dalam sekali… hangat… ketat…” desahku, pinggulku mulai goyang pelan.
Abigail menjerit lagi—“Ahh! Tuan… sakit… tapi… lanjut… aku… aku tak kuat rasanya begini…”—tubuhnya menggeliat di bawahku, tapi pahanya melingkar di pinggangku, menahan aku masuk lebih dalam.
Aku goyang lebih cepat, penisku keluar-masuk vagina gelapnya yang basah, suara basah “plok… plok…” terdengar di kabin sunyi. Tanganku meremas payudaranya yang besar, memainkan putingnya sambil hujam lebih kuat.
“Tuan… Theo… ahh… aku… aku mau pecah…” jeritnya, air matanya mengalir tapi desahannya semakin liar.
Ini baru awal. Malam ini, aku akan taklukkan dia sepenuhnya—dengan segala posisi yang aku bayangkan selama tiga bulan ini.
Tubuh Abigail masih bergetar di bawahku, vagina gelapnya yang ketat dan panas melingkar erat di sekitar penisku yang baru saja merobek keperawanannya. Darah tipis bercampur cairan vaginanya membasahi pangkal batangku, membuat setiap gerakan terasa licin dan hangat. Aku goyang pinggulku pelan dulu, keluar-masuk perlahan agar ia terbiasa, tapi setiap hujaman membuatnya menjerit kecil—campur sakit dan kenikmatan yang baru ia rasakan.
“Ahh… Tuan… Theo… pelan… aku… aku tak kuat…” desahnya, air matanya mengalir di pipi gelapnya yang mengkilap keringat, tangannya memegang pundakku erat, kuku panjangnya mencengkeram kulit putihku hingga meninggalkan garis merah tipis.
Aku mencium bibir tebalnya pelan, menjilat air matanya. “Tenang, Abby… kau kuat… kau yang ajarin aku sabar selama ini,” bisikku di antara hujaman, penisku masuk lebih dalam hingga pangkal, bola zakarku menyentuh bibir vagina luarnya yang tebal. “Rasakan aku di dalammu… seperti kau selalu masukin jari atau rambutmu ke tubuhku.”
Ia mendesah lebih keras, pahanya melingkar di pinggangku, menarikku lebih dalam meski wajahnya masih meringis. “Theo… besar… panas… aku… aku penuh…”
Aku percepat irama—pinggulku maju-mundur mantap, penisku keluar-masuk vagina gelapnya dengan suara basah “plok… plok… plok…” yang semakin kencang. Tubuh putihku menindih tubuh ebony-nya sepenuhnya, kontras kulit kami seperti lukisan hitam-putih yang hidup. Payudaranya yang besar bergoyang hebat setiap hujaman, puting hitamnya bergesek dada ku.
Saat ia mulai terbiasa—desahannya berubah dari sakit jadi liar—aku tarik penisku perlahan, lalu balik tubuhnya. “Sekarang menunging, Abby… seperti bayi merangkak,” perintahku, suaraku dalam karena hasrat.
Ia patuh lemah, tubuhnya berlutut di lantai, pantat bulatnya yang gelap terangkat tinggi, vagina basahnya terbuka lebar di depanku, darah dan cairan menetes kecil ke lantai. Rambut kepang tebalnya yang panjang menggantung ke samping, seperti surai hitam pada kuda liar.
Aku berdiri di belakangnya, tanganku memegang pinggul lebarnya yang gelap, lalu hujamkan penisku lagi dari belakang—masuk dalam satu dorongan hingga pangkal.
“Ahh! Tuan… dalam sekali… dari belakang begini… aku… aku mau pecah!” jeritnya, kepalanya menengadah, rambut kepangnya bergoyang.
Aku maju-mundurkan tubuhku keras, penisku menghujam vagina ketatnya dari belakang, bola zakarku menampar pantatnya setiap dorongan. Tanganku meraih rambut kepang tebal itu—seperti tali sadel kuda—lalu tarik kuat hingga kepalanya menengadah lebih tinggi.
“Ya Tuhan… Theo… rambutku… jangan tarik keras… ahh!” jeritnya minta ampun, tapi vagina nya justru semakin ketat melingkar penisku.
Aku tertawa kecil, tangan kananku memegang kepang seperti tali kendali, tangan kiriku menampar pantat gelapnya yang bulat— “plak! plak!” suara tamparan terdengar nyaring di kabin.
“Aku lagi menaiki kuda stallion betina liar,” kataku genit, suaraku serak karena nafsu, hujamanku semakin kencang. “Kuda tinggi, berbulu coklat gelap, bersurai hitam panjang tebal… kuda yang galak tapi sekarang jinak di tanganku.”
“Plak!” tamparan lagi di pantat kirinya, meninggalkan bekas merah di kulit ebony. Abigail menjerit lagi—“Ampun, Tuan… aku… aku kuda mu… ahh… hujam lebih keras!”—tubuhnya goyang sendiri mengikuti irama, pantatnya mundur mencari penisku lebih dalam.
Aku tarik kepangnya lebih kuat, seperti menarik tali kendali, membuat tubuhnya melengkung indah. “Bagus, kuda ku… lari lebih cepat… vagina mu ini enak sekali melilit penisku.”
Kami terus begitu lama—hujaman demi hujaman, tamparan demi tamparan, tarikan kepang demi tarikan—hingga Abigail orgasme lagi, vagina nya berdenyut keras melingkar penisku, cairannya menyemprot keluar membasahi pahaku.
Aku tak ejakulasi dulu—aku ganti posisi lagi. Aku berbaring telentang di lantai, tarik tubuhnya naik. “Sekarang kau di atas, Abby… duduk di selangkanganku, membelakangiku.”
Ia patuh, tubuhnya naik dengan lemas, vagina basahnya menelan penisku lagi saat ia duduk membelakang—pantat gelapnya yang bulat menghadapku, rambut kepang tebalnya menggantung ke belakang seperti surai panjang.
Aku tarik kepang itu lagi dari belakang, seperti pegang kepala ular. “Untuk menaklukkan seekor ular,” kataku serak, tanganku ulur-tarik kepang seiring gerakan naik-turun tubuhnya yang mulai goyang sendiri. “Harus dipegang bagian kepalanya… biar badannya ikut kita.”
“Ahh… Theo… rambutku… lagi… aku… aku naik turun lebih cepat ya…” desahnya, tubuhnya goyang liar, vagina nya naik-turun di penisku dengan irama gila, payudaranya bergoyang hebat di depan.
Aku tarik kepangnya kuat-kuat, ulur pelan-pelan, seperti memainkan tali boneka. “Ya… ular sanca hitamku… sekarang melilit kelinci putih dari atas… tapi kelinci yang kendali sekarang.”
Di tengah desahan kami yang semakin liar, aku bertanya, suaraku terputus-putus karena hujaman vagina nya yang dalam. “Abby… apa kamu mau kembali jadi budakku lagi?”
Ia tak langsung jawab—hanya desah keras, tubuhnya goyang lebih cepat. “Ahh… Tuan… aku… aku…”
“Aku tak akan jual kau… tak akan cambuk kau kasar… tak akan tinggalkan kau sendirian,” lanjutku, tanganku tampar pantatnya lagi dari bawah.
Abigail akhirnya bicara di antara jeritan—“Apa… apa Tuan mau jadi budakku juga? Aku… aku akan masak enak setiap hari… layani Tuan setiap saat… asalkan aku bisa nikmati kulit putihmu yang indah ini…”
Aku tarik kepangnya lebih kuat, hujam pinggulku dari bawah hingga penisku masuk paling dalam. “Kalau begitu… kita bukan lagi tuan dan budak… kita suami istri, Abby.”
Ia terkejut—tubuhnya menegang, vagina nya melingkar lebih erat. “Tapi Tuan… apa kau yakin punya anak dari rahimku? Anak campuran… kulitnya tak putih murni…”
Aku goyang lebih keras, tanganku meremas pantatnya. “Aku ingin anakku secantik dan sekuat dirimu… tak peduli warna kulitnya. Aku sudah tak peduli lagi dengan ras… aku cinta kau, Abby… sepenuhnya.”
Kata-kata itu membuatnya menjerit panjang—orgasme lagi, vagina nya berdenyut gila-gilaan. Aku tak tahan lagi—penisku memuncrat deras di dalam rahmnya, sperma panas putihku membanjiri vagina gelapnya, bercampur darah keperawanan dan cairannya.
“Ahh… Theo… dalam… panas… aku… aku penuh sperma Tuan…” jeritnya lemas, tubuhnya ambruk ke depan.
Kami berdua terengah-engah, penisku masih di dalamnya, berdenyut sisa ejakulasi. Malam ini baru separuh—aku tahu aku belum puas, dan Abigail, meski lemas, matanya masih penuh hasrat saat menoleh ke belakang.
Aku terengah-engah di atas tubuh Abigail yang terbaring lemas di lantai kayu kabin, penisku masih berdenyut di dalam vagina gelapnya yang panas dan basah, sisa sperma putihku yang baru saja kumuncratkan deras membanjiri rahimnya. Tubuh ebony-nya yang tinggi semampai itu menggigil kecil karena orgasme berulang yang kuberikan malam ini, payudaranya yang besar naik-turun cepat, puting hitamnya yang besar masih mengeras dan basah karena air liurku tadi. Rambut kepang tebalnya yang panjang terurai ke samping lantai seperti sungai hitam legam yang mengalir, ujungnya menyentuh kakiku yang putih.
Abigail menoleh ke belakang lemah, matanya yang cokelat dalam setengah terpejam, penuh kenikmatan dan kelelahan. “Theo… Tuan… kau… kau sudah isi aku penuh… panas sekali di dalam…” desahnya lirih, suaranya serak karena jeritan tadi, tangannya meraih tanganku yang memegang pinggulnya.
Aku tarik penisku perlahan dari vagina nya—suara basah “plop” kecil terdengar saat kepala penisku keluar, diikuti aliran sperma putih kental bercampur darah keperawanan dan cairan vaginanya yang menetes ke lantai. Penisku masih setengah tegang, berkilau basah oleh campuran itu, berdenyut seperti belum puas.
“Belum selesai, Abby,” kataku serak, suaraku penuh hasrat yang masih membara. Aku bangkit pelan, tubuh putihku yang berkeringat berdiri di atasnya lagi, penisku mengacung ke atas tepat di depan wajahnya yang terkulai. “Kau sudah tandai tubuhku berkali-kali dengan rambutmu… cupanganmu… cambukanmu… sekarang giliranku tandai tubuhmu dengan cara yang sama.”
Abigail tersenyum lemah, matanya melirik penisku yang masih keras itu. “Tuan… kau… mau apa lagi… aku sudah lemas…”
Aku berlutut di atas kepalanya, posisikan tubuhku sehingga penisku tepat di atas wajahnya yang cantik ebony. Lalu aku raih rambut kepang tebalnya yang panjang itu—seperti ular python hitam yang lelah setelah bertarung—dan mulai lilitkan di sekitar penisku yang basah.
Sensasinya langsung membuatku mendesah keras—“Ahh… Abby… rambutmu ini… masih enak seperti biasa…” Kepang tebal itu berat dan lembut, anyamannya rapat membelit batangku dari pangkal hingga kepala, helai-helai rambut yang longgar menyapu bola zakarku seperti ribuan jari halus. Cairan vagina dan sperma yang masih menempel di penisku membuat kepang itu licin, mengkilap hitam basah.
Abigail hanya bisa menatap dari bawah, mata sayunya menyaksikan bagaimana aku “memperkosa” ular python berbentuk rambut kepangnya itu. “Theo… Theo… Theo…” panggilnya lemas berulang kali, suaranya seperti mantra, tangannya meraih kakiku lemah, mencoba pegang tapi tak kuat.
Aku mulai kocok—tangan ku memandu kepang itu naik-turun di penisku, irama lambat dulu lalu semakin cepat. “Dahulu kau yang tandai tubuhku dengan rambut ini… hairjob setiap malam sampai aku muncrat… sekarang aku tandai tubuhmu dengan cara sama,” kataku serak, hujaman tanganku semakin kencang, kepang tebal itu menggesek batangku dengan tekstur yang sempurna—kasar sedikit di anyaman, halus di helai-helai, basah dan hangat karena cairan kami.
“Ahh… Abby… rambutmu… ular sancamu ini… enak sekali melilit penisku lagi…” desahku, pinggulku goyang sendiri mengikuti irama.
Abigail mendesah lemah dari bawah, “Theo… rambutku… kau… kau perkosa rambutku… ahh… panas… aku lihat kelinci putihmu lagi bangun…”
Aku kocok lebih cepat—kepang itu seperti sarung tangan hidup yang tebal, melilit erat, mengocok dari pangkal hingga ujung, kepala penisku muncul-hilang di anyaman hitam itu. Tekanan semakin kuat, bola zakarku menegang lagi.
“Abby… aku mau muncrat lagi… ke tubuhmu… ke coklat enak ini…” rintihku.
Ia hanya mengangguk lemah, mata sayunya tak lepas dari pemandangan itu. “Muncrat saja, Tuan… tandai aku… seperti aku tandai kau dulu…”
Aku tak tahan lagi—penisku berdenyut gila, lalu muncrat deras: semburan demi semburan sperma putih kental yang panas menyemprot ke seluruh tubuh Abigail yang terbaring. Ke wajahnya yang cantik ebony—pipi, bibir tebal, hidung; ke payudaranya yang besar—melumuri puting hitamnya; ke perut rata, pinggul, hingga vagina gelapnya yang masih terbuka basah. Tubuh coklat gelapnya kini dipenuhi cairan putihku—like kue coklat yang dilumuri krim vanila tebal dan belepotan.
“Aku suka kue coklat yang dilumuri krim vanila seperti ini,” kataku genit sambil terengah, tanganku masih memegang kepang yang basah sperma, penisku berdenyut sisa muncratan.
Abigail tersenyum lemah, tangannya menyentuh sperma di payudaranya, mengusap pelan. “Tuan… kau… kau buat aku penuh krim… manis sekali…”
Aku jatuh ke sampingnya, tubuhku ambruk di lantai kayu yang dingin, napasku tersengal hebat. Abigail merangkak pelan, memelukku dari samping, tubuh gelapnya yang belepotan sperma menempel ke tubuh putihku yang basah keringat. Rambut kepangnya yang basah ia letakkan di atas dada ku lagi, seperti selimut hitam yang lelah.
“Kita… tidur di lantai saja malam ini, Theo,” bisiknya manja, mencium pipiku yang basah sperma sendiri. “Terlalu lemas untuk pindah ke ranjang…”
Aku mengangguk, memeluknya erat, tanganku menyentuh kepang basah itu lagi—obsesiku yang tak pernah pudar. “Ya, Abby… tidur saja begini… suami istri kita sekarang… di lantai pun enak, asal dengan kau.”
Kami tertidur pulas di lantai kabin yang dingin—tubuh hitam-putih saling lilit, belepotan sperma dan keringat, rambut kepang tebalnya menyelimuti kami seperti janji abadi. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar setara dengannya—bukan tuan atau budak, tapi pasangan yang saling taklukkan dan saling miliki.
Pagi datang dengan lembut, seperti cahaya matahari yang menyusup pelan melalui celah-celah anyaman bambu kabin kami. Ayam jantan sudah berkokok beberapa kali, tapi aku dan Abigail masih terbaring di lantai kayu yang dingin malam tadi—tubuh kami saling lilit, belepotan keringat, sperma, dan cairan vagina yang sudah mengering menjadi kerak tipis di kulit kami. Aroma seks malam tadi masih kuat di udara: manis-asin spermaku bercampur kayu manis dari tubuh Abigail, plus bau darah keperawanan tipis yang sudah menguap.
Aku bangun lebih dulu, tubuhku pegal-pegal tapi penuh kepuasan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Abigail masih tidur pulas di sampingku, tubuh ebony matangnya yang telanjang terpampang indah di lantai—payudaranya yang besar naik-turun pelan karena napas teratur, perut rata dengan pusar kecil yang menggemaskan, dan vagina gelapnya yang masih sedikit terbuka, belepotan sperma putihku yang mengering di bibir luarnya dan paha dalamnya. Rambut kepang tebalnya yang panjang terurai ke mana-mana, seperti sungai hitam yang lelah setelah banjir besar malam tadi.
Aku tersenyum melihatnya—wanita yang selama ini mendominasi aku, kini terbaring lemas karena aku yang taklukkan semalam. “Abby… bangun, sayang,” bisikku lembut sambil mencium keningnya yang gelap.
Ia menggeliat pelan, matanya terbuka setengah, senyuman manja langsung muncul di bibir tebalnya. “Theo… Tuan… pagi… tubuhku… pegal semua… kau ganas sekali malam tadi,” katanya serak, tangannya meraih tanganku dan menciumnya pelan.
Aku tertawa kecil, bangkit dan angkat tubuhnya yang berat itu dengan mudah—ototku yang baru terbentuk karena kerja keras akhir-akhir ini berguna juga. “Biar aku mandikan kau pagi ini, Abby. Kau kotor sekali… penuh krim vanila dari aku.”
Ia tertawa manja, biarkan aku gendong seperti pengantin baru ke bak mandi kayu kecil di belakang kabin. Air sumur yang aku ambil tadi pagi sudah kuning hangat karena matahari, aku turunkan Abigail perlahan ke dalamnya—tubuh ebony matangnya terendam hingga dada, payudaranya yang besar mengapung sedikit di permukaan air, puting hitamnya mengkilap basah.
Aku ambil sabun herbal buatan Abigail sendiri, mulai menyikat tubuhnya pelan—dari leher, turun ke dada, menggosok payudaranya yang besar dengan lembut, jari-ku memutar putingnya hingga ia mendesah kecil. “Theo… ahh… pagi-pagi sudah nakal…”
“Kau yang ajarin aku nakal, Abby,” kataku genit, tanganku turun ke perut, pinggul, lalu paha dalamnya—membersihkan sisa sperma dan darah yang mengering di sana. Vagina gelapnya yang masih sedikit bengkak aku gosok pelan, jari-ku menyentuh bibir luarnya hingga ia menggeliat.
“Pelan, Tuan… masih sakit sedikit… tapi… enak juga,” desahnya, tangannya membelai kepalaku dari atas.
Lalu aku lihat rambutnya—masih dikepang satu, tapi kusut dan belepotan sperma di beberapa bagian karena hairjob malam tadi. “Rambutmu juga kotor, Abby. Biar aku keramasin.”
Ia tersenyum manja, duduk lebih tegak di bak. “Ya, Theo… keramasin rambut panjangku ini. Rambut yang kau suka obsesi… yang malam tadi kau perkosa dengan penismu.”
Aku buka kepangnya pelan—helai demi helai hitam legam yang tebal tergerai bebas, panjang hingga lututnya meski ia duduk. Rambut itu mengembang lebar di air, seperti air terjun sutra hitam yang basah. Aku gelung dulu menjadi sanggul besar di atas kepalanya agar mudah dikeramas, tapi beberapa helai tetap menjuntai ke payudaranya.
Aku ambil air, siram pelan ke sanggul itu, lalu gosok dengan sabun—busa putih muncul di rambut hitam tebalnya, membersihkan sisa sperma yang mengering. Sensasi rambut basah itu di tanganku… ya Tuhan, selalu membuat penisku bereaksi. Tonjolan di celanaku mulai terasa, menegang pelan.
Abigail perhatikan, matanya melirik ke bawah. “Theo… lihat… penismu sudah bangun lagi ya? Hanya keramas rambutku saja sudah begitu?”
Aku tersenyum, terus gosok sanggul besar itu. “Rambutmu ini… obsesiku sejak kecil, Abby. Basah begini… tebal… lembut… selalu bikin aku gila.”
Baru lima menit aku keramas, penisku sudah menegang keras di celana, menonjol jelas. Abigail tersenyum nakal. “Besok Theo aku sunat ya, biar gak nakal kaya gini lagi tiap lihat rambutku,” candanya tiba-tiba, suaranya genit.
Aku kaget, tanganku berhenti. “Apa?! Abby… jangan canda gitu… aku takut!”
Ia tertawa lepas, tangannya memegang tanganku yang di rambutnya. “Aku cuma bercanda kok, Theo sayang. Sini mas… masukan penisnya ke dalam mulutku. Biar aku hisap pagi ini… sebagai hadiah karena kau mandikan aku begini manis.”
Aku tak bisa tolak. Aku berdiri di samping bak, turunkan celanaku—penisku yang sudah keras terloncat bebas, kepalanya merah dan basah pra-ejakulasi. Abigail duduk lebih tinggi di bak, air menetes dari tubuhnya, lalu mulut tebalnya yang gelap membuka—menelan penisku perlahan hingga pangkal.
“Ahh… Abby… mulutmu… hangat… tebal sekali…” desahku, tanganku memegang sanggul besarnya yang basah busa.
Ia hisap kuat—bibir tebalnya melingkar erat di batangku, lidah panjangnya yang licin memainkan pangkal dan bola zakarku, menghisap dengan irama dalam dan basah “slurp… slurp…” yang terdengar nyaring di pagi sunyi. Rambut sanggulnya yang basah menyentuh pahaku setiap kali kepalanya naik-turun.
“Abby… lebih kuat… hisap seperti malam tadi…” mohonku, pinggulku goyang pelan mendorong lebih dalam ke mulutnya.
Ia patuh—hisap lebih kuat, mulutnya seperti vakum hangat, lidahnya memutar kepala penisku hingga aku merintih keras. Tak lama, aku muncrat lagi—sperma panas putihku menyemprot deras ke dalam mulutnya, ia telan sebagian, biarkan sisa belepotan di bibir tebalnya.
Ia lepas pelan, menjilat sisa sperma di bibirnya. “Manis seperti biasa, Theo… yogurt putih dari suamiku.”
Aku jatuh berlutut di samping bak, memeluknya erat, mencium bibirnya yang masih basah sperma. “Abby… kau istriku sekarang… selamanya. Rambutmu, tubuhmu, semuanya milikku… dan aku milikmu.”
Ia tersenyum bahagia, tangannya membelai kepalaku. “Ya, Theo… suami istri kita. Di hutan ini, tak ada yang peduli ras kita. Hanya cinta kita… dan ritual kita setiap hari.”
Kami tertawa bersama, air bak berdesir saat ia peluk aku balik. Pagi itu, di bak mandi kecil kami, aku tahu: hidup baru ini—penuh kerja keras siang hari dan gairah malam hari—adalah surga kami sendiri.
.jpeg)

Comments
Post a Comment