CAMBUK ZAITUN BAB 3: PEMUDA DARI KOTA


Hanya pemuda itu yang mampu menjinakan ular naga milik pendekar wanita ini


April 1899. Udara di Shaonu Ta sudah mulai hangat, angin laut selatan membawa aroma bunga liar yang mekar di lereng bukit dan garam dari ombak yang memecah karang di pantai. Dua bulan sudah berlalu sejak duel sengitku dengan Kumi Ayaka di hutan bambu itu. Reputasi Ular Naga-ku semakin menyebar ke desa-desa tetangga, bahkan sampai ke kota pelabuhan Feshua yang tak terlalu jauh dari sini. Orang-orang kini tak hanya berbisik tentang cambukan rambutku yang membuat Gang Ho menjerit, tapi juga tentang bagaimana aku potong chonmage seorang samurai wanita dari Jepang dengan wakizashi-nya sendiri.

Aku masih hidup sendirian di gubuk kecil warisan ibu, menghadap laut yang kini lebih tenang. Setiap pagi aku bangun sebelum fajar, mandi di sungai kecil belakang desa, lalu latih Bajiquan dan Ular Naga di pantai atau di hutan bambu. Rambutku semakin panjang sedikit—hampir 1,7 meter sekarang—tebal, hitam berkilau, dan aku rawat dengan teliti setiap malam: sisir seratus kali dengan sisir kayu ibu, oles minyak zaitun yang kini kubuat sendiri dari buah-buah liar di hutan dekat desa, resep warisan yang ibu ajarkan sejak kecil.


Tapi ada satu benda yang selalu membuatku tersenyum setiap kali aku lihat: trofi dari duel itu. Cepol chonmage Ayaka. Aku simpan rapi di dalam kotak kayu kecil di sudut gubuk, di atas rak bambu sederhana. Setiap beberapa hari, aku keluarkan, elus perlahan permukaannya yang masih halus dan tebal, rasakan tekstur rambut hitam pekat yang dulu menjadi kehormatan seorang samurai wanita. Aku olesi juga dengan sedikit minyak zaitun agar tetap harum dan tak kusut—seolah masih hidup, seolah masih bagian dari Ayaka yang kini mungkin sudah pulang ke Jepang dengan rambut pendek acak-acakan.


“Rambutmu indah sekali, Ayaka,” gumamku sendirian saat aku pegang cepol itu malam-malam, di bawah cahaya lampu minyak yang redup. “Kau pasti sedang menumbuhkannya lagi sekarang. Suatu hari… kita bertemu ulang, ya?”


Hidupku tenang, tapi tak sepenuhnya. Sejak duel dengan Gang Ho, lalu semakin jelas setelah pertarungan Ayaka, aku rasakan ada tatapan yang selalu mengawasi dari kejauhan. Bukan tatapan musuh—bukan seperti Gang Ho yang penuh dendam atau Ayaka yang penuh tantangan. Ini tatapan… lain. Diam-diam, tersembunyi, tapi tak pernah lepas.


Pemuda itu.


Aku sudah sering lihat sekilas bayangannya: di pinggir kerumunan saat aku latihan di pantai, di balik pohon saat aku di hutan bambu, bahkan di pasar kecil desa saat aku belanja beras dan ikan asin. Selalu sama—pemuda berpakaian Barat aneh untuk Shaonu Ta: kemeja lengan panjang putih atau abu-abu, celana panjang kain hitam, topi baret miring di kepala seperti orang-orang Eropa yang kulihat di gambar pedagang asing. Usianya lebih muda dariku, mungkin 22 tahun, tubuh ramping, gerakannya lincah tapi tak seperti pendekar. Dan selalu, tangannya memegang buku sketsa kecil dan pensil, seolah sedang menggambar sesuatu dengan cepat sebelum kabur saat aku hampir pergoki.


Awalnya aku abaikan—mungkin hanya orang kota yang penasaran dengan rumor pendekar wanita berambut cambuk. Tapi semakin lama, semakin sering. Saat aku cambuk karung pasir hingga robek di pantai, aku rasakan tatapannya dari balik batu karang. Saat aku duel Ayaka di hutan bambu, aku yakin dia ada di sana, mengintip dari atas pohon atau semak tebal, pensilnya bergerak cepat di kertas.


“Siapa kau sebenarnya?” gumamku suatu malam saat aku duduk di teras gubuk, menyisir kepangku yang tergerai panjang di pangkuanku. Angin laut meniup rambutku hingga bergoyang pelan, dan aku rasakan lagi—tatapan itu dari kejauhan, mungkin dari balik pohon kelapa di lereng bukit.


Aku tak marah. Malah… penasaran. Di akhir dinasti Qing ini, orang-orang dari kota besar seperti Feshua atau bahkan Shanghai semakin banyak datang ke desa kecil seperti Shaonu Ta—pelajar yang belajar ilmu Barat, pelukis yang cari inspirasi, atau pemuda kaya yang bosan dengan kehidupan kota. Tapi pemuda ini… obsesinya terasa berbeda. Bukan pada kungfu-ku, bukan pada wajahku—tapi pada rambutku. Aku sering lihat matanya tertuju pada kepang Ular Naga-ku saat aku latihan, seolah terhipnotis oleh gerakannya yang seperti cambuk hidup.

Pagi itu, April 1899, matahari baru saja naik tinggi di ufuk timur, sinarnya menyusup melalui celah-celah batang bambu tinggi di hutan sebelah timur Shaonu Ta. Udara masih segar, bercampur aroma getah bambu yang baru retak dan tanah basah sisa hujan semalam. Aku memilih tempat ini sengaja—lapangan kecil yang sama di mana aku duel sengit dengan Ayaka dua bulan lalu. Rumput di sini sudah tumbuh lebih tinggi, daun-daun kering berguguran seperti karpet alami, dan angin musim semi membuat batang-batang bambu bergoyang pelan, menciptakan suara gesekan yang seperti bisikan rahasia.


Aku datang sendirian, mengenakan jubah biru tua longgar yang sudah usang tapi nyaman untuk gerak bebas. Kepang Ular Naga-ku tergantung panjang di punggungku, ujungnya hampir menyapu tanah saat aku berjalan. Aku sudah olesi minyak zaitun pagi ini, jadi rambutku hitam berkilau sempurna, tebal, dan harum samar seperti buah liar yang ibu ajarkan resepnya.

Aku mulai latihan seperti biasa, tapi kali ini dengan sengaja lebih “menggoda”—aku tahu dia akan datang. Pertama, aku lakukan gerakan dasar Bajiquan: kuda-kuda rendah, pukulan siku pendek yang meledak ke udara kosong, tendangan rendah yang menyapu rumput hingga beterbangan, dan tangkisan cepat seolah lawan tak kasat mata menyerang dari segala arah. Napasku mulai hangat, keringat tipis muncul di leher dan punggungku, membuat jubahku menempel sedikit di kulit.

Lalu, aku pindah ke bagian favoritku—Ular Naga. Aku goyangkan kepalaku pelan dulu, membuat kepang tebal itu bergoyang seperti ular yang menggeliat bangun tidur. Kemudian semakin cepat: aku putar tubuh atas, ayunkan kepang ke batang bambu terdekat—bunyi “plak!” keras terdengar saat ujungnya menghantam, meninggalkan goresan dalam di batang hijau itu. Aku sabet lagi ke kiri, ke kanan, vertikal seperti roda cambuk, horizontal seperti lasso—setiap gerakan membuat angin menderu, daun-daun bambu beterbangan seperti hujan hijau di sekitarku.

Aku rasakan tatapannya sejak awal. Dari atas. Aku tak langsung lihat, tapi aku tahu—dia di sana, di cabang pohon bambu tinggi sekitar sepuluh meter di belakangku, tempat yang sama di mana dia mungkin mengintip saat duel Ayaka dulu. Aku dengar suara pelan pensil bergesek kertas, napasnya yang tertahan agar tak ketahuan.

Aku tersenyum dalam hati. “Sudah waktunya kau turun, penguntit kecil,” gumamku pelan, tapi tak cukup keras untuk didengarnya.

Aku terus latihan seolah tak tahu apa-apa. Aku lompat kecil, putar tubuh di udara, dan saat mendarat—aku goyangkan kepalaku dengan kuat tiba-tiba ke atas. Kepang Ular Naga-ku meluncur seperti panah hidup, melingkar cepat di udara, langsung menjerat kaki kanannya yang menggantung santai di cabang pohon.

“Hei! Apa—aaah!” jeritnya kaget, suaranya pecah karena panik.

Buku sketsanya langsung jatuh ke rumput di bawah dengan bunyi “bruk!” pelan, diikuti pensil yang menggelinding. Tubuhnya terguncang, tangannya mencoba pegang cabang, tapi aku tarik kepangku pelan tapi tegas—cukup untuk buat dia kehilangan keseimbangan total.

Ia jatuh dari ketinggian itu, jeritan kecilnya menggema di hutan sunyi—“Waaah!”—tapi aku kendalikan sepenuhnya. Aku miringkan kepala, longgarkan lingkaran kepang di kakinya saat dia hampir menyentuh tanah, lalu tarik sedikit agar dia mendarat lembut di hamparan rumput tebal yang empuk. Tak ada luka, tak ada memar—hanya terduduk kaget dengan napas tersengal-sengal, mata melebar seperti rusa yang baru sadar terperangkap.

Aku tarik kepangku kembali perlahan, seperti ular yang menarik mangsa tapi memutuskan tak memakannya dulu. Kepang itu kembali bergantung panjang di belakangku, ujungnya menyapu rumput basah dengan suara gesekan halus.

Aku maju mendekat, langkahku tenang tapi tegas, berhenti tiga langkah di depannya. Ia terduduk di tanah, topi baretnya miring, kemeja putihnya sedikit kotor debu dan daun kering, buku sketsanya terbuka di rumput dengan gambar setengah jadi—aku tahu pasti gambaranku lagi, dengan rambutku yang bergoyang liar.

Aku berdiri di depan pemuda itu, tanganku masih disilang di dada, kepang Ular Naga-ku bergoyang pelan di punggungku seperti ancaman yang hidup. Rumput basah di bawah kakiku terasa dingin menyusup ke telapak kaki telanjangku, tapi panas di dadaku lebih kuat—campuran antara kesal sungguhan karena diintip berbulan-bulan dan tawa yang kutahan karena kelakuannya yang lucu. Pemuda itu masih terduduk di tanah, wajahnya merah padam seperti tomat matang, topi baretnya miring hampir jatuh, dan buku sketsanya digenggam erat di pangkuan seolah itu nyawanya.


Aku maju satu langkah lagi, bayanganku menutupi tubuhnya sepenuhnya. “Bangun dulu,” kataku dingin, suaraku sengaja kubuat tegas seperti saat aku hadapi Gang Ho dulu. “Kau pikir bisa sembunyi di atas pohon seperti monyet dan aku tak tahu? Setiap latihan ku, kau ada. Setiap ayunan rambutku, pensilmu bergerak cepat. Apa yang kau gambar di situ? Wajahku? Tubuhku? Atau… hanya rambutku saja?”


Ia bangkit perlahan, tubuhnya gemetar, kemeja putihnya yang rapi kini kotor debu dan daun kering menempel di lengan. Matanya tak berani tatap langsung ke mataku—melirik ke tanah, lalu sekilas ke kepangku yang bergoyang, lalu cepat kembali ke tanah lagi. “S-saya… maaf, Nona Feng Ye. Saya tak bermaksud mengganggu. Saya hanya… hanya ingin menggambar. Rambut Nona… gerakannya saat latihan… seperti… seperti lukisan hidup.”

Aku angkat alis tinggi, pura-pura marah lebih hebat. Aku goyangkan kepalaku sedikit saja—kepangku langsung berdesis di udara, ujungnya hampir menyentuh kakinya. Ia mundur setengah langkah, wajahnya semakin pucat.

“Gambar? Lukisan hidup?” ulangku dengan nada ejekan. “Kau pikir aku bodoh? Kau jatuh dari pohon karena terlalu asyik gambar rambutku! Kalau kau musuh, aku sudah jerat lehermu dan buat kau menjerit. Tapi kau bukan musuh… kau penguntit kecil yang penakut. Sekarang pilih hukumanmu sendiri. Mau kuhajar dengan Bajiquan—pukulan siku dan tendanganku sampai tulangmu retak? Atau… kucambuk dengan kepang ‘lukisan hidup’ ini sampai kulitmu merah dan kau minta ampun?”

Ia langsung jatuh berlutut lagi, kali ini bersujud sungguhan—dahi menyentuh rumput basah, kedua tangannya di depan, tubuhnya gemetar hebat. Buku sketsanya diletakkan di tanah seperti persembahan. “Maaf! Maaf sebanyak-banyaknya, Nona Feng Ye! Saya salah! Saya tak akan lagi! Tolong… tolong jangan Bajiquan! Saya… saya tak kuat pukulan Nona! Saya pilih… pilih dicambuk dengan… dengan rambut cantik Nona saja!”

Aku terdiam sejenak. Kata-kata itu menggantung di udara hutan bambu yang sunyi. “Rambut cantik?” ulangku pelan, suaraku mulai bergetar karena tahan tawa.

Lalu aku tak tahan lagi. Tawa ku pecah keras, menggema di antara batang-batang bambu tinggi hingga burung-burung kecil beterbangan kaget dari cabang. Aku pegang perut, tubuhku sedikit membungkuk karena tertawa terbahak-bahak. “Hahaha! Rambut cantik?! Kau bilang rambut yang baru saja jerat kakimu dari pohon itu ‘cantik’? Segitu terobsesinya kau pada rambutku, ya? Sampai jatuh dari pohon dan minta dicambuk dengan ‘rambut cantik’ itu?!”

Ia masih bersujud, tapi aku lihat bahunya bergetar—mungkin malu, mungkin ikut tertawa kecil karena lega aku tak benar-benar marah. Aku duduk bersila di rumput di depannya, kepangku tergerai panjang di pangkuanku sekarang, ujungnya menyentuh tanah di antara kami.

“Bangun lah,” kataku sambil masih tertawa kecil, suaraku sudah lebih lembut. “Aku tak akan cambuk kau… belum. Tapi kau harus cerita semuanya. Siapa namamu? Dari mana? Kenapa kau intip aku berbulan-bulan? Dan buka buku sketsa itu—tunjukkan apa yang kau gambar setiap hari.”

Ia angkat kepala pelan, wajahnya masih merah tapi ada senyum malu-malu muncul. Ia duduk bersila juga, jarak kami kini hanya dua meter, angin bambu meniup rambutku hingga beberapa helai jatuh ke wajahku. “Nona Feng Ye… saya… saya takut Nona benar-benar cambuk saya. Tapi… rambut Nona memang cantik. Hitam, panjang, tebal… gerakannya saat latihan seperti… seperti ular naga sungguhan, tapi indah. Saya tak bisa berhenti gambar.”

Aku tersenyum licik, tanganku menyentuh kepangku pelan. “Obsesi ya? Baiklah, penguntit kecil. Mulai cerita dari awal. Kalau bohong satu kata saja… Ular Naga ini akan benar-benar ‘mencium’ kulitmu.”

Ia mengangguk cepat, tangannya membuka buku sketsa dengan gemetar. Halaman-halaman penuh gambaranku: saat cambuk Gang Ho, saat duel Ayaka, saat latihan sendirian—semuanya fokus pada rambutku yang bergoyang liar.

Dan dari situ, aku mulai kenal dia—pemuda yang akan ubah hidupku selamanya.


Aku masih duduk bersila di rumput basah hutan bambu, tawa ku sudah reda tapi senyum kecil tak hilang dari bibirku. Pemuda di depanku akhirnya berani angkat kepala sepenuhnya, wajahnya masih merah seperti dimasak uap panas, tapi matanya kini lebih tenang—lega karena aku tak benar-benar marah, malah tertawa. Buku sketsanya terbuka di pangkuannya, halaman-halaman penuh gambaranku: aku saat cambuk Gang Ho dengan kepang liar, aku saat tarik-menarik rambut dengan Ayaka, aku saat latihan sendirian di pantai dengan rambut bergoyang seperti naga hitam. Semuanya detail, fokus pada gerakan rambutku—helai demi helai digambar dengan teliti, seperti dia benar-benar terhipnotis.
“Bagus gambarnya,” kataku sambil melirik sekilas, suaraku masih ada nada ejekan tapi sudah lebih ramah. “Kau pelukis profesional ya? Lukisan rambutku ini… hampir seperti hidup. Tapi sekarang cerita. Siapa namamu? Dari mana kau datang dengan pakaian Barat aneh begini? Dan kenapa obsesi kau pada rambutku sampai ikut aku kemana-mana berbulan-bulan?”
Ia tarik napas dalam, seolah kumpulkan keberanian. Ia rapikan topi baretnya yang miring, lalu duduk lebih tegak—masih agak gemetar, tapi mulai berani tatap mataku langsung. “Nona Feng Ye… nama saya Zhou Wen. Saya… saya berusia 22 tahun, tiga tahun lebih muda dari Nona. Saya orang Cina, tapi baru tiga bulan lalu pulang dari studi di Barat—Prancis, Jerman, dan Amerika. Saya belajar seni lukis, sastra, dan ilmu alam di universitas-universitas sana.”
Aku angkat alis, terkejut tapi penasaran. “Sarjana kota besar? Dari mana asalmu di sini?”
“Rumah keluarga saya di Feshua, kota pelabuhan tak jauh dari Shaonu Ta ini. Ayah saya pedagang kain sutra yang sering bolak-balik ke Shanghai dan Hong Kong. Saya sering ke desa ini karena… karena mendengar rumor tentang pendekar wanita yang menggunakan rambut kepang panjang sebagai senjata. Awalnya saya tak percaya—kedengarannya seperti cerita dongeng. Tapi saat saya datang dan lihat Nona bertarung melawan Gang Ho dari kejauhan… saya tak bisa berhenti.”
Aku tersenyum licik, tanganku menyentuh kepangku pelan, rasakan teksturnya yang masih hangat karena latihan tadi. “Jadi sejak pertarungan Gang Ho? Kau sudah intip aku sejak itu? Gambar rambutku saat cambuk dia sampai wajahnya berdarah?”

Ia mengangguk malu, matanya melirik kepangku lagi sebelum cepat kembali ke wajahku. “Ya… sejak itu. Dan saat Nona duel dengan samurai wanita Jepang itu—Nona Ayaka—saya juga di sini, di atas pohon yang sama. Saya gambar saat rambut Nona tergerai, saat cambuk pedangnya, saat Nona potong chonmage-nya… maaf, Nona. Saya tahu salah. Tapi rambut Nona… Ular Naga itu… gerakannya begitu indah, kuat, hidup. Di Barat, saya belajar seni Renaissance, lukisan master seperti Leonardo—tapi tak ada yang seperti ini. Rambut Nona seperti… seperti karya seni yang bergerak sendiri.”
Aku tertawa kecil lagi, kali ini lebih hangat. “Karya seni yang bergerak? Kau romantis sekali untuk penguntit, Zhou Wen. Di Barat kau belajar apa lagi selain gambar? Pakaianmu ini—kemeja putih, celana kain hitam, topi baret—seperti orang Prancis yang kulihat di gambar majalah pedagang.”

Ia tersenyum malu-malu pertama kali, tangannya merapikan kemeja yang kotor. “Ya, Nona. Di Paris saya belajar melukis di akademi seni, pakai pakaian begini karena nyaman untuk kerja di studio. Di Jerman saya belajar filsafat dan bahasa, di Amerika saya lihat mesin-mesin baru dan kereta api cepat. Tapi saat pulang… saya bosan dengan kota. Saya dengar rumor tentang Nona, dan… ya, saya datang. Awalnya hanya ingin gambar sekali-dua kali. Tapi setiap kali lihat rambut Nona bergoyang saat latihan… saya tak bisa berhenti datang lagi.”
Aku maju sedikit lebih dekat, kepangku menyapu rumput di antara kami. “Obsesi ya? Sampai jatuh dari pohon karena terlalu asyik gambar? Kau tak takut aku cambuk kau sungguhan seperti Gang Ho?”

Ia menggeleng cepat, tapi matanya berbinar. “Takut… tapi juga tak bisa berhenti. Rambut Nona… hitam pekat, tebal, panjang sekali… saat bergerak seperti cambuk, indah sekaligus menakutkan. Saya… saya tak pernah lihat yang seperti itu.”

Aku tersenyum lebar, merasa ada hangat aneh di dada—bukan marah lagi, tapi penasaran yang lebih dalam. Pemuda kota ini beda dari pria-pria desa yang hanya takut atau iri pada aku. Dia kagum, terobsesi, dan tak malu akui itu.
“Baiklah, Zhou Wen,” kataku sambil berdiri, kepangku bergoyang panjang di belakangku. “Aku maafkan kau kali ini. Tapi kalau mau gambar lagi, jangan sembunyi seperti tikus. Datang saja terang-terangan. Atau… kalau berani, aku ajari kau Bajiquan sedikit. Biar kau tak hanya gambar rambutku, tapi rasakan sendiri gerakannya.”
Ia bangkit juga, mata melebar kaget tapi senang. “Benarkah, Nona? Saya… saya mau! Saya mau belajar apa saja dari Nona!”
Aku tertawa lagi, kali ini benar-benar ringan. “Panggil saja Feng Ye, tak perlu Nona. Dan mulai besok, datang ke gubukku di pinggir desa saat matahari naik. Kita lihat seberapa lama obsesi kau pada rambutku bertahan kalau kau harus latihan keras.”
Ia angguk antusias, buku sketsanya digenggam erat. “Baik, Feng Ye! Saya akan datang. Terima kasih… terima kasih banyak!”
Aku berbalik pulang, kepangku menyapu rumput di belakangku. Di hati ku, aku tahu—this pemuda kota bernama Zhou Wen akan ubah hari-hariku yang selama ini sepi. Dan entah kenapa… aku tak sabar tunggu besok.


Hari-hari berikutnya berlalu seperti angin musim semi yang semakin hangat di Shaonu Ta. Sejak pertemuan di hutan bambu itu, Zhou Wen benar-benar datang setiap pagi ke gubuk kecilku di pinggir desa. Ia naik sepeda tua dari Feshua—barang langka di desa kami—membawa buku sketsa, pensil, dan sebuah tas kain berisi buku-buku tebal berhuruf Latin yang ia bilang dari Barat. Aku sudah biasa bangun sebelum fajar, tapi kini aku tunggu suara roda sepedanya berderit di jalan tanah, dan senyum kecil selalu muncul di bibirku saat ia muncul di depan pintu dengan wajah malu-malu tapi antusias.
Awalnya, aku ajari dia Bajiquan dasar di halaman kecil belakang gubuk, menghadap laut yang biru tenang. Aku berdiri di depannya, kepangku tergantung panjang di punggung, jubah biru tua ku berkibar pelan ditiup angin laut.

“Pertama, kuda-kuda,” kataku tegas, memasang posisi dasar: kaki kanan di depan, kiri di belakang, pinggul rendah. “Tubuhmu harus seperti akar pohon—kuat, tak goyah.”
Zhou Wen ikut-ikutan, tapi kakinya goyah, tubuhnya miring ke kiri. “Seperti ini, Feng Ye?” tanyanya sambil coba perbaiki, tapi malah jatuh duduk ke rumput.
Aku tak tahan—tawa ku pecah lagi, seperti hari pertama kita bertemu. “Hahaha! Kau seperti ayam mabuk, Wen! Kaki kirimu terlalu lemah. Lihat aku—pinggulku rendah, tapi tenaga dari tanah naik ke atas.”
Ia bangkit, pipinya merah tapi tertawa juga. “Sulit sekali! Di Barat aku hanya gambar dan baca buku, tak pernah latihan tubuh seperti ini. Tapi… aku mau coba lagi. Ajari aku pukulan dulu.”
Aku angguk, maju mendekat dan pegang lengannya pelan untuk perbaiki posisi. “Pukulan Bajiquan pendek, meledak. Bukan ayunan panjang seperti tinju Barat yang kau ceritakan. Lihat—siku lurus, tenaga dari pinggul.”
Aku demonstrasikan pukulan ke udara—bunyi “hup!” tajam terdengar saat tenagaku meledak. Lalu aku suruh dia coba. Ia pukul ke udara, tapi gerakannya lambat, sikunya melengkung salah.
“Salah lagi!” kataku sambil tertawa, tanganku memegang sikunya dan arahkan ulang. “Kau terlalu kaku, seperti patung di museum Paris yang kau bilang itu! Lihat, harus ledak begini!”

Ia coba lagi, tapi malah pukul terlalu keras hingga kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh ke aku. Aku tangkap bahunya, dan kami berdua tertawa ngakak di halaman itu.
“Feng Ye, kau tertawa terus! Aku kan baru belajar!” protesnya sambil cekikikan sendiri.
“Karena kau lucu sekali, Wen! Seperti anak kecil coba pakai pedang terlalu besar. Tapi bagus, lama-lama kau kuasai. Lanjut—serangan lutut sekarang.”
Hari demi hari begitu. Aku ajari dia tendangan rendah yang menyapu, tangkisan cepat dengan lengan, serangan siku pendek yang mematikan. Ia sering salah: tendangannya terlalu tinggi hingga jatuh, tangkisannya lemah hingga aku pukul pelan dadanya dan buat dia terhuyung sambil tertawa. “Aduh, Feng Ye! Pelan dong!” katanya sambil pegang dada, tapi matanya berbinar senang.
“Aku sudah pelan! Kalau sungguhan, kau sudah terbang ke laut!” ejekku sambil goyangkan kepangku mengancam.
Sebaliknya, sore harinya kami duduk di teras gubuk, atau di bawah pohon kelapa dekat pantai. Zhou Wen ajari aku ilmu Baratnya. Ia buka buku tebal, tunjuk huruf-huruf Latin yang aneh bagiku.
“Ini alfabet, Feng Ye. A, B, C… ucap ‘ei, bi, si’.”
Aku coba ikut, lidahku terpilin. “Ei… bee… see… eh, ‘si’ atau ‘esi’?”
Ia tertawa ngakak, tubuhnya membungkuk ke depan. “Hahaha! Bukan ‘esi’, Feng Ye! ‘Si’ seperti ‘see’—lihat! C seperti ‘si’ dalam ‘sister’.”
Aku kesal, pipiku panas. “Kau tertawa terus! Sulit sekali huruf kalian ini! Lihat, aku coba lagi— ‘ei, bi, si, di, i’… salah lagi ya?”
Ia semakin tertawa, air mata hampir keluar. “Iya salah! ‘I’ itu ‘ai’! Feng Ye, kau seperti anak kecil belajar bicara!”
Aku bangkit, pura-pura marah, tanganku pegang kepangku. “Kau ejek aku ya? Baiklah, kalau begitu aku cambuk pantatmu dengan Ular Naga ini! Lihat, kau lari kemana!”
Ia langsung lari kecil di pasir pantai, tertawa sambil angkat tangan. “Jangan! Jangan cambuk, Feng Ye! Aku minta ampun! Rambutmu terlalu cantik untuk cambuk pantatku!”
Aku kejar dia, kepangku bergoyang liar di belakangku, kami berdua tertawa ngakak hingga napas tersengal. Aku tangkap lengannya, tarik dia duduk lagi di pasir. “Baiklah, aku maafkan. Tapi ajari lagi—kali ini tanpa tertawa!”
Ia angguk, tapi senyumnya tak hilang. Ia ajari aku bahasa Inggris sederhana: “Hello, how are you?” Aku ucap salah—“Helo, hau ar yu?”—dan ia tertawa lagi. Lalu bahasa Jerman: “Guten Tag”—aku ucap “Guten tak!”—ia pegang perut tertawa. Prancis: “Bonjour”—aku “Bonjur!”—dan kami berdua jatuh ke pasir karena tawa.
“Feng Ye, kau lucu sekali salah ucap!” katanya sambil usap air mata tawa.
“Kau juga lucu salah tendang tadi pagi!” balasku sambil dorong bahunya pelan.
Hari-hari seperti itu membuat gubuk kecilku tak lagi sepi. Shun Di pergi, tapi kini ada Zhou Wen yang datang setiap hari—dengan tawa, dengan godaan, dengan obsesinya pada rambutku yang tak pernah ia sembunyikan. Ia sering melirik kepangku saat aku ajari kungfu, atau saat aku coba baca huruf Latin dengan lidah terpilin.
“Rambutmu hari ini berkilau sekali, Feng Ye,” katanya suatu sore, mata berbinar. “Minyak apa yang kau pakai?”
Aku tersenyum, rasakan hangat di dada. “Rahasia keluarga. Nanti kalau kau rajin latihan, aku ceritakan.”
Dan aku tahu, perlahan-lahan, obsesi itu berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Bukan hanya pada rambutku—tapi pada aku sendiri.

Sore itu terasa lebih panjang dari biasanya. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, sinarnya merah keemasan menyelinap melalui celah-celah daun kelapa di belakang gubukku, membuat pantai kecil di depan rumah seperti dilapisi sutra merah. Aku masih duduk bersila di tikar anyaman teras, rambutku tergerai sepenuhnya di sekitarku seperti selimut hitam panjang yang hidup—mengalir ke punggung, bahu, pangkuan, bahkan meluber ke rumput basah di bawah. Setiap hembusan angin laut membuat helai-helai itu bergoyang pelan, harum minyak zaitun yang baru saja Zhou Wen baluri masih kuat menyelimuti udara, bercampur aroma garam dan getah pohon kelapa.

Zhou Wen duduk di belakangku, sikat rambut Baratnya masih di tangan, tapi gerakannya sudah berhenti. Ia hanya elus rambutku pelan sekarang, jari-jarinya menyusuri dari kulit kepalaku hingga ujung yang menyentuh tikar, seolah tak ingin momen ini berakhir. Napasnya hangat di leherku, membuat bulu kudukku merinding nikmat setiap kali ia dekatkan wajahnya untuk cium helai-helai rambutku lagi.

“Feng Ye…” bisiknya pelan, suaranya bergetar sedikit, seperti ragu tapi tak bisa ditahan lagi. “Apa… apa kau benar-benar suka rambutmu ini? Maksudku… apa kau suka kalau aku yang rawat begini? Atau hanya karena aku yang minta?”

Aku buka mata perlahan, tubuhku masih rileks karena pijatan dan sisirannya tadi. Aku tatap laut di depan, ombak kecil memecah karang dengan suara lembut, tapi hati ku berdegup kencang. “Aku… suka,” jawabku pelan, suaraku hampir bisik. “Tak pernah ada orang yang rawat rambutku begini selain ibu dulu, dan aku sendiri. Tapi tanganmu… hangat. Enak. Rambutku seperti… senang dirawat kau.”

Ia diam sejenak, tangannya berhenti di tengah punggungku, rasakan rambutku yang mengalir di sana. Lalu ia tarik napas dalam, suaranya lebih berani sekarang. “Feng Ye… aku bukan hanya suka rambutmu. Aku… aku cinta padamu. Seluruh dirimu. Sejak pertama lihat kau cambuk Gang Ho dari kejauhan, sejak lihat kau potong rambut samurai wanita itu dengan tanganmu sendiri. Rambutmu yang buat aku datang, tapi sekarang… aku tak bisa bayang hidup tanpa kau.”

Aku terkejut—tubuhku membeku sejenak, rambutku yang tergerai terasa lebih berat di bahuku. Aku berbalik pelan, rambutku bergeser seperti air terjun hitam yang mengalir ke samping, beberapa helai jatuh menutupi wajahku. Aku tatap matanya langsung—mata cokelat hangat yang selama ini penuh kagum dari kejauhan, kini penuh cinta yang tak disembunyikan lagi.

“Cinta?” ulangku, suaraku serius, tatapanku tajam seperti saat aku hadapi lawan di pertarungan. “Kau serius, Wen? Bukan hanya obsesi pada rambutku? Bukan karena aku pendekar yang buat kau takjub dari balik pohon?”

Ia ketakutan sebentar—wajahnya memucat, tangannya gemetar di pangkuan. “F-Feng Ye… apa aku menyinggungmu? Maaf kalau tiba-tiba… aku tak bermaksud—”

Aku potong kata-katanya dengan tatapan lebih tajam, tapi hati ku sudah luluh. Aku maju sedikit, tangan kananku tiba-tiba tarik kerah kemejanya kuat—ia kaget, tubuhnya condong ke depan, mata melebar seperti rusa terperangkap.

“Wah! Feng Ye, maaf! Jangan cambuk aku! Aku salah bicara!” serunya panik, tangannya angkat minta ampun.

Aku tahan tawa, tapi tatapanku tetap serius sebentar. “Kau yakin, Zhou Wen? Yakin mau jadi kekasih pendekar paling mengerikan di Shaonu Ta ini? Yang cambuk pria sampai menjerit, yang potong rambut samurai wanita dengan tangan sendiri? Kalau kau bohong, Ular Naga ini akan gigit kau berkali-kali.”

Ia tatap aku lama, ketakutannya perlahan hilang, diganti keyakinan. “Aku yakin, Feng Ye. Sejak pertama lihat kau. Aku mau jadi kekasihmu—mau belajar kungfu darimu, mau ajari kau bahasa Barat, mau… mau rawat Ular Naga-mu ini sampai kita tua nanti. Aku tak takut. Aku cinta kau apa adanya.”

Aku lunak total sekarang. Tangan ku yang tarik kerahnya pelan-longgar, tapi tak lepas. Aku dekatkan wajahku ke wajahnya—jarak kami hanya beberapa inci, napas kami bercampur, aroma minyak zaitun dari rambutku menyelimuti kami berdua.

“Baiklah,” bisikku lembut, bibirku melengkung senyum nakal. “Kalau begitu… ini bukti aku terima.”

Aku tarik kerahnya lebih dekat, lalu kecup bibirnya pelan—ciuman pertama, hangat, lembut, tapi penuh api yang selama ini kutahan. Ia kaget sebentar, tubuhnya membeku, tapi lalu balas dengan ragu yang cepat jadi yakin. Bibirnya hangat, lembut seperti tangannya saat rawat rambutku tadi. Ciuman itu berlangsung lama, di bawah senja merah yang semakin gelap, dengan rambutku tergerai menutupi kami seperti tirai hitam pribadi.

Aku mundur pelan, pipiku panas, tapi senyumku lebar. “Sudah yakin sekarang? Kekasih pendekar mengerikan seperti aku?”

Ia tersenyum lebar, wajahnya merah tapi bahagia luar biasa. “Yakin sekali, Feng Ye. Aku mau jadi milikmu selamanya.”

Aku tertawa kecil, tanganku elus pipinya. “Bagus. Tapi ingat konsekuensinya kalau kau tak setia nanti. Ular Naga ini akan gigit pantatmu berkali-kali—cambuk sampai kau minta ampun seperti waktu kau jatuh dari pohon.”

Ia tertawa ngakak, tarik aku peluk. “Janji tak akan! Malah aku yang akan rawat Ular Naga-mu setiap hari—sisir, oles minyak, ikat kepang… sampai kita punya anak yang rambutnya panjang seperti ibunya.”


Aku tersipu lagi, tapi peluk balik dia erat, rambutku tergerai menyelimuti kami berdua seperti selimut hangat. Aku tak sangka—pendekar sepertiku, yang selama ini hanya tahu cambuk dan pertarungan, kini punya kesempatan jatuh cinta. Dan cinta ini… dimulai dari obsesi pada rambutku, tapi kini jadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Malam itu, kami duduk berpelukan di teras hingga bintang muncul, rambutku masih tergerai di pangkuannya, tangannya elus tanpa henti. Ular Naga-ku… akhirnya jinak di tangan lembut seorang sarjana kota.
*****


Pagi berikutnya, April yang semakin hangat di tahun 1899 itu, aku bangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari baru saja menyusup melalui celah-celah dinding bambu gubukku, menerangi ruangan kecil dengan warna keemasan lembut. Aku terbangun dengan senyum yang tak bisa kuhapus dari bibirku—masih membayangkan kejadian sore kemarin: tangan Zhou Wen yang hangat menyisir rambutku, jari-jarinya membaluri minyak zaitun hingga harumnya menyelimuti kami berdua, pujiannya yang membuat pipiku panas, dan yang paling penting… pengakuan cintanya, diikuti ciuman pertama yang lembut tapi penuh api, membuat tubuhku bergetar hingga malam.

Aku duduk di tikar tidurku, rambutku masih tergerai bebas seperti saat aku tidur tadi malam—tak kuikat lagi setelah Zhou Wen rawat kemarin. Helai-helai hitam pekat itu mengalir panjang di sekitarku, menyentuh lantai tanah gubuk, harum minyak zaitun masih samar tercium. Aku ambil sisir kayu ibu dari rak kecil, lalu keluar ke teras gubuk yang menghadap laut langsung.

Aku duduk di bangku bambu sederhana, mengenakan qipao merah muda lembut yang jarang kupakai—baju sutra tipis warisan ibu, yang biasanya kusimpan untuk hari istimewa. Qipao itu menempel longgar di tubuhku, berkibar pelan ditiup angin laut pagi, membuatku merasa… berbeda. Lebih feminin, lebih lembut daripada pendekar biasanya. Rambutku sengaja kubiarkan tergerai sepenuhnya hari ini—tak kuikat menjadi kepang seperti biasa. Aku ingin rasakan angin laut menyapu helai-helainya bebas, tapi yang lebih penting… aku ingin Zhou Wen yang merasakannya nanti, tangannya yang ikat kembali menjadi satu kepang tebal seperti biasa.

Aku mulai sisir rambutku sendiri perlahan, dari ujung yang menyentuh rumput teras hingga pangkal di kulit kepalaku. Sisir kayu itu bergesek halus, membuat sensasi nikmat mengalir di tubuhku—mengingatkan pada tangan Zhou Wen kemarin. “Wen…” gumamku sendirian, pipiku panas lagi saat ingat ciumannya. “Kau bilang mau rawat Ular Naga ini sampai tua… mulai hari ini ya?”

Aku tatap laut di depan—ombak kecil memecah karang dengan suara ritmis, burung camar terbang rendah mencari ikan, angin membawa aroma garam dan bunga liar dari bukit. Aku sisir terus, rambutku bergoyang mengikuti gerakan tanganku, beberapa helai jatuh menutupi wajahku hingga aku sibak pelan. Aku tak sangka—aku, Feng Ye, pendekar yang ditakuti di Shaonu Ta, yang cambuk pria sombong sampai menjerit, yang potong rambut samurai wanita dengan wakizashi dingin—kini duduk di teras seperti gadis biasa, tersipu membayangkan kekasih yang akan datang.

Suara langkah di jalan tanah membuatku angkat kepala. Ibu tetangga—Bibi Li, wanita tua yang sering jual ikan asin di pasar kecil desa—lewat di depan gubukku, membawa keranjang bambu berisi sayur segar. Ia berhenti sejenak, matanya melebar melihatku.

“Ye’er! Pagi!” sapanya ramah, tapi matanya meneliti dari atas ke bawah. “Kau… terlihat berbeda hari ini. Qipao merah muda itu cantik sekali di tubuhmu. Dan rambutmu… dibiarkan tergerai begitu? Biasanya kan selalu dikepang tebal seperti senjata cambukmu itu. Kau terlihat… lebih feminin, lebih anggun seperti gadis kota.”

Aku tersipu hebat, pipiku pasti merah sekarang. Aku sibak rambutku yang jatuh ke wajah, coba tersenyum biasa saja sambil terus sisir. “Pagi, Bibi Li. Ya… hari ini saja. Ingin rasakan angin laut di rambutku.”

Ia tertawa kecil, matanya berbinar penuh arti. “Hmm… apa ini gara-gara pemuda dari kota itu? Yang sering datang naik sepeda, berpakaian Barat, yang latihan kungfu sama kau setiap pagi? Aku lihat kalian kemarin sore di pantai, tertawa-tawa sampai malam. Dia yang buat kau begini ya, Ye’er?”

Aku geleng cepat, tapi senyumku tak bisa disembunyikan. “Bibi… jangan gosip. Dia hanya… teman belajar.”

“Teman belajar yang buat pendekar galak seperti kau tersenyum malu-malu begini? Haha, bagus lah! Sudah saatnya kau punya seseorang. Desa ini butuh cerita baru selain cambukan rambutmu.” Ia lanjut jalan sambil tertawa, meninggalkanku sendirian lagi di teras.

Aku menghela napas panjang, tatap rambutku yang tergerai di pangkuanku. “Tak disangka ya…” bisikku pada diriku sendiri, tanganku elus helai-helai hitam itu pelan. “Ular Naga yang liar, yang buat pria menjerit dan wanita samurai menangis… akhirnya jinak. Dan jinaknya bukan karena cambuk atau pertarungan—tapi karena sentuhan lembut, sisiran pelan, pujian manis, dan ciuman dari lelaki kota itu.”

Aku tersenyum lagi, ingat janjinya kemarin—mau rawat Ular Naga ini sampai tua. Aku bayangkan tangannya nanti: melepas rambutku yang tergerai ini lagi kalau perlu, sisir perlahan, oles minyak, lalu ikat menjadi satu kepang tebal dengan hati-hati, seperti ritual baru kami.

Aku sudah tak sabar. Matahari semakin tinggi, suara sepeda Zhou Wen pasti sebentar lagi terdengar di jalan tanah. Hari ini aku biarkan rambutku tergerai sepenuhnya—bukan untuk latihan, bukan untuk pertarungan, tapi untuk dia. Untuk rasakan tangannya lagi, untuk dengar pujiannya lagi, untuk ciuman lagi mungkin.

“Datanglah cepat, Wen,” gumamku sambil sisir ujung rambutku yang menyapu rumput teras. “Ular Naga-mu sudah menunggu untuk diikat oleh tanganmu.”

Angin laut bertiup lebih kencang, membuat rambutku menari bebas di sekitarku. Dan aku tahu—ini awal dari babak baru. Pendekar dengan rambut cambuk… kini punya kekasih yang jinakkan naganya dengan cinta.



Comments

Popular Posts