Cambuk Zaitun Bab 4: antara Surga dan Neraka

 rupanya kekasih-ku ini seorang yang terobsesi dengan rambut. jika itu maunya, akan akubuat dia merasakan surga sekaligus neraka

 

 

 

April 1899 

sudah memasuki pertengahan bulan, dan udara di Shaonu Ta terasa semakin
hangat, angin laut selatan membawa aroma garam yang lebih lembut bercampur bunga liar
yang mekar di lereng bukit. Sudah satu bulan berlalu sejak ciuman pertama kami di teras gubuk
itu—satu bulan sejak aku, Feng Ye, pendekar wanita yang ditakuti di pesisir selatan, resmi jadi
kekasih Zhou Wen, sarjana kota berpakaian Barat yang tiga tahun lebih muda dariku.
Setiap hari seperti ritual yang tak pernah membosankan. Pagi-pagi, aku dengar suara roda
sepedanya berderit di jalan tanah menuju gubukku. Ia datang dengan tas kain berisi buku
sketsa, pensil, dan buku-buku tebal berhuruf Latin dari Baratnya. Kadang ia bawa buah segar
dari pasar Feshua, atau kue manis yang ia beli dari pedagang asing di kota pelabuhan itu.
Tujuannya selalu sama: menggambar aku saat latihan, latih Bajiquan bersamaku, ajari aku
bahasa Inggris, Jerman, atau Prancis yang masih membuat lidahku terpilin, dan—yang paling
sering—memanjakan Ular Naga-ku, rambut kepang panjangku yang kini mencapai 1,7 meter,
tebal, hitam berkilau, dan harum minyak zaitun yang selalu kusiapkan.
Aku pasrah total saat ia mainkan rambutku. Setelah latihan atau belajar, kami duduk di teras
atau di dalam gubuk, dan tangannya selalu menemukan jalan ke kepangku. Ia elus perlahan
dari pangkal di leherku hingga ujung yang menyentuh lantai, jari-jarinya menyusuri tekstur halus
tapi kuat itu, kadang tarik pelan ikatan di pangkal dan ujung hingga kepangku longgar, lalu
tergerai sepenuhnya seperti air terjun hitam panjang yang mengalir deras ke pangkuanku,
bahuku, bahkan ke lantai.
Saat rambutku tergerai begitu, aku selalu bergetar—seperti sedang ditelanjangi di depannya.
Rambutku adalah mahkotaku, senjataku, warisanku dari ibu, yang selama ini hanya aku rawat
sendiri. Tapi di tangan Zhou Wen, aku tak bisa berkutik. Ia sisir perlahan dengan sikat Baratnya
yang bulu kuda halus, oles minyak zaitun tambahan dari botolku, pijat kulit kepalaku hingga aku
merem melek nikmat. Tangannya tak berhenti di rambut saja—kadang menyentuh kepalaku,
usap pelan, lalu turun ke pipiku yang panas, jari telunjuknya menyusuri garis rahangku, hingga
akhirnya sentuh bibirku pelan, seperti godaan yang tak pernah ia ucapkan langsung.
“Wen… cukup,” kataku sering, suaraku bergetar, tapi tubuhku tak bergerak menolak. Aku,
pendekar yang cambuk pria sampai berlutut, kini didominasi oleh kelembutan tangan lelaki ini.
Ia tahu titik lemahku—bukan dengan pukulan atau cambuk, tapi dengan elusan pelan di
helai-helai rambutku, ciuman ringan di ujung kepang, atau bisikan pujian seperti “Rambutmu
hari ini lebih berkilau, Feng Ye… seperti malam yang hidup.”
Aku malu pada diriku sendiri. Aku tiga tahun lebih tua, guru kungfunya, pendekar yang
seharusnya tegas dan tak tergoyah. Tapi setiap kali ia buka ikatan kepangku dan rambutku
tergerai bebas, aku merasa lemah—telanjang, rentan, tapi juga nikmat yang dalam. Sensasi itu
membuat tubuhku panas, napasku cepat, dan aku biarkan ia terus. Ia tahu, dan ia manfaatkan
itu—dominan dengan cara lembut yang tak pernah kulawan.
Di dalam hati, aku sering bergulat. Ini salah. Menurut tradisi Wu Lin yang kuhormati sejak Shun
Di ajari aku dulu, hubungan guru dan murid terlarang—apalagi kasih yang begini dalam. Aku
guru Bajiquan-nya, ia muridku. Kalau dunia luar tahu, reputasiku sebagai pendekar bisa rusak.
“Feng Ye yang galak, yang cambuk Gang Ho sampai berdarah, kini jinak di tangan murid kota?”
bisik suara batin itu malam-malam saat aku sendirian.
Tapi setiap kali Zhou Wen sentuh aku lagi—elus rambutku, cium pipiku, peluk dari belakang
sambil bisik “Aku cinta kau apa adanya, termasuk Ular Naga yang liar ini”—rasa bersalah itu
hilang. Sentuhannya seperti obat, menghapus segala keraguan. Aku anggap cinta ini justru
perkuat ikatan kami: ia muridku di kungfu, aku muridnya di ilmu Barat, dan di mesra-mesra ini…
kami saling milik. Guru dan murid yang jatuh cinta—mungkin dilarang tradisi, tapi di hati kami,
ini yang bikin kami lebih kuat bersama.
Suatu pagi, setelah ia datang lagi dengan sepedanya, aku duduk di teras sambil sisir rambutku
yang masih kepang longgar. Ia duduk di sampingku, langsung ambil alih sisir itu dari tanganku.
“Biarkan aku, Feng Ye,” katanya lembut, tangannya mulai sisir dari pangkal.
Aku pasrah lagi, mata setengah terpejam. “Kau selalu begini, Wen. Setiap hari datang, tak
pernah bosan mainkan rambutku.”
Ia tertawa pelan, napasnya hangat di leherku. “Mana bisa bosan? Rambutmu ini… bagian
terindah dari kau. Dan kau izinkan aku rawat—itu sudah seperti mimpi.”
Aku tersenyum, tapi di dalam hati, konflik itu masih ada samar-samar. Tapi saat jari-jarinya pijat
kulit kepalaku lagi, aku lupakan semua. Cinta ini… mungkin memang ditakdirkan, meski
melawan tradisi.
Dan hari-hari seperti itu terus berlanjut, hingga suatu sore setelah latihan Bajiquan… semuanya
mulai berubah lagi. 

Sore itu, setelah latihan Bajiquan yang cukup intens di halaman kecil belakang gubukku, aku
dan Zhou Wen akhirnya duduk istirahat di bawah pohon kelapa yang rindang, punggung kami
bersandar ke batang pohon kasar yang sudah tua. Matahari sudah condong ke barat, sinarnya
keemasan menyusup melalui daun-daun kelapa yang bergoyang pelan ditiup angin laut,
membuat bayangan bergoyang di rumput basah tempat kami duduk. Tubuhku basah
keringat—jubah biru tuaku menempel di kulit, napasku masih agak tersengal karena tadi aku
demonstrasikan serangan siku dan lutut penuh tenaga, sementara Zhou Wen sudah jauh lebih
baik dalam menangkisnya.
Ia duduk di sebelahku, kemeja putihnya juga basah di dada dan punggung, rambut pendek ala
Baratnya yang selalu rapi kini sedikit acak-acakan karena hembusan angin dan gerakan latihan.
Kepang Ular Naga-ku masih tergantung panjang di punggungku, ujungnya menyentuh rumput,
berat karena keringat yang menempel di helai-helai hitam tebal itu.
Zhou Wen tiba-tiba geser lebih dekat, kepalanya menyandar pelan di bahu kiriku. Aku rasakan
hangat napasnya di leherku, dan tangan kanannya langsung mencari kepangku—jari-jarinya
memegang pangkal di dekat leherku, lalu elus perlahan ke bawah, menyusuri tekstur kepang
yang tebal dan panjang itu.
Aku menghela napas panjang, tubuhku rileks tapi juga sedikit gelisah. “Wen… aku ini bau
keringat sekali,” kataku pelan, suaraku setengah protes tapi tak benar-benar menolak. “Kita
baru saja latihan keras. Biar aku mandi dulu di sungai belakang.”
Ia malah tertawa kecil, kepalanya semakin nyaman di bahuku, tangannya tak berhenti elus
kepangku—dari pangkal hingga tengah, lalu kembali ke atas lagi. “Bau keringat? Aku malah
suka, Feng Ye. Bau keringatmu campur minyak zaitun di rambut ini… manis, segar. Seperti bau
wanita kuat yang baru bertarung. Aku makin tergila-gila.”
Aku menggeleng kepala, pipiku panas lagi seperti biasa saat ia bilang hal-hal seperti itu. Aku
setil hidungnya pelan dengan jari telunjukku, pura-pura kesal. “Kau aneh sekali, Zhou Wen!
Lelaki normal mana suka bau keringat wanita? Apalagi rambut basah keringat seperti ini.”
Ia cekikikan, hidungnya mengernyit lucu saat kusetil, tapi tangannya semakin nakal—kini ia
pegang kepangku lebih erat, angkat sedikit dan dekatkan ke hidungnya, endus pelan. “Aneh?
Mungkin. Tapi ini bau kau, Feng Ye. Bau pendekar yang aku cinta. Rambutmu ini… bahkan saat
basah keringat, masih harum zaitun dan… kau.”
Aku tak tahan, tanganku naik ke kepalanya yang menyandar di bahuku, usap rambut
pendeknya yang lembut dengan penuh kasih sayang. Jari-jariku menyusuri kulit kepalanya,
rasakan hangatnya. “Kau manis sekali mulutnya hari ini. Tapi jangan kebanyakan puji, nanti aku
cambuk kau sungguhan.”
Ia angkat kepala sedikit, mata cokelatnya menatapku penuh harap, tangannya masih
memegang pangkal kepangku. “Feng Ye… boleh aku gerai rambutmu sekarang? Aku ingin sisir
seperti kemarin. Lihat, keringatmu membuatnya semakin berkilau.”
Aku langsung tangkap tangannya yang nakal itu, pegang erat tapi lembut. “Tidak! Aku sedang
berkeringat sekali, Wen. Kalau kepang ini kubongkar sekarang, rambutku gerai semua, tambah
gerah tubuhku. Panas tahu? Angin laut saja tak cukup dingin.”
Ia cemberut lucu, seperti anak kecil ditolak mainan favoritnya. “Yah… kecewa sekali. Aku sudah
bayangin sisir rambutmu yang tergerai panjang, oles minyak lagi…”
Ia lepaskan tanganku pelan, tapi tak menyerah—kini ia hanya elus kepangku lagi, angkat
ujungnya dan endus pelan, mata setengah terpejam nikmat. “Baiklah, kalau tak boleh gerai…
aku puas elus dan endus begini saja. Rambutmu ini… aku kira sudah kujinakkan Ular Naganya,
ternyata masih galak ya?”
Aku tertawa kecil, tapi ada nada ancaman nakal di suaraku. “Galak? Kau tak mengerti wanita,
apalagi wanita berambut panjang seperti aku. Rambut ini butuh istirahat juga setelah latihan.
Apa kau tak takut dipatok berkali-kali oleh Ular Naga ini kalau kau maksa?”
Ia tersenyum lebar, kepalanya kembali menyandar di bahuku, tangannya elus kepangku lebih
lembut. “Takut? Lebih takut kehilangan rambut panjangmu ini, Feng Ye. Kepang ini… yang
bawa aku ke kau. Sejak pertama lihat cambukmu bergoyang liar saat lawan Gang Ho, aku
sudah tergila-gila. Ini senjatamu, mahkotamu… dan sekarang, bagian dari aku juga.”
Aku terdiam sejenak, hatiku hangat tersentuh. Aku ingat semua duelku—darah Gang Ho yang
melumuri ujung kepangku, air mata Ayaka saat chonmage-nya kupotong. Rambutku ini penuh
cerita kekerasan, penuh darah dan penghinaan lawan.
“Kau tahu sendiri kan, Wen,” kataku pelan, suaraku lebih serius sekarang, tanganku masih usap
kepalanya. “Berapa banyak darah yang melumuri rambutku akibat duel-duel itu. Rambut ini
bukan hanya cantik—ini senjata maut. Lelaki-lelaki lain lihat aku, langsung buang muka atau
kabur ketakutan. Tapi kau… malah tergila-gila pada ‘senjata’ di kepalaku ini.”
Ia angkat kepala lagi, tatap mataku langsung, tangannya pegang kepangku lebih erat tapi
lembut. “Darah bisa dibersihkan, Feng Ye. Seperti dosa yang melumuri hati—bisa diampuni,
bisa dilupakan. Rambutmu ini… sudah bersih sekarang, harum, indah. Dan aku cinta kau
karena semua itu: yang liar, yang galak, yang kuat. Tak ada yang perlu ditakuti.”
Aku tersentuh dalam-dalam. Air mata hampir naik, tapi aku tahan. Aku tarik kepalanya kembali
ke bahuku, lalu condongkan wajahku dan cium pelan ubun-ubunnya yang hangat. “Terima
kasih, Wen… telah mencintaiku. Apa adanya.”
Ia peluk pinggangku pelan dari samping, kepalanya nyaman di bahuku lagi. “Selamanya, Feng
Ye. Ular Naga-mu ini… sudah jadi bagian dari hidupku.

Kami masih duduk di bawah pohon kelapa itu, angin laut meniup pelan hingga daun-daun di
atas kami bergoyang dan menjatuhkan beberapa helai kering ke rumput. Zhou Wen masih
menyandar di bahuku, tangannya sesekali elus kepangku yang basah keringat, tapi mataku
tertuju pada sepedanya yang terparkir rapi di halaman depan gubuk—rangka besi hitam
mengkilap, roda besar dengan ban karet tebal, stang melengkung seperti tanduk kerbau, dan
sadel kulit cokelat yang sudah agak usang karena sering dipakai dari Feshua ke Shaonu Ta.
Aku sudah lama penasaran dengan benda aneh itu. Setiap kali ia datang, sepedanya berderit
pelan di jalan tanah, roda berputar cepat tanpa kuda atau kereta, membuat anak-anak desa lari
mengikuti sambil berteriak kagum. Aku, pendekar yang biasa berlari cepat atau lompat tinggi
dengan Bajiquan, merasa tertantang—apa rasanya mengendarai sesuatu yang bergerak sendiri
hanya dengan kaki?
“Wen,” kataku tiba-tiba, suaraku penuh semangat, tanganku lepas dari usapan di kepalanya.
“Sudah lama aku penasaran dengan kendaraanmu itu. Sepeda, ya? Dari mana kau dapat
benda ajaib begitu?”
Ia angkat kepala dari bahuku, mata cokelatnya berbinar senang karena aku akhirnya tanya. Ia
geser sedikit agar bisa tatap wajahku langsung, tangannya masih pegang kepangku di
pangkuannya. “Dari Paris, Feng Ye. Saat aku lulus kuliah di sana, profesor seni ku hadiahkan
itu sebagai ucapan selamat. Sepeda terbaik waktu itu—buatan Prancis, ringan tapi kuat. Aku
bawa pulang naik kapal, dan sejak itu jadi temanku ke mana-mana.”
Aku angkat alis, tanganku menyentuh dagunya pelan. “Di Feshua sudah ada yang jual sepeda
seperti itu? Atau bengkel kalau rusak?”
Ia geleng kepala, tertawa kecil. “Belum ada, sayang. Kalau rusak parah, aku harus bawa ke
Shanghai—ada pedagang asing di sana yang jual suku cadang. Di Feshua baru aku
satu-satunya yang punya, makanya anak-anak desa selalu kaget lihat aku lewat.”
Aku tersenyum lebar, semangatku semakin membara. Aku bangkit perlahan dari rumput, tarik
tangannya agar ia ikut berdiri. Kepangku bergoyang panjang di belakangku saat aku jalan ke
arah sepeda itu. “Hari ini aku tak mau belajar bahasa asing lagi—lidahku sudah capek salah
ucap ‘bonjour’ atau ‘guten tag’. Aku juga tak mau belajar huruf Latin yang bikin kepalaku pusing.
Hari ini… aku mau belajar naik sepeda itu.”
Ia ikut berdiri, tapi langsung tertawa ngakak—tawa yang bikin pipiku panas lagi. Ia pegang
perut, tubuhnya membungkuk sedikit. “Naik sepeda?! Feng Ye, kau serius? Nanti kau
jatuh-jatuh seperti waktu pertama belajar tendangan Bajiquan! Menyebut ‘bonjour’ saja salah
terus, apalagi gowes sepeda yang butuh keseimbangan!”
Aku langsung kesal—tapi kesal yang manis. Aku maju cepat, tanganku cubit pinggangnya keras
di sisi kiri, buat ia melompat kaget dan jerit kecil. “Aduh! Ampun, Feng Ye! Jangan cubit! Sakit
tahu! Aku minta maaf!”
Aku tertawa sekarang, tanganku masih cubit sedikit tapi tak lepas. “Siapa bilang aku akan
jatuh? Aku pendekar, Wen! Keseimbangan aku lebih baik dari kau yang baru belajar tangkisan.
Ajari aku sekarang juga, atau aku cambuk pantatmu dengan Ular Naga ini!”
Ia angkat tangan minta ampun, tapi mata nya penuh tawa dan cinta. “Baik, baik! Aku ajari. Tapi
dulu… rambutmu ini panjang sekali, nanti tersangkut roda atau menyapu tanah saat kau gowes.
Biar aku gulung dulu jadi sanggul, agar aman.”
Aku terkejut, tapi angguk—senang dia peduli. Ia ke belakangku, tangannya ambil kepangku
yang panjang itu dengan hati-hati. Jari-jarinya buka ikatan di pangkal dan ujung dulu, tapi tak
gerai sepenuhnya—ia putar dan gulung kepang tebal itu berkali-kali di atas ubun-ubun ku,
membentuk sanggul bulat besar seperti telur naga yang mengembang, lalu kencangkan dengan
tusuk kayu tambahan yang ia ambil dari tasnya.
Aku rasakan proses itu—tangan nya lembut, teliti, seperti saat ia rawat rambutku malam-malam.
“Kau… bagaimana tahu cara gulung rambut wanita begini rapi?” tanyaku kagum, tanganku
sentuh sanggul baru itu—bulat sempurna, tak ada helai lepas.
Ia tertawa pelan di belakangku, lalu condongkan wajahnya dan cium pelan sanggul gulungan
itu—bibirnya hangat di rambutku. “Aku selalu perhatikan kau, Feng Ye. Setiap malam kau sisir
dan gulung sendiri, aku lihat dari teras saat kau ajari aku kungfu sore. Aku hafal gerakannya.
Ini… semoga beruntung ya. Biar kau tak jatuh saat belajar.”
Aku tersipu lagi, pipiku panas, tapi hati ku penuh hangat. “Terima kasih, Wen. Kau…
benar-benar perhatian.”

ku sudah duduk di sadel sepeda itu, kaki ku di pedal, tangan memegang stang yang dingin
dan licin karena keringatku sendiri. Standar besi di bawah masih terpasang, membuat roda
belakang sedikit terangkat dari tanah—sepeda diam di tempat meski aku gowes sekuatnya.
Sanggul “telur naga” yang Zhou Wen gulung tadi terasa aman di atas ubun-ubunku, tak ada
helai rambut yang lepas menyapu wajah atau tersangkut roda. Qipao merah mudaku berkibar
pelan ditiup angin laut sore, membuatku merasa aneh—seperti gadis kota yang sedang
bermain, bukan pendekar yang biasa cambuk lawan sampai berdarah.
Zhou Wen berdiri di sampingku, tangan kanannya pegang stang agar sepeda tetap stabil,
tangan kirinya di pinggangku untuk bantu keseimbangan. Matanya penuh semangat,
senyumnya lebar seperti guru yang bangga pada murid baru.
“Baik, Feng Ye,” katanya lembut tapi tegas, suaranya seperti saat ia ajari aku huruf Latin. “Mulai
gowes pelan dulu. Kaki kanan tekan pedal bawah, lalu kiri ikut. Rasakan ritmenya—like napas
dalam kungfu.”
Aku angguk, tarik napas dalam seperti saat pasang kuda-kuda Bajiquan. Aku tekan pedal
kanan pelan—roda belakang berputar di tempat, bunyi “krik-krik” kecil terdengar dari rantai besi.
Lalu kiri ikut—perlahan, ritme mulai terasa. Otot paha dan betisku bekerja, seperti saat aku latih
tendangan rendah yang menyapu kaki lawan.
“Bagus!” serunya, tangannya di pinggangku tekan pelan untuk dorong. “Sekarang lebih cepat.
Gowes seperti kau tendang telapak kaki bertubi-tubi—cepat tapi terkendali.”
Aku tambah kecepatan—pedal berputar lebih laju, angin buatan dari roda menyapu wajahku.
Rasanya… mirip sekali! Otot kaki ku memompa tenaga ledak seperti saat serang lutut ke perut
musuh dari jarak dekat—pendek, kuat, berulang. Napasku semakin cepat, keringat baru
menetes di dahi, tapi aku tersenyum lebar.
“Ini… sama seperti latihan tendangan dan lutut Bajiquan!” kataku excited, suaraku naik karena
semangat. “Gowes cepat begini bikin kaki ku makin kuat untuk serang rendah. Wen, kau tahu
tidak, kalau aku pakai ini setiap hari, tendanganku bakal lebih mematikan!”
Ia tertawa ngakak, tapi tangannya tetap pegang stang stabil. “Haha! Apa pun yang kau lakukan
selalu jadi kungfu ya? Baiklah, sekarang latihan belok. Pegang stang erat, tapi jangan kaku.
Untuk belok kiri, tarik stang pelan ke kiri, tapi ingat—perlambat dulu kecepatan.”
Aku coba—gowes sedang, lalu perlambat dengan berhenti tekan pedal sepenuhnya. Roda
melambat, aku tarik stang ke kiri pelan—sepeda miring sedikit ke kiri, meski masih di tempat
karena standar. Rasanya… seperti saat aku tangkis serangan samping dengan siku—tubuh
miring, tenaga dari pinggul, tapi terkendali agar tak kehilangan keseimbangan.
“Lagi!” katanya, mata berbinar bangga. “Belok kanan sekarang. Ingat, rem dulu kalau perlu—ini
tuas di stang kanan, tekan pelan agar roda depan melambat.”
Aku ulang—perlambat gowes, tekan rem pelan (rasanya seperti tarik tenaga dalam sebelum
ledak siku), lalu belok stang ke kanan. Sepeda miring ke kanan, stabil lagi. “Ini… mirip serangan
siku Bajiquan!” seruku lagi, napasku semakin excited. “Perlambat dulu seperti tarik napas, lalu
ledak belok dengan pinggul dan siku—eh, stang maksudku!”
Zhou Wen pegang perut tertawa, tapi matanya penuh kagum. “Feng Ye… apa semua hal yang
kau lakukan harus dianggap kungfu? Memasak ikan asin kemarin kau bilang seperti ledak
tenaga dalam, sekarang naik sepeda juga?”
Aku tertawa lepas, gowes lebih cepat lagi di tempat hingga roda berputar laju. “Tentu saja!
Kungfu bukan hanya beladiri, Wen. Kungfu adalah cara manusia jalani hidup. Mulai dari masak
nasi di tungku—api terkendali seperti chi dalam—sampai bertarung mati-matian, bahkan
mengendarai sepeda aneh dari Barat ini. Semua butuh keseimbangan, tenaga, ritme napas.
Gowes cepat ini latih kaki ku untuk tendangan lebih kuat, belok ini latih siku dan pinggul lebih
lincah. Kau lihat nanti—besok latihan Bajiquan, seranganku bakal lebih cepat!”
Ia angguk-angguk, tapi masih tertawa. “Kau luar biasa, Feng Ye. Guru kungfu sekaligus filsuf.
Baiklah, kau sudah paham gowes dan belok dasar. Sekarang… aku lepas standarnya. Siap
naik sungguhan?”
Aku tarik napas dalam, sanggul telur naga di kepalaku terasa aman, qipao ku berkibar siap.
“Siap! Lepas saja. Kita lihat apakah pendekar ini jatuh seperti yang kau ejek tadi.”
Ia tertawa lagi, tapi tangannya lepas stang pelan dan cabut standar besi itu. Sepeda kini
bebas—roda belakang menyentuh tanah sepenuhnya.
Aku tekan pedal pertama—sepeda maju pelan, goyah sedikit. “Wah… beda rasanya!”
Ia lari kecil di sampingku, pegang sadel belakang untuk bantu. “Gowes terus! Jangan
berhenti—roda harus berputar agar tak jatuh!”
Aku gowes lebih kuat—sepeda maju, tapi miring ke kiri… aku jatuh pertama kali, mendarat di
rumput lembut dengan tawa. “Aduh! Goyah sekali!”
Ia tolong angkat aku, tertawa tapi peduli. “Kau harus terus gowes, sayang. Roda berputar =
keseimbangan. Coba lagi.”
Aku coba lagi—jatuh kedua, ketiga, keempat. Setiap kali ia tolong, ingatkan “gowes terus!
Jangan takut miring!”
Tapi aku pendekar—aku tak menyerah. Aku coba lagi, kali ini gowes tanpa henti, ritme seperti
napas kungfu. Sepeda maju stabil, aku keliling halaman gubuk kecil—lewati pohon kelapa,
lewati tempat latihan Bajiquan kami, angin menyapu wajahku, sanggulku aman.
“Aku bisa!” seruku bangga, gowes lebih cepat hingga keliling beberapa putaran.
Zhou Wen tepuk tangan, lari ikuti di samping. “Selamat, Feng Ye! Kau sudah kuasai
dasar-dasarnya. Gowes, belok, keseimbangan—semua dalam satu sore!”

Aku akhirnya turun dari sepeda setelah beberapa putaran sukses di halaman gubuk, napasku
tersengal tapi dada ku penuh bangga. Zhou Wen berdiri di sampingku, tangannya tepuk tangan
pelan, mata cokelatnya berbinar seperti saat ia pertama kali gambar aku dari kejauhan. Sanggul
“telur naga” yang ia gulung tadi masih aman di atas ubun-ubunku, tak ada helai rambut yang
lepas meski aku gowes cukup kencang tadi. Qipao merah mudaku berkibar basah keringat, tapi
aku merasa bebas—seperti angin laut yang akhirnya bisa kurasakan di kulit tanpa kepang
panjang menyapu tanah.
“Sudah cukup untuk hari ini?” tanya Zhou Wen sambil usap keringat di dahiku dengan ujung
lengan kemejanya. “Kau sudah kuasai dasar-dasarnya, Feng Ye. Gowes, belok, rem—semua
mantap. Besok kita lanjut lebih jauh.”
Aku geleng kepala, senyumku lebar penuh tantangan. “Tidak cukup. Hari ini juga aku mau coba
keliling desa. Biar semua lihat pendekar Shaonu Ta naik sepeda seperti gadis kota. Kau bilang
bunyikan bel kalau sampai rumah, ya? Aku janji.”
Ia tertawa, tapi ada kekhawatiran kecil di matanya. “Baiklah, tapi hati-hati. Jalan tanah desa
banyak lubang, dan orang-orang pasti kaget lihat kau. Jangan lupa bunyikan bel berkali-kali
kalau sudah dekat gubuk—biar aku tahu kau selamat pulang.”
Aku angguk, naik lagi ke sadel—kali ini tanpa standar, keseimbangan ku sudah mantap berkat
latihan tadi. Aku tekan pedal pertama, sepeda maju pelan, lalu semakin cepat. Angin langsung
menyapu wajahku, qipao ku berkibar seperti sayap, sanggulku aman di atas kepala. Aku keluar
dari halaman gubuk, roda berderit di jalan tanah menuju pusat desa Shaonu Ta.
Pertama, aku lewati pasar kecil di tepi desa—tempat para ibu-ibu jual ikan asin, sayur segar,
dan kain tenun. Beberapa pedagang pria sedang angkat keranjang ikan dari perahu, tapi saat
aku lewat dengan sepeda berdering bel “ding-ding-ding!”, mereka semua berhenti dan melongo.
“Eh, itu Feng Ye?!” seru seorang pedagang tua, matanya melebar. “Pendekar rambut cambuk
naik… apa itu? Kendaraan ajaib dari kota?!”
Aku tersenyum lebar, bunyikan bel lagi sambil gowes pelan melewati mereka. Beberapa ibu-ibu
di kios sayur berbisik-bisik, tangan menutup mulut.
“Lihat, Ye’er pakai qipao merah muda cantik sekali! Rambutnya digulung rapi seperti gadis kota
besar.”
“Tapi itu sepeda pemuda dari Feshua ya? Mereka pacaran katanya… wah, pendekar galak kita
akhirnya jinak juga!”
Aku dengar bisikan itu, pipiku panas tapi aku tak berhenti—aku gowes lebih cepat, angin
menyapu sanggulku, membuatku tertawa kecil sendiri. Reaksi mereka lucu—campur kaget,
kagum, dan iri.
Lalu aku ke pantai nelayan, tempat para pria jemur jaring dan perbaiki perahu kayu. Anak-anak
kecil sedang main pasir, tapi saat aku lewat dengan sepeda berdering “ding-ding-ding!” keras,
mereka semua lari mengikuti sambil berteriak gembira.
“Kak Feng Ye naik kuda besi! Cepat sekali! Ding-ding!”
Para nelayan tua berhenti kerja, tepuk tangan pelan sambil tertawa. “Wah, Ye’er! Kau makin
hebat! Dulu cambuk rambut sampai Gang Ho lari, sekarang naik kendaraan kota tanpa kuda!
Keren sekali!”
Aku balas lambaikan tangan, gowes keliling pantai sebentar, roda meninggalkan jejak di pasir
basah. Anak-anak lari di belakangku, tertawa-tawa, beberapa coba pegang roda belakang tapi
aku gowes lebih cepat hingga mereka kehabisan napas.
Dari pantai, aku naik ke bukit kecil di belakang desa—jalan tanah menanjak, tapi latihan kaki ku
dari Bajiquan membuat gowes ke atas terasa mudah. Di sana, beberapa wanita muda sedang
jemur kain di lereng, rambut mereka diikat sederhana. Saat aku lewat, mereka berhenti dan
tatap iri.
“Ye’er… qipao-nya cantik sekali! Rambut digulung rapi, seperti putri kota.”
“Tapi itu sepeda pemuda Wen ya? Mereka pacaran beneran… wah, iri aku. Pendekar cantik
punya kekasih sarjana kota.”
Aku dengar lagi, tapi kali ini aku bunyikan bel lebih sering “ding-ding-ding-ding!” sambil
tersenyum malu-malu. Beberapa pria muda di kejauhan—yang dulu pernah takut dekat aku
karena reputasi cambuk rambut—buang muka cepat, ingat duel-duelku yang berdarah.
Aku keliling lebih jauh: lewati sawah kecil di pinggir desa, di mana petani sedang tanam
padi—mereka angkat topi jerami dan tepuk tangan; lewati kuil kecil tua di ujung desa, di mana
biksu tua tersenyum aneh lihat aku naik “kuda besi”; bahkan lewati rumah-rumah kayu rendah,
di mana anak-anak kecil lari keluar pintu sambil teriak “Kak Ye’er cepat sekali!”
Sepanjang jalan, angin meniup qipao ku, sanggulku tetap aman, dan aku rasakan kebebasan
baru—bukan hanya sebagai pendekar yang ditakuti, tapi sebagai wanita yang bisa tertawa
bebas di atas roda berputar ini. Desa Shaonu Ta kecil, tapi hari itu terasa luas bagiku.

 

Aku akhirnya kembali ke gubuk setelah keliling desa yang menyenangkan itu. Matahari sudah
hampir tenggelam sepenuhnya, langit di ufuk barat berwarna merah jingga yang indah,
mencerminkan di permukaan laut yang tenang di depan rumahku. Aku gowes pelan di jalan
tanah terakhir, qipao merah mudaku masih berkibar lembut, sanggul “telur naga” yang Zhou
Wen buat tadi tetap rapi di atas ubun-ubunku—tak ada helai rambut yang lepas meski angin
desa cukup kencang saat aku ke bukit.
Seperti yang ia pesankan, saat sudah dekat gubuk—mungkin lima puluh langkah lagi—aku
bunyikan bel sepeda berkali-kali dengan keras: “ding-ding-ding-ding-ding!” suaranya menggema
di senja yang mulai gelap, seperti lonceng peringatan bahwa pendekar Shaonu Ta sudah
pulang dengan trofi baru: sepeda dari Barat.
Zhou Wen langsung keluar dari teras, tersenyum lebar sambil tepuk tangan pelan. Ia sudah
lepas kemeja latihan tadi, kini pakai yang bersih, rambut pendeknya agak basah seperti baru
mandi di sungai belakang. “Sudah pulang! Cepat sekali kau keliling desa. Berapa kali jatuh tadi
di jalan tanah yang berlubang itu?”
Aku turun dari sadel dengan bangga, kaki ku mendarat mantap di tanah, sepeda kutopang
dengan standar yang ia ajarkan. Aku usap keringat di dahi, tapi senyumku lebar tak bisa
disembunyikan. “Nol kali! Kau lihat sendiri—aku tak jatuh sama sekali. Gowes cepat di pantai,
naik bukit kecil, lewati pasar—semua lancar. Orang-orang desa kaget semua lihat aku naik
sepeda ini.”
Ia tertawa ngakak, maju peluk aku erat dari samping, cium pelan sanggulku lagi. “Hebat sekali,
kekasihku! Aku bangga. Besok kita keliling bersama ya—aku di depan, kau ikuti.”
Aku angguk di pelukannya, rasakan hangat tubuhnya setelah hari yang melelahkan tapi
menyenangkan. “Janji. Tapi sekarang hari sudah sore. Kau pulang dulu ya? Besok pagi datang
lagi untuk latihan kungfu.”
Ia cium pipiku pelan, lalu naik sepedanya sendiri yang terparkir di samping. “Baiklah. Istirahat
yang cukup. Aku cinta kau, Feng Ye.”
“Aku juga,” bisikku sambil lambaikan tangan saat ia gowes pergi, bel sepedanya berdering
pelan di jalan tanah yang mulai gelap.
Aku masuk gubuk sendirian, pintu kayu sederhana kututup pelan. Ruangan kecil itu sudah
mulai gelap, hanya cahaya senja terakhir yang masuk melalui jendela bambu. Aku lepas
sanggul “telur naga” yang ia buat tadi—tarik tusuk kayu perlahan, kepangku tergerai lagi
menjadi satu panjang tebal hingga betis, bergoyang bebas saat aku jalan ke dalam.
Tapi saat melangkah di lantai tanah yang ditutup tikar anyaman tipis, aku rasakan sesuatu aneh
di telapak kaki ku—seperti menginjak serpihan halus. Aku lihat ke bawah: banyak rontokan
rambut hitam pekat di mana-mana. Helai-helai pendek dan panjang, tersebar dari pintu masuk
hingga ke sudut ruangan, bahkan ke arah karung tua di rak belakang tempat aku timbun
rontokan rambut sejak usia 10 tahun—kebiasaan aneh yang ibu ajarkan, katanya untuk ingat
betapa rambut kita tumbuh dan kuat setiap hari.
Aku jongkok, ambil beberapa helai dengan jari. “Banyak sekali hari ini…” gumamku pelan.
Memang, sebagai pemilik rambut panjang 1,7 meter yang tebal, kerontokan normal
bagiku—terutama setelah latihan keras atau angin kencang seperti hari ini saat keliling desa.
Tapi ini lebih banyak dari biasa, dan… seperti ada jejak. Helai-helai itu tersebar tidak acak, tapi
seperti “jalan” kecil dari pintu hingga ke karung timbunan itu, seolah ada yang kumpul dan bawa
ke sana.
Aku bangkit, ambil sapu lidi kecil dari sudut dan serokan bambu. Aku mulai sapu pelan dari
pintu—rontokan banyak, hitam pekat berkilau di bawah cahaya lampu minyak yang baru
kunyalakan. Aku sapu ke arah karung, tambah ke tumpukan lama yang sudah penuh separuh
sejak bertahun-tahun.
Tapi saat buka karung itu untuk timbun rontokan baru… aku cium bau aneh. Bau amis, asing,
bukan bau minyak zaitun atau keringatku sendiri. Bau seperti… sesuatu yang basah, lengket,
dan manis tapi menjijikkan. Aku lihat lebih dekat di bawah cahaya lampu: di tumpukan rontokan
atas, ada tetesan cairan putih kental—seperti lendir, mengering di beberapa helai rambut,
membuatnya menggumpal aneh.
“Apa ini…?” bisikku bingung, jari ku sentuh pelan salah satu tetesan yang masih agak
basah—lengket, hangat sisa, dan bau amisnya lebih kuat saat dekat hidung. Bukan air, bukan
minyak, bukan darah. Sesuatu yang… aku tak tahu.
Aku ingat lemari kecil di sudut ruangan—lemari trofi lawan-lawanku. Aku buka pintunya pelan:
di sana ada potongan chonmage Ayaka yang kusimpan rapi dalam kotak kain, masih tebal dan
hitam seperti dulu. Aku angkat kotak itu, buka… dan mata ku melebar.
Di permukaan cepol chonmage itu, ada tetesan cairan putih kental yang sama—beberapa
sudah mengering jadi kerak, tapi jelas baru, karena dulu saat kusimpan tak ada yang seperti ini.
Aku duduk di lantai, pegang cepol itu dengan tangan gemetar. Pikiranku berputar cepat. Siapa
yang masuk gubukku saat aku keliling desa? Siapa yang sentuh rontokan rambutku… dan trofi
Ayaka ini? Dan cairan aneh ini… apa?
Hanya satu orang yang terobsesi begitu dalam pada rambutku. Yang selalu minta sentuh, sisir,
rawat setiap hari. Yang tahu aku simpan rontokan di karung itu karena pernah aku ceritakan
sebagai “warisan ibu”. Yang tahu lemari trofi karena pernah aku tunjukkan saat cerita duel
Ayaka.
Zhou Wen.
Aku tarik napas dalam, hati ku campur aduk—marah, bingung, tapi juga… penasaran aneh
yang membuat tubuhku bergetar. Besok ia datang lagi seperti biasa. Dan aku akan… cari tahu
sendiri.
Malam itu, aku tak bisa tidur nyenyak. Rambutku tergerai panjang di tikar, tapi pikiranku penuh
bayangan cairan putih itu. Apa yang kau lakukan saat aku tak ada, Wen? Dan kenapa… aku tak
langsung marah, tapi malah ingin tahu lebih dalam?

 Keesokan paginya, April yang semakin panas itu, aku bangun dengan hati yang campur
aduk—marah, penasaran, dan entah kenapa… ada getaran aneh di tubuhku yang tak bisa
kuhilangkan sejak penemuan cairan putih kental itu malam tadi. Aku tak tidur nyenyak,
rambutku tergerai panjang di tikar sepanjang malam, tapi pikiranku penuh bayangan: karung
rontokan yang berbau amis, cepol chonmage Ayaka yang ternoda cairan sama. Hanya satu
orang yang mungkin—Zhou Wen, kekasihku sendiri, yang obsesinya pada rambutku semakin
dalam setiap hari.
Tapi aku tak langsung konfrontasi. Aku putuskan pura-pura biasa saja, biar ia lengah. Aku
bangun pagi, mandi di sungai belakang, oles minyak zaitun ekstra hingga rambutku berkilau
hitam pekat, lalu ikat menjadi kepang tebal panjang seperti biasa. Aku pakai jubah biru tua
longgar untuk latihan, tapi di hati ku sudah rencanakan jebakan.
Zhou Wen datang tepat waktu, seperti selalu—sepedanya berderit pelan di jalan tanah,
wajahnya cerah dengan senyum malu-malu yang aku cintai. Ia bawa tas kain berisi buku sketsa
dan botol air segar dari Feshua.
“Pagi, Feng Ye!” sapanya ceria saat turun dari sepeda, langsung maju peluk aku di teras.
Tangannya langsung ke kepangku, elus pelan seperti ritual pagi kami. “Rambutmu harum sekali
hari ini. Sudah siap latihan Bajiquan?”
Aku peluk balik, tapi tatapanku diam-diam perhatikan wajahnya—ada lingkar hitam tipis di
matanya, seperti tak tidur nyenyak juga. “Pagi, Wen. Siap sekali. Hari ini kita latih serangan siku
dan lutut intens ya—kau sudah lebih kuat sekarang.”
Kami latihan dari pagi hingga siang di halaman belakang—aku demonstrasikan pukulan siku
pendek yang meledak, tendangan lutut dari jarak dekat, tangkisan cepat. Ia ikut dengan baik,
tubuhnya sudah lebih tegap berkat latihan sebulan ini, keringat kami bercampur di rumput. Aku
puji dia sering, tapi mata ku awasi—ia normal, mesra seperti biasa, tangannya sesekali elus
kepangku saat istirahat sebentar.
Setelah siang, kami duduk istirahat di teras, minum air dari botolnya. Aku usap keringat di
leherku, pura-pura santai. “Wen… hari ini aku ingin keliling desa lagi dengan sepedamu.
Kemarin seru sekali, aku mau coba rute lebih jauh ke bukit timur.”
Ia angguk antusias, tapi ada kilau lega di matanya—mungkin pikir aku tak curiga apa-apa.
“Boleh sekali! Gowes hati-hati ya. Dan ingat… kalau sudah dekat rumah, bunyikan bel
berkali-kali. Biar aku tahu kau pulang selamat.”
Aku tersenyum manis, cium pipinya pelan. “Janji. Kau istirahat di sini saja, aku tak lama.”
Aku naik sepedanya, gowes keluar gubuk—tapi pura-pura. Aku gowes sejauh sekitar seratus
meter, hingga tak terlihat dari gubuk, lalu putar balik diam-diam. Aku parkir sepeda di balik
semak tebal dekat pohon kelapa, lalu endap pelan kembali ke gubuk dari sisi
belakang—gerakanku lincah seperti saat latihan Bajiquan, tak ada suara.
Aku dekati pintu belakang yang terbuka sedikit—aku sengaja tak tutup rapat tadi. Aku
konsentrasikan pendengaran: suara terengah-engah pelan dari dalam, seperti napas tersengal
karena… usaha keras? Aku kenali suara itu—suara Zhou Wen.
Aku susup melalui jendela samping kecil yang selalu terbuka untuk angin, tubuhku masuk tanpa
suara. Aku sembunyi di balik lemari trofi, tatap ke ruangan utama.
Dan apa yang kulihat… membuat mata ku melebar, tubuhku bergetar hebat—campur marah,
kaget, dan sensasi aneh yang tak bisa kudeskripsikan.
Zhou Wen duduk bersila di lantai dekat karung rontokan rambutku, tas kainnya terbuka di
depannya. Ia sedang kumpul rontokan hitam pekat dari lantai dan karung—ratusan helai,
dengan tangan gemetar penuh nafsu. Ia endus-endus gumpalan itu pelan, mata setengah
terpejam, bisik-bisik sendiri: “Rambut Feng Ye… harum sekali… hitam, tebal… aku cinta kau…”
Lalu ia ambil gelang karet kecil dari sakunya, ikat rontokan itu menjadi satu ikatan seperti ekor
kuda kecil, lalu kepang perlahan dengan jari teliti—membuat kepang mini dari rontokan
rambutku. Ia puji lagi: “Cantik… seperti Ular Naga kecil…”
Aku hampir keluar dari sembunyi saat itu—tapi apa yang berikutnya membuatku membeku
total.
Ia buka resleting celana kain hitamnya pelan, keluarkan penisnya yang sudah menegang
keras—merah, berdenyut, sesuatu yang baru pertama kali kulihat langsung di hidupku. Aku
bergetar hebat di balik lemari, napasku tersengal—sensasi aneh mengalir di tubuhku, panas di
perut bawah, seperti saat ia rawat rambutku tapi lebih dalam, lebih liar.
Ia ambil kepang mini dari rontokan itu, gulung pelan ke batang penisnya yang
tegang—helai-helai hitam pekat melingkar rapat di sana. Lalu ia kocok pelan dulu, tangannya
naik-turun, mata terpejam nikmat. “Ah… Feng Ye… rambutmu… aku ingin sekali masukkan ini
ke sanggulmu… ke rambut panjangmu yang tergerai… aku cinta rambutmu… cinta kau…”
Ia kocok lebih cepat, racauannya semakin liar: “Ular Naga… lingkar aku… cambuk aku kalau
mau… tapi biar aku… di dalam rambutmu…” Napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar,
hingga akhirnya—dengan erangan pelan tertahan—penisnya menyembur cairan putih kental
yang sama seperti yang kutemukan malam tadi, membasahi kepang mini rontokan itu, menetes
ke lantai.
Ia berlutut setelah itu, napas tersengal, wajahnya penuh penyesalan. Ia bisik pada diri sendiri:
“Apa Feng Ye akan marah kalau tahu aku lakukan ini lagi… aku tak bisa tahan… rambutnya
terlalu indah…”
Aku tak tahan lagi. Aku keluar dari balik lemari pelan, tapi langkahku tegas. “Aku tidak marah
kok,” kataku dingin dari belakangnya.
Ia spontan loncat kaget, berbalik dengan wajah pucat. “Benarkah?! Feng Ye—kau… kau dari
mana?!”
Aku goyangkan kepalaku dengan cepat—kepang Ular Naga-ku meluncur seperti lasso hidup,
menjerat lehernya dari belakang dengan tepat, tak terlalu kencang tapi cukup buat ia tersedak
kaget. Aku tarik pelan, tubuhnya jatuh ke belakang hingga punggungnya bersandar ke
dadaku—aku peluk dia dari belakang, dominan, kepangku melingkar di lehernya seperti kalung
ular.
“Aku tidak marah kok, Zhou Wen,” bisikku galak di telinganya, suaraku dingin seperti saat aku
hadapi Gang Ho. “AKU MURKA!”
Ia gemetar hebat di pelukanku, tangannya coba pegang kepang di lehernya. “Feng Ye… maaf!
Lepaskan… aku… aku tak bermaksud—”
Aku tarik lebih erat sedikit, buat ia tersedak lagi. “Ternyata ada maling kecil di rumahku ini.
Kekasihku sendiri… selingkuh di belakangku dengan rontokan rambutku dan potongan rambut
Ayaka. Cairan putih itu… ulahmu ya? Setiap aku keluar, kau lakukan ini?”
Ia minta ampun, suaranya parau. “Maaf… maaf, Feng Ye! Aku tak selingkuh… aku hanya…
hanya tak bisa tahan obsesiku pada rambutmu…”
Aku lihat ke bawah—penisnya yang tadi menegang kini lembek, basah cairan putih, terbuka di
celana yang terbuka. Pertama kali aku lihat penis laki-laki langsung—merah, berdenyut sisa,
besar meski lembek sekarang. Aku bergetar hebat—marah, tapi juga sensasi aneh panas
mengalir di tubuhku, seperti saat ia rawat rambutku tapi lebih liar.
Aku tarik dia berdiri dengan kepang di lehernya, seret ke ranjang kayu sederhana tempat aku
tidur setiap malam. Ia tak melawan—hanya minta ampun terus. Aku baringkan dia di atas
ranjang, lepas baju dan celananya paksa hingga ia telanjang total—kulitnya putih mulus karena
jarang di luar, tubuhnya kekar karena latihan Bajiquan kami, penisnya lembek tapi mulai
bergerak lagi saat aku tatap.
Aku lepas jeratan kepang dari lehernya—ia batuk pelan—lalu ikat tangan dan kakinya ke empat
sudut ranjang dengan tali kain kuat yang kusimpan di laci. Ia terikat spread eagle, telanjang, tak
bisa gerak.
Aku naik ke ranjang, duduk di atas perutnya, kepangku tergerai panjang menyapu tubuh
telanjangnya. “Selama ini kau yang dominan mainkan rambutku, Wen. Buka ikatan, gerai, sisir,
oles minyak… kau buat aku lemah dengan kelembutanmu. Sekarang giliran aku. Aku akan
mainkan tubuhmu dengan Ular Naga yang kau cinta gila-gilaan ini.”
Ia bergetar takut, tapi mata nya penuh nafsu—penisnya mengeras lagi, menegang ke atas.
“Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, Zhou Wen,” kataku dingin, tanganku pegang
kepangku dan elus pelan dada telanjangnya. “Kalau kau bohong satu kata saja… kelembutan
Ular Naga ini akan berubah jadi cambuk seperti di duel-duelku dulu—yang buat pria menjerit
kesakitan.”
Ia mengangguk cepat, napas tersengal. “Tanya… apa saja, Feng Ye… aku jawab jujur…”
Aku tersenyum dalam hati—marah, tapi juga excited. “Saatnya aku beri kau sensasi surga dan
neraka sekaligus, kekasihku.”
Dan malam itu… permainan baru dimulai. Dengan rambutku sebagai senjata, dan tubuhnya
sebagai kanvas.

Aku duduk mengangkangi perut Zhou Wen yang telanjang di atas ranjang kayu sederhana itu,
tubuhku menekan ringan agar ia tak bisa gerak meski tangan dan kakinya sudah kuikat kuat ke
empat sudut ranjang dengan tali kain tebal. Kepang Ular Naga-ku tergerai panjang dari
ubun-ubunku, mengalir deras seperti air terjun hitam yang menutupi dada ku, lalu menyentuh
kulit telanjangnya—ujungnya menyapu perut, paha, bahkan sesekali menyentuh penisnya yang
kini menegang keras lagi, berdenyut penuh nafsu meski wajahnya pucat ketakutan.
Ruangan gubuk kecil itu gelap, hanya cahaya lampu minyak di meja sudut yang redup,
membuat bayangan kami bergoyang di dinding bambu seperti pertarungan bayangan. Bau
minyak zaitun dari rambutku bercampur bau keringat kami dari latihan siang tadi, dan
sekarang… bau amis cairan putih yang masih basah di lantai dekat karung rontokan.
Zhou Wen bergetar hebat di bawahku, napasnya tersengal, mata cokelatnya menatapku
campur takut dan hasrat yang tak bisa disembunyikan. Penisnya menegang ke atas, merah dan
berdenyut, seperti menantang kepangku yang menyapu kulitnya pelan.
“Feng Ye… maaf… lepaskan ikatanku… aku janji tak akan lagi…” bisiknya parau, suaranya
gemetar, tapi tubuhnya tak melawan—malah seperti menyerah total.
Aku tersenyum dingin, tangan kananku pegang pangkal kepangku, lalu angkat sedikit dan
biarkan ujungnya menyentuh dada telanjangnya—elus pelan dari atas ke bawah, seperti
cambuk yang mengancam tapi belum memukul. Kulitnya merinding, napasnya semakin cepat.
“Maaf? Terlambat, Wen,” kataku galak, suaraku rendah tapi tegas seperti saat aku ejek Gang
Ho sebelum cambuk dia. “Kau maling rontokan rambutku, kau nodai trofi Ayaka dengan cairan
kotor itu. Kau kocok penis kau dengan kepang kecil dari rambutku—racau ingin masukkan ke
sanggulku. Kau bilang cinta aku, tapi di belakangku kau lakukan ini sendirian seperti binatang.”
Ia menggeleng cepat, air mata mulai menggenang di matanya. “Aku… aku tak bisa tahan, Feng
Ye! Obsesiku pada rambutmu terlalu dalam… sejak pertama lihat, aku gila. Aku cinta kau, tapi
rambutmu itu… seperti bagian dari kau yang bisa aku pegang saat kau tak ada. Maaf… aku
salah… hukum aku kalau mau, tapi jangan tinggalkan aku!”
Aku tarik kepangku lebih dekat, biarkan ujung tebal itu menyapu penisnya yang
menegang—hanya sentuh ringan, seperti godaan. Ia mengerang pelan, tubuhnya menegang,
pinggulnya naik sedikit tanpa sadar.
“Lihat ini,” kataku sambil elus penisnya dengan ujung kepangku pelan, rasakan hangat dan
denyutannya di rambutku. “Kau takut, tapi ini mengeras lagi. Kau suka dihukum dengan
rambutku ya? Seperti saat kau minta dicambuk dulu waktu jatuh dari pohon.”
Ia menggigit bibir, erangan kecil keluar lagi. “Feng Ye… ya… aku suka… rambutmu… hukum
aku dengan itu… tapi jangan marah…”
Aku tertawa dingin, tapi di dalam hati ku—sensasi aneh mengalir deras. Melihat tubuh
telanjangnya terikat, penisnya menegang karena rambutku, membuatku berkuasa total. Selama
ini ia dominan dengan kelembutan—sisir, elus, buat aku lemah. Sekarang giliranku.
“Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, Zhou Wen,” kataku sambil angkat kepangku
tinggi, lalu sabet pelan ke dada telanjangnya—hanya ringan, seperti elusan tapi dengan
ancaman. Ia mengerang nikmat. “Kalau kau bohong satu kata saja… kelembutan Ular Naga ini
akan berubah jadi cambuk seperti di duel-duelku dulu. Yang buat Gang Ho menjerit kesakitan,
yang potong rambut Ayaka sampai ia nangis. Mengerti?”
Ia angguk cepat, penisnya berdenyut lebih keras saat kepangku menyentuh lagi. “Mengerti…
tanya apa saja… aku jujur…”
Aku sabet lagi pelan ke perutnya, lalu biarkan ujung kepang melingkar di penisnya—seperti
lasso hidup, lingkar rapat tapi tak kencang. Ia mengerang keras, pinggulnya naik, mata
terpejam nikmat.
“Pertama: sejak kapan kau lakukan ini? Kumpul rontokan rambutku, kocok dengan kepang kecil
itu?”
Ia tarik napas tersengal. “Sejak… sejak dua minggu lalu… saat kau cerita soal karung timbunan
rontokan sejak kecil. Aku… penasaran. Saat kau keluar, aku ambil sedikit… lalu… tak bisa
berhenti.”
Aku tarik kepang di penisnya pelan, buat ia mengerang lagi—surga nikmat bercampur ancaman
neraka. “Kedua: trofi Ayaka? Kau nodai juga dengan cairanmu?”
Ia angguk malu, air mata menetes. “Ya… aku ambil keluar kotak, endus… lalu… sama seperti
rontokanmu. Maaf… aku gila karena rambut… rambut panjang wanita pendekar…”
Aku sabet dada nya lebih keras kali ini—bunyi “plak!” kecil, meninggalkan garis merah tipis. Ia
jerit nikmat, tubuhnya menegang.
“Bagus, jujur. Sekarang… apa kau benar-benar cinta aku, atau hanya obsesi pada rambutku?”
Ia tatap mataku langsung, meski terikat dan telanjang. “Cinta kau, Feng Ye! Rambutmu yang
bawa aku ke kau, tapi sekarang aku cinta seluruh dirimu—yang galak, yang lembut, yang
cambuk lawan, yang tersipu saat aku sisir rambutmu. Aku mau jadi milikmu selamanya.”
Aku diam sejenak, hati ku luluh sedikit—tapi nafsu dominasi ku lebih kuat. Aku longgarkan
lingkaran kepang di penisnya, lalu gulung pelan seperti ia lakukan pada kepang rontokan
tadi—kepang tebal ku melingkar rapat di batangnya yang panas dan berdenyut.
“Ah… Feng Ye…” erangnya keras, pinggulnya naik lagi.
Aku kocok pelan dengan kepangku—naik turun, rasakan hangat dan denyutannya di rambutku
yang tebal. “Ini surga buatmu ya? Rambutku yang kau idamkan, sekarang mainkan penis kau.”
Ia angguk liar, erangan tak henti. “Ya… surga… tapi… hukum aku lebih keras kalau mau…”
Aku sabet paha dalamnya keras—bunyi “plak!” tajam, garis merah muncul. Ia jerit kesakitan tapi
nikmat, penisnya berdenyut lebih keras di gulungan kepangku.
“Ini neraka nya,” kataku dingin. “Kau suka keduanya ya? Surga kelembutan, neraka cambuk.”
Aku kocok lebih cepat dengan kepang, sabet dada dan paha bergantian—ringan lalu keras,
nikmat lalu sakit. Ia mengerang campur jerit, tubuhnya menegang total, hingga
akhirnya—dengan erangan panjang—penisnya menyembur cairan putih kental lagi, membasahi
kepangku yang melingkar di sana.
Ia lemas setelah itu, napas tersengal, air mata menetes. “Feng Ye… aku milikmu… hukum aku
sesukamu…”
Aku lepas ikatan tangan dan kakinya pelan, tapi kepangku tetap di penisnya yang lembek
sekarang. Aku peluk dia erat dari atas, rambutku tergerai menutupi kami berdua.
“Aku maafkan kau, Wen,” bisikku lembut sekarang, cium bibirnya pelan. “Tapi mulai sekarang,
obsesimu ini… kita lakukan bersama. Tak ada rahasia lagi. Rambutku milikmu—tapi kau juga
milik rambutku.”
Ia peluk balik lemah, tersenyum bahagia meski tubuh penuh garis merah. “Janji… aku milikmu
selamanya.”
Malam itu, kami bercinta untuk pertama kali—dengan rambutku sebagai bagian utama, surga
dan neraka bercampur jadi satu. Obsesinya tak hilang, tapi sekarang… jadi milik kami berdua.

 

BERSAMBUNG 

 

 



Comments

Popular Posts