Gula Coklat chapter 2
Beberapa minggu telah berlalu sejak malam pertama yang penuh gejolak itu, malam di mana aku benar-benar menyerahkan diri pada Abigail di bak mandi dan di ranjang kami yang sederhana. Tubuhku sudah pulih sepenuhnya sekarang—tak ada lagi kelemahan yang membuatku terbaring seperti mayat hidup. Luka-luka kecil dari perjalanan di jalan tanah sudah sembuh, dan otot-ototku mulai terbentuk kembali, meski dengan cara yang sama sekali berbeda dari dulu. Di perkebunan besar van Houten, aku hanya duduk di veranda, mengawasi ratusan budak bekerja di bawah terik matahari Louisiana. Kini, di kabin kayu kecil ini yang tersembunyi di tengah hutan pinus tua, aku harus bekerja dengan tanganku sendiri.
Pagi selalu dimulai dengan kokok ayam jantan yang kami pelihara di halaman kecil. Abigail bangun lebih dulu, tubuh tinggi semampainya yang ebony mengkilap karena keringat pagi, mengenakan rok sederhana dari kain bekas dan blus longgar yang tak lagi menutupi lekuk payudaranya sepenuhnya. Ia tersenyum saat melihatku membuka mata, rambut panjang tebalnya yang selalu dikepang satu saat bekerja menggantung hingga bokongnya yang bulat. “Selamat pagi, Tuan Muda,” katanya lembut, mencium keningku sebentar sebelum bangun untuk menyiapkan sarapan sederhana: telur ayam rebus dan roti jagung yang dipanggang di perapian.
Aku tak lagi bisa diam saja. Rasa bersalah—atau mungkin harga diri yang tersisa—mendorongku untuk membantu. “Abby, biar aku yang kerjakan sesuatu hari ini,” kataku suatu pagi, suaraku masih agak ragu. “Aku tak mau jadi beban bagimu.”
Ia menatapku lama, matanya yang cokelat dalam itu penuh kehangatan. “Kau tak pernah jadi beban, Tuan. Tapi kalau kau mau membantu… ya, silakan. Kebun kecil kita butuh dicangkul lagi. Sayuran mulai tumbuh, tapi rumput liar banyak sekali.”
Kebun itu tak lebih dari sepetak tanah kecil di halaman depan kabin, dikelilingi pagar anyaman dari ranting pinus. Abigail sudah menanam biji-biji yang ia selamatkan dari perkebunan lama: kacang panjang, jagung, ubi jalar, dan beberapa tanaman herbal untuk obat dan masakan. Tanahnya subur karena dekat rawa, tapi lembab dan penuh akar-akar liar yang harus dibabat.
Aku belajar dari ayahku dulu—bukan dengan tangan, tapi dengan mata. Aku ingat bagaimana ia memerintah pengawas untuk menggarap tanah tebu menjadi lahan luas, bagaimana cangkul harus masuk dalam-dalam agar akar tebu kuat. Kini, aku terapkan ilmu itu untuk sesuatu yang jauh lebih sederhana: makanan kami sendiri.
Aku melepas baju atasku, telanjang dada di bawah matahari pagi yang sudah mulai panas. Kulitku yang putih pucat, yang dulu selalu terlindung dari sinar matahari oleh topi lebar dan veranda, kini terpapar langsung. Keringat mulai mengalir di dada dan punggungku saat aku mengambil cangkul tua yang Abigail temukan di gudang perkebunan sebelum kabur. Celana panjangku yang sudah usang kusingsing hingga lutut, dan aku mulai mencangkul tanah dengan sekuat tenaga.
Tanahnya basah dan berat, lengket di mata cangkul. Setiap tusukan membuat otot lenganku bergetar—otot yang dulu hanya terbiasa memegang buku atau senapan berburu untuk hobi. Keringat menetes dari dahi, menyusuri hidungku, jatuh ke tanah merah yang mulai tergembur. Aku bernapas tersengal, tapi ada kepuasan aneh di dada: ini tanah yang aku garap sendiri, untuk kami berdua.
Abigail mengawasiku dari pinggir kebun, tangannya memegang keranjang untuk mengumpul rumput liar. Rambut kepangnya yang tebal mengayun-ayun saat ia bergerak, dan aku tak bisa menahan diri untuk melirik—kepang itu seperti tali sutra hitam yang hidup, mengingatkanku pada malam-malam ritual kami. “Hati-hati, Tuan Muda,” katanya sambil tertawa kecil, suaranya lembut tapi genit. “Jangan terlalu dipaksa. Kulit putihmu yang halus itu bisa gosong nanti.”
Aku tersenyum kaku, tapi terus bekerja. “Biarin saja, Abby. Aku harus belajar ini. Dulu aku cuma perintah orang lain… sekarang aku harus lakukan sendiri.”
Ia mendekat, menyeka keringat di dadaku dengan ujung kain kepalanya. Sentuhan tangannya yang hangat membuatku berhenti sebentar, napasku memburu bukan hanya karena lelah. “Bagus, Tuan. Kau semakin kuat sekarang. Aku suka lihat tubuhmu berkeringat begini… kulit putihmu mengkilap seperti mutiara.”
Kata-katanya membuat wajahku memanas, tapi aku kembali mencangkul, mengalihkan pikiran. Setelah kebun selesai—tanah tergembur, rumput liar terkumpul—aku istirahat sebentar, minum air dari sumur kecil yang Abigail gali. Lalu, kalau hari masih pagi, aku masuk ke hutan untuk berburu.
Hutan pinus di sekitar kabin ini lebat dan gelap, penuh suara burung dan binatang kecil. Dulu, berburu bagiku adalah hobi bangsawan: naik kuda bersama ayah, menembak rusa atau kijang dengan senapan mahal, lalu budak-budak yang membersihkan hasil buruan. Kini, senapanku sudah hilang entah ke mana saat perkebunan disita, jadi aku hanya bawa pisau kecil dan jebakan anyaman dari ranting.
Aku belajar sendiri—mengamati jejak kelinci di tanah basah, meletakkan umpan dari sisa sayur. Kadang aku berhasil tangkap satu-dua ekor kelinci kecil, atau burung kecil yang jatuh ke jebakan. Tubuhku yang telanjang dada lagi-lagi berkeringat saat aku merayap di semak-semak, ranting-ranting menggores kulit putihku hingga meninggalkan garis merah tipis. Tapi saat aku pulang membawa hasil buruan, Abigail tersenyum lebar, memelukku erat hingga aroma kayu manis dari tubuhnya membiusku lagi.
“Tuan Muda-ku hebat sekali hari ini,” katanya sambil memelukku dari belakang, payudaranya yang besar menekan punggungku, rambut kepangnya menyapu bahuku. “Nanti malam kita makan kelinci panggang.”
Aku mengangguk, merasakan getar aneh di tubuhku setiap kali ia begitu. Hidup ini sederhana, keras, tapi entah kenapa, terasa lebih nyata daripada kemewahan dulu. Dan Abigail… Abigail adalah pusat segalanya. Ia yang mandiri, yang mengurus ayam-ayam kami (lima ekor betina dan satu jantan yang galak), yang memasak, yang merawat kebun saat aku lelah. Aku membantu sebisaku, tapi aku tahu, tanpa dia, aku sudah mati di pinggir jalan.
Sore hari, saat matahari mulai turun di balik pohon-pohon pinus, aku duduk di teras kecil kabin, membersihkan hasil buruan atau sekadar istirahat. Abigail duduk di sampingku, menyisir rambut panjangnya yang baru dilepas kepangnya—helai-helai hitam tebal itu mengalir seperti air terjun hingga lututnya saat duduk. Aku selalu mencuri pandang, obsesiku tak pernah pudar.
Hidup baru ini… aku mulai terbiasa. Tapi malam yang akan datang, aku tahu, akan membawa ritual lain yang membuatku tak berdaya lagi.
Malam mulai turun dengan cepat di hutan ini. Matahari tenggelam di balik pepohonan pinus yang tinggi, meninggalkan langit berwarna jingga gelap yang perlahan berubah menjadi biru tua. Udara malam Louisiana masih lembab dan hangat, bercampur aroma tanah basah, daun pinus, dan asap kayu bakar dari perapian kecil di dalam kabin. Aku baru saja pulang dari hutan, membawa dua ekor kelinci kecil yang kutangkap dengan jebakan—hasil yang cukup untuk makan malam kami. Tubuhku basah keringat, kulit putihku yang telanjang dada tadi sore kini agak merah karena terbakar matahari, dan ada beberapa goresan kecil dari ranting semak di punggungku.
Abigail sudah menunggu di teras kecil, duduk di bangku kayu sambil mengupas ubi jalar dari kebun kita. Rambut panjangnya yang tebal masih dikepang satu seperti saat bekerja seharian, kepang itu menggantung hingga bokongnya yang bulat, mengayun pelan setiap kali ia bergerak. Ia mengenakan rok panjang sederhana dari kain bekas dan blus tipis yang sedikit basah di bagian dada karena keringat—membuat lekuk payudaranya yang besar terlihat lebih jelas di bawah cahaya api unggun kecil yang ia nyalakan di halaman.
“Selamat pulang, Tuan Muda,” katanya lembut saat aku mendekat, senyuman tipisnya membuat bibir tebalnya yang gelap itu terlihat lebih menggoda di cahaya senja. “Hasil buruan bagus hari ini, ya? Dua ekor kelinci… kita bisa panggang satu, yang satunya diasap untuk besok.”
Aku meletakkan kelinci-kelinci itu di meja kayu kecil di teras, napasku masih agak tersengal karena perjalanan pulang. “Ya, Abby. Lumayan. Jebakan yang kau buat kemarin berhasil.” Aku duduk di sampingnya, menyeka keringat di dada dengan kain lap usang. “Hari ini aku juga selesai mencangkul separuh kebun. Tanahnya sudah gembur untuk tanam kacang lagi.”
Ia tertawa kecil, suaranya seperti lonceng perak yang lembut. “Hebat sekali Tuan Muda-ku sekarang. Dulu di perkebunan besar, kau cuma duduk di veranda sambil minum teh, perintah budak-budak mencangkul. Sekarang… lihat ini.” Tangannya menyentuh lenganku yang mulai berotot karena kerja keras, jari-jarinya yang hangat mengusap kulit putihku yang berkeringat. “Ototmu mulai kelihatan. Kulitmu juga lebih kuat… meski masih putih seperti salju.”
Aku tersenyum canggung, tapi ada kebanggaan kecil di dada. “Aku baru tahu rasanya kerja di kebun seperti ini, Abby. Capek sekali. Tanganku pegal semua, punggungku panas. Dulu aku pikir mudah saja… ternyata tidak.”
Kami masuk ke dalam kabin saat malam benar-benar turun. Perapian kecil menyala, menerangi ruangan sederhana kami: meja kayu kecil, dua kursi, ranjang di sudut dengan kasur jerami yang kami isi ulang sendiri, dan rak-rak kecil untuk peralatan masak. Abigail mulai memasak—memanggang kelinci di atas api dengan bumbu herbal dari kebun, merebus ubi jalar, dan membuat kuah sederhana dari tulang ayam sisa kemarin. Aroma daging panggang dan rempah menyebar, membuat perutku keroncongan.
Kami makan malam di meja kecil itu, duduk berhadapan, hanya diterangi cahaya api dan lilin tebal di tengah meja. Piring kayu sederhana, sendok dari tulang, tapi rasanya lebih enak daripada makanan mewah di rumah besar dulu. Aku mengunyah daging kelinci yang empuk, kulitnya renyah karena dipanggang sempurna.
“Ini enak sekali, Abby,” kataku sambil menambahkan potongan ubi ke piringku. “Kau pintar masak. Aku baru sadar sekarang… betapa susahnya hidup seperti ini, tapi juga… memuaskan.”
Abigail tersenyum, matanya menatapku dalam-dalam sambil ia mengunyah pelan. “Senang kau bilang begitu, Tuan. Aku sudah biasa dari dulu—masak untuk rumah besar, tapi sekarang hanya untuk kita berdua. Lebih spesial, kan?”
Aku mengangguk, lalu diam sebentar, menatap tanganku yang kasar karena cangkul. “Abby… sekarang aku tahu rasanya kerja di kebun. Capek, tapi ada hasilnya langsung. Dulu aku cuma lihat dari jauh.”
Ia meletakkan sendoknya, mendekatkan tubuhnya sedikit ke meja. “Bagaimana rasanya hidup bersama seorang wanita negro seperti aku, Tuan Muda? Tak ada lagi pelayan lain, tak ada rumah besar… hanya aku yang hitam ini yang urus kau setiap hari.”
Pertanyaannya membuatku tergagap sebentar. Aku menatap wajahnya yang cantik ebony itu—kulit gelap mengkilap di cahaya api, mata cokelat dalam, bibir tebal yang selalu membuatku gelisah. “Aku… tak kusangka kau begitu mandiri, Abby. Kau bisa segalanya—tanam, pelihara ayam, masak, bahkan buat jebakan buruan. Aku yang dulu tuan muda… sekarang belajar dari kau.”
Ia tertawa pelan lagi, tapi tatapannya berubah—like serigala yang melihat mangsa lezat. “Benarkah? Kau tak rindu rumah besar itu? Kamar mewah, veranda luas, budak-budak yang patuh pada setiap perintahmu?”
Aku menggeleng pelan. “Kadang ya… tapi sekarang, di sini dengan kau… rasanya cukup. Tapi kau sendiri, Abby? Kau tak rindu rumah besar dulu? Hidup sebagai… sebagai pelayan di sana?”
Abigail tak langsung jawab. Ia berdiri perlahan, tubuh tinggi semampainya yang langsing tapi berisi itu menjulang di depanku, membuatku mendongak. Roknya menyapu lantai kayu, blus tipisnya menegang di dada karena gerakan. Tatapannya lapar, seperti serigala yang siap menerkam. “Aku lebih senang di sini… bersamamu, Tuan Muda.”
Sebelum aku bisa bereaksi, ia mendekat dengan langkah pelan tapi pasti. Tubuhnya yang kuat itu membungkuk, tangannya meraih pinggangku, dan dengan mudah—terlalu mudah—ia mengangkat tubuhku dari kursi, memelukku erat ke dadanya seperti memeluk anak kecil. Payudaranya yang besar menindih dadaku, aroma kayu manis dari kulitnya yang hangat menyelinap ke hidungku, membuat kepalaku pening.
“Abby… apa—” protesku lemah, tanganku mencoba mendorong bahunya, tapi sia-sia. Wanita negro ini jauh lebih kuat dariku—otot-ototnya yang terlatih dari kerja bertahun-tahun membuatku tak berdaya di pelukannya.
“Aku lebih senang di sini bersamamu, Tuan Muda,” bisiknya lagi, suaranya serak karena hasrat. Lalu bibir tebalnya yang gelap itu menekan bibirku—ciuman yang dalam, kuat, lidahnya menyusup memaksa, menghisap napasku seolah ingin menelanku utuh.
Aku berusaha melepas diri, tanganku mendorong dadanya yang lembut tapi tegas itu, tapi tubuhku justru bereaksi lain. Dalam hati, aku mengakui: aku bahagia. Bahagia bisa dicintai, dimanjakan oleh tubuh ebony yang hangat ini, oleh kelembutan yang bercampur dominasi. Tapi pikiranku berkata lain—aku seorang kulit putih, keturunan tuan tanah terpandang, seharusnya tidak jatuh cinta pada wanita negro seperti ini. Ini terlarang, memalukan, bertentangan dengan segala yang diajarkan ayahku sejak kecil.
Tapi kehangatan tubuhnya, aroma kayu manis yang memabukkan, bibir tebal yang menghisap bibirku dengan lapar—semuanya membuat aku lupa diri. Aku berhenti melawan, malah membalas ciumannya pelan, tanganku tanpa sadar memeluk pinggangnya yang lebar.
Abigail mendesah puas di antara ciuman, lalu—with kekuatan yang sama—ia menggendongku lagi seperti bayi, tangannya di bawah bokongku, tubuhku menempel erat ke dadanya. “Sudah waktunya tidur, Tuan Muda-ku,” bisiknya genit sambil berjalan ke ranjang kami yang hanya satu itu. “Malam ini… ritual kita dimulai lagi.”
Aku hanya bisa mengangguk lemah, jantungku berdegup kencang, tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pelukan Abigail semakin erat, tubuhnya yang tinggi dan kuat itu membawaku melayang dari meja makan kecil menuju ranjang kami di sudut kabin. Kakiku menggantung lemas di udara, seperti anak kecil yang digendong ibunya, dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain merasakan kehangatan tubuh ebony-nya yang menempel sepenuhnya padaku. Payudaranya yang besar dan lembut itu menindih dadaku, putingnya yang mengeras bergesek dengan kemejaku yang tipis, sementara aroma kayu manis yang selalu melekat pada kulitnya menyusup ke hidungku, membuat kepalaku pening dan hasratku bangun perlahan.
“Abby… letakkan aku turun,” protesku lagi, suaraku lemah dan setengah hati, tanganku mendorong bahunya yang tegas tapi tak berhasil sama sekali. “Aku… aku sudah besar, bukan bayi lagi.”
Ia tertawa pelan, suaranya dalam dan genit, napasnya hangat menyapu telingaku. “Justru karena itu, Tuan Muda. Kau besar sekarang… tapi tetap bayiku. Bayi yang nakal, yang selalu mengintip mbok-mu dulu.” Ia mencium pipiku pelan, bibir tebalnya yang lembab meninggalkan jejak hangat, lalu melanjutkan langkahnya hingga kami sampai di sisi ranjang.
Dengan gerakan lembut tapi tegas, Abigail menurunkanku ke kasur jerami yang kami lapisi kain tipis itu. Tubuhku terbaring telentang, napasku tersengal karena ciuman tadi dan karena tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Cahaya api unggun dari perapian kecil menerangi wajahnya—wajah ebony yang cantik, mata cokelat dalam yang penuh lapar, bibir tebal yang masih basah karena ciuman kami.
“Malam ini ritual kita lagi, ya, Tuan?” katanya manja sambil naik ke ranjang, berlutut di sampingku. Rambut kepangnya yang tebal dan panjang itu menggantung ke depan, ujungnya menyapu dadaku seperti tali sutra hitam yang hidup. “Kau sudah capek seharian kerja di kebun dan berburu… biar aku yang urus kau sekarang. Sepenuhnya.”
Aku menelan ludah, jantungku berdegup kencang. “Abby… kita baru saja makan malam. Mungkin istirahat dulu—”
“Tidak,” potongnya lembut tapi tegas, tangannya sudah mulai membuka kancing kemejaku satu per satu. Gerakannya lambat, sengaja, seperti menikmati setiap detik. “Kau sudah janji, Tuan Muda. Kau akan manjakan aku juga… dengan membiarkan aku manjakan kau seperti ini.” Kancing pertama terbuka, lalu kedua, hingga dadaku yang putih dan agak berotot karena kerja keras akhir-akhir ini terbuka sedikit demi sedikit.
Aku hanya bisa diam, tubuhku bereaksi meski pikiranku masih bergulat. Kulit putihku yang kontras dengan tangan gelapnya yang mengusap dada membuat sensasi aneh—seperti api dingin yang membakar. Abigail melepas kemejaku sepenuhnya, membuangnya ke lantai kayu, lalu tangannya menyentuh kulit telanjangku langsung: mengelus dada, perut, hingga ke pinggang.
“Kulitmu… ya Tuhan, kulit putihmu ini,” gumamnya penuh kagum, jari-jarinya mengusap pelan seperti menyentuh barang berharga. “Sejak kau kecil, aku sudah terobsesi dengan ini. Saat aku mandikan kau sebagai bayi, aku selalu kagum… kulit seputih salju, halus seperti sutra. Tak ada cacat. Dan sekarang… masih sama. Bahkan lebih indah karena berkeringat seharian.”
Kata-katanya membuat wajahku memanas. “Abby… jangan bilang begitu. Aku… aku malu.”
Ia tersenyum lebar, matanya berbinar nakal. “Malu? Kenapa malu, Tuan? Ini milikku sekarang. Kulit putih ini… aku yang rawat sejak kecil. Aku yang cukur ketiakmu setiap minggu biar tetap halus.” Tangannya naik ke ketiakku, dan aku baru sadar—ia memang rutin mencukur bulu-bulu halus di sana, membuatnya tetap licin seperti anak kecil.
Abigail bangun sebentar, mengambil tali kain tipis dari laci kecil di samping ranjang—tali yang sering ia gunakan untuk “ritual” ini. “Angkat tanganmu ke atas, Tuan Muda,” perintahnya lembut.
Aku ragu sebentar, tapi patuh. Tanganku terangkat ke atas kepala, dan ia mengikat pergelangan tanganku ke tiang ranjang kayu yang kasar itu—tak terlalu erat, tapi cukup untuk membuatku tak bisa lepas. Tubuhku kini terbaring telanjang torso, tangan terikat di atas, ketiakku yang licin dan putih terekspos sepenuhnya, dada naik-turun karena napas yang semakin cepat.
“Begini baru indah,” katanya puas, duduk berlutut di sampingku lagi, matanya menelusuri tubuhku seperti serigala yang mengamati mangsa. “Ketiakmu yang halus ini… aku suka lihat begini. Seperti bayi besar yang tak berdaya.” Jari-jarinya menyentuh ketiakku pelan, mengelus bulu-bulu halus yang hampir tak ada, membuatku menggeliat geli.
“Abby… lepasin ikatannya,” pintaku lemah, tapi penisku sudah mulai menegang di balik celana, mengkhianati kata-kataku.
“Belum, Tuan,” jawabnya genit, tangannya terus mengelus seluruh kulit putihku: dari ketiak ke dada, mengusap putingku yang kecil hingga mengeras, lalu ke perut yang mulai berotot tipis. “Aku mau puja-puja kulit ini dulu. Kulit tuan muda yang seputih salju… yang dulu hanya aku yang boleh sentuh saat mandikan kau. Sekarang… setiap malam aku bisa lakukan ini.”
Ia membungkuk, bibir tebalnya mencium dada ku pelan, lidahnya menjilat keringat sisa seharian, meninggalkan jejak basah yang dingin. Aku mendesah tak terkendali, tubuhku menegang di ikatan. “Abby… ahh… itu…”
“Enak, ya, Tuan?” bisiknya sambil terus mencium, turun ke perutku, tangannya mengelus pinggang. “Kulitmu ini obsesiku sejak dulu. Saat kau kecil, aku selalu ingin cium lebih lama… tapi tak boleh. Sekarang boleh. Dan kau tak bisa lari.”
Abigail berbaring di samping kananku, tubuhnya menempel erat, payudaranya yang besar menindih lenganku yang terikat. Rambut kepangnya yang tebal dan panjang itu ia angkat perlahan, meletakkannya di atas dadaku seperti ular sanca hitam yang sedang melingkar. Kepang itu berat, tebal, panjangnya hingga melewati perutku, ujungnya hampir menyentuh selangkanganku.
“Sekarang… ular sancaku mulai main, Tuan Muda,” katanya dengan nada dalang yang genit, tangannya memegang kepang itu dan mulai menggerakkannya pelan—meliuk-liuk di atas dadaku, seperti ular hidup yang mencari mangsa.
Aku merasakan sensasi geli yang luar biasa, helai-helai rambut yang terjalin rapat itu bergesek dengan kulit putihku, dingin dan lembut, tapi berat karena tebalnya. “Abby… hihihi… geli… stop…” aku tertawa kecil tak terkendali, tubuhku menggeliat.
Tapi ia tak berhenti. Malah ia menirukan suara ular—“Sssst… sssst…”—sambil menggerakkan kepang itu lebih lincah, melingkar di putingku, menyapu perutku. “Ular sanca ini lagi cari mangsa enak, Tuan… mangsa putih yang manis…”
Sensasi geli itu bercampur hasrat, penisku semakin keras di balik celana. Aku memohon ampun berkali-kali, tapi Abigail hanya tertawa, matanya penuh kemenangan.
Tangan ku terikat erat di atas kepala, tubuhku terbaring telanjang dari pinggang ke atas di atas kasur jerami yang kasar itu. Cahaya api unggun dari perapian kecil menari-nari di dinding kayu kabin, menerangi wajah Abigail yang ebony cantik itu—matanya berbinar penuh godaan, bibir tebalnya melengkung dalam senyuman nakal yang membuat jantungku berdegup lebih kencang. Ia berbaring miring di samping kananku, tubuhnya yang tinggi semampai menempel erat, payudaranya yang besar dan hangat menindih lenganku yang terikat, puting cokelat gelapnya yang mengeras bergesek pelan dengan kulit putihku setiap kali ia bernapas.
Rambut kepangnya yang tebal dan panjang—satu kepangan hitam legam yang rapat, sepanjang dari kepala hingga melewati bokongnya saat berdiri—kini terletak berat di atas dadaku. Kepang itu seperti makhluk hidup sendiri: berat, tebal, helai-helai rambut yang terjalin sempurna mengembang sedikit karena kelembaban udara malam, aroma herbal samar dari minyak yang ia gunakan untuk merawatnya menyusup ke hidungku, bercampur kayu manis dari tubuhnya.
Abigail memegang ujung kepang itu dengan satu tangan, jari-jarinya yang gelap memandu gerakannya perlahan. “Sssst… sssst…” ia menirukan suara ular sanca dengan nada genit, suaranya rendah dan menghipnotis, seperti dalang yang sedang memainkan wayang di atas panggung. Kepang itu mulai bergerak—meliuk-liuk pelan di atas kulit dadaku yang putih, seperti ular hitam yang sedang merayap mencari mangsa.
Sensasinya langsung membuatku menggeliat. Tekstur kepang itu kasar sedikit karena anyaman rapatnya, tapi lembut di ujung-ujung helai yang menjuntai, dingin karena udara malam, tapi hangat karena dekat dengan tubuhnya. Ia menyapu putingku yang kecil dan mengeras itu, melingkar pelan di sekitarnya, lalu turun ke perutku, meliuk seperti gelombang.
“Hihihi… Abby… geli… stop!” aku tertawa kecil tak terkendali, tubuhku menggelosor di kasur, tapi ikatan di tanganku membuatku tak bisa kabur. Rasa geli itu luar biasa—seperti ribuan bulu halus yang menggelitik sekaligus, bercampur sensasi berat dari kepang tebal itu yang menekan kulitku.
“Tuan Muda yang nakal,” kata Abigail dengan nada pura-pura marah, tapi matanya penuh tawa dan hasrat. Ia mempercepat gerakan kepang itu, membuatnya melingkar lebih lincah di dada ku, menyapu ketiakku yang terbuka dan licin. “Sejak kecil sudah berani ya mengintip mbok-mu ini waktu menyisir rambut. Sekarang tuan harus kuhukum atas kenakalannya semua!”
“Abby… ampun… hahaha… benar-benar geli!” aku memohon, kepalaku menggeleng ke kiri-kanan, napasku tersengal karena tertawa dan hasrat yang mulai bercampur. Penisku sudah menegang keras di balik celana panjangku yang tipis, menonjol jelas, tapi Abigail pura-pura tak sadar dulu.
Ia terus memainkan kepang itu seperti dalang ulung—menggerakkannya naik-turun, meliuk ke kiri-kanan, sesekali menekan lebih erat hingga aku merasakan berat penuhnya. “Ular sanca ini lagi lapar, Tuan,” bisiknya rayu melalui “boneka” kepangnya, suaranya berubah-ubah seperti sedang berbicara atas nama ular itu. “Lagi cari mangsa putih yang manis… yang kulitnya halus seperti susu… sssst… mau dilahap pelan-pelan…”
Kepang itu turun lebih bawah, menyapu perutku, melingkar di sekitar pusar, lalu naik lagi ke dada, menyentuh putingku berkali-kali hingga aku mendesah campur tertawa. “Abby… tolong… aku tak tahan… ampun… hihihi… ahh!”
Ia tak digubris sama sekali. Malah ia mendekatkan wajahnya, bibir tebalnya mencium leherku pelan sambil tangannya terus memandu kepang itu. “Hukuman belum selesai, Tuan nakal. Ular sanca ini baru mulai… dia suka main dengan mangsa yang menggeliat begini. Lihat, mangsa putihku sudah bereaksi di bawah sana.”
Aku memohon berkali-kali—“Abby… cukup… aku janji tak nakal lagi… lepaskan ikatannya!”—tapi suaraku semakin lemah, tertawa bercampur desahan. Tubuhku basah keringat lagi, kulit putihku mengkilap di cahaya api, dan penisku sudah berdenyut-denyut di balik kain celana, basah di ujung karena cairan pra-ejakulasi yang mulai keluar.
Abigail tersenyum nakal, matanya melirik ke bawah, ke tonjolan yang semakin jelas di selangkanganku. “Eh eh eh, apa ini yang sedang mengintip di bawah sini?” katanya manja, suaranya seperti ibu yang menemukan anak kecil sedang nakal. Ia menggerakkan kepang itu lebih lambat sekarang, tapi lebih sengaja—turun dari dada, meliuk di perut, hingga ujung kepang menyapu pangkal pahaku melalui celana.
Aku menggeliat lebih hebat, pinggulku terangkat sendiri. “Abby… jangan… di situ…”
“Oh, kelinci putih Tuan Muda sudah bangun ya?” katanya genit, tangannya memegang kepang lebih erat. “Mau kemana kamu, kelinci imutku yang menggemaskan? Ular sanca ini sudah lihat kau… sekarang mau dibelit erat-erat.”
Dengan gerakan lincah, ia mengarahkan kepang itu langsung ke selangkanganku, menyapu tonjolan penisku melalui kain celana, melingkar pelan di sekitarnya. Sensasi itu… ya Tuhan, geli dan nikmat bercampur gila-gilaan, membuatku merintih keras.
“Abby… ahh… cukup… aku… aku mau…”
Ia tertawa kecil, tapi tak berhenti. Malah ia mulai membuka ikat pinggang celanaku dengan tangan satunya, siap melanjutkan “hukuman” ke tahap berikutnya.
Napasku sudah tersengal-sengal, tubuhku menggeliat tak terkendali di atas kasur jerami yang kasar itu. Tangan ku masih terikat erat di atas kepala, ketiak licin yang selalu Abigail cukur sendiri terekspos lebar, dada dan perutku basah keringat karena permainan “ular sanca” yang baru saja ia lakukan dengan kepang rambutnya yang tebal. Kepang hitam legam itu masih meliuk-liuk pelan di atas perutku, ujungnya menyapu pangkal pahaku melalui kain celana yang sudah basah di bagian depan karena cairan pra-ejakulasi yang tak tertahankan.
Abigail berlutut di sampingku sekarang, tubuh tinggi semampainya yang telanjang dari pinggang ke atas menjulang seperti ratu ebony yang sedang menikmati kemenangannya. Payudaranya yang besar dan bulat bergoyang pelan setiap kali ia bergerak, puting cokelat gelapnya yang besar mengeras karena hasrat, berkilau karena keringat tipis yang menyelimuti kulit gelapnya yang mengkilap. Matanya menatap tonjolan di selangkanganku dengan lapar, bibir tebalnya yang merah kecoklatan menjilat sendiri pelan, seperti sedang membayangkan rasa yang akan ia dapatkan.
“Eh eh eh, apa ini yang sedang mengintip di bawah sini?” katanya lagi dengan nada manja yang genit, suaranya seperti ibu yang sedang menggoda anak kecil nakal. Tangannya yang gelap dan kuat meraih ikat pinggang celanaku, membukanya dengan satu tarikan lincah, lalu menarik celana itu ke bawah bersama celana dalamku dalam satu gerakan. Penisku yang sudah menegang keras sejak tadi langsung terloncat bebas—batang putih pucatku yang tebal untuk ukuran tubuhku, kepalanya merah dan basah, berdenyut-denyut di udara malam yang hangat.
“Oh, kelinci putih Tuan Muda sudah bangun sepenuhnya ya?” kata Abigail sambil tertawa kecil, matanya berbinar penuh godaan. “Mau kemana kamu, kelinci imutku yang menggemaskan? Ular sanca ini sudah melihatmu… sekarang mau dibelit erat-erat, tak boleh lari lagi.”
Aku menunduk malu, wajahku memanas seperti terbakar, tapi penisku justru semakin keras mendengar kata-katanya. “Abby… jangan bilang begitu… aku… aku malu…”
“Malu? Kenapa malu, Tuan sayang?” bisiknya sambil mendekatkan wajahnya ke selangkanganku, napas hangatnya menyapu kepala penisku yang sensitif hingga aku mendesah keras. “Ini kelinci putih yang paling aku suka… kecil, putih, manis, dan selalu bereaksi cepat kalau digoda rambutku.” Ia mengambil kepang tebalnya yang panjang itu dengan kedua tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti ular sanca yang siap menerkam, lalu perlahan—sangat perlahan—ia mulai melilitkannya di sekitar batang penisku.
Sensasinya… ya Tuhan, tak tertahankan. Kepang itu tebal, anyamannya rapat tapi lembut, helai-helai rambut hitam yang terjalin sempurna itu membelit penisku dari pangkal hingga hampir ke kepala, seperti tali sutra hidup yang hangat dan berat. Teksturnya kasar sedikit di bagian anyaman, tapi halus di ujung-ujung helai yang menjuntai, dingin karena udara malam tapi cepat hangat karena suhu tubuhnya yang menempel. Setiap lilitan membuat penisku berdenyut lebih keras, urat-uratnya menonjol di bawah belitan kepang hitam yang kontras sempurna dengan kulit putihku.
“Abby… ahh… itu… terlalu…” rintihku, pinggulku terangkat sendiri, mencari lebih banyak sentuhan.
“Enak, ya, Tuan?” bisiknya sambil mulai mengocok pelan—naik-turun dengan irama mantap, tangannya memandu kepang itu seperti sedang memerah susu. Gerakannya lambat dulu, membiarkan aku merasakan setiap inci belitan: kepang tebal itu menggesek kulit sensitif batangku, menyapu bola zakarku di bawah, helai-helai rambut yang longgar menyentuh paha dalamku seperti ribuan jari halus. “Rambut kepangku ini… aku rawat bertahun-tahun supaya tebal dan panjang begini. Supaya bisa melilit kelinci putihmu erat-erat… seperti sekarang.”
Ia mempercepat sedikit, kepang itu semakin licin karena cairan pra-ejakulasi yang keluar deras dari kepala penisku, membasahi anyaman rambut hitam itu hingga mengkilap. Suara gesekan basah terdengar pelan di kabin sunyi—“slurp… slurp…”—campur dengan desahanku yang semakin tak terkendali. Abigail memutar kepang itu sesekali, membuat belitan semakin erat di pangkal, lalu longgar di ujung, ibu jarinya menyentuh kepala penisku setiap kali naik, mengusap lubang kecil itu hingga aku merintih keras.
“Lihat, Tuan… kelinci putihmu sudah basah sekali,” katanya genit, matanya tak lepas dari pemandangan kontras itu: rambut negro tebalnya yang hitam legam melilit penis kulit putihku yang pucat dan berdenyut. “Ular sanca ini suka nektar manis dari kelinci… mau diteguk semua nanti.”
Gerakannya semakin cepat sekarang—naik-turun lincah, kepang tebal itu mengocok penuh, dari pangkal hingga ujung, helai-helai rambut menyapu seluruh panjang penisku seperti sikat sutra yang hidup. Aku merasakan tekanan semakin kuat, bola zakarku menegang, pinggulku bergerak sendiri mengikuti irama.
“Abby… aku… aku mau keluar… tolong…” mohonku, kepalaku terdongak ke belakang, ikatan tanganku menegang karena tubuhku menarik-narik.
Abigail tersenyum lebar, matanya penuh kemenangan. Ia tahu aku sudah di ambang. Tapi tepat saat aku akan ejakulasi, ia melepaskan lilitan kepang itu dengan cepat—hanya satu tarikan lincah, dan kepang tebal itu terlepas dari penisku yang berdenyut gila-gilaan.
“Ahh… Abby!” jeritku keras saat spermaku muncrat deras—semburan demi semburan putih kental yang panas, menyemprot tinggi lalu jatuh ke seluruh tubuhku sendiri: ke dada putihku, perut, bahkan hingga ke pangkal penisku yang masih berdenyut. Beberapa tetes sampai ke kepang rambutnya yang ia pegang, membasahi anyaman hitam itu dengan cairan putih yang kontras.
Aku terengah-engah hebat, tubuhku lemas di kasur, penisku masih berdenyut-denyut mengeluarkan sisa-sisa mani yang menetes ke perutku. Abigail menatap “karya”-nya dengan mata lapar, menjilat bibir tebalnya pelan.
“Tuan Muda sudah seperti Yogurt sekarang,” katanya sambil tertawa kecil, suaranya serak karena nafsu. “Putih, manis, dan penuh krim di mana-mana… kue putu kesukaan Abigail-mu.”
Ia membungkuk perlahan, wajah cantik ebony-nya mendekat ke tubuhku yang belepotan sperma, siap melanjutkan ritual malam ini dengan lidah dan bibirnya yang tebal.
Ia mulai menjilat sungguh-sungguh sekarang—dari dada ke bawah, lidahnya menyeruput setiap tetes mani yang menempel, meninggalkan jejak air liur yang mengkilap di kulit putihku. “Mmm… manis sekali, Tuan,” gumamnya di antara jilatan, suaranya seperti sedang menikmati makanan favorit. “Yogurt putih dari kelinci Tuan Muda… lebih enak dari madu.”
Tapi tak lama, ciumannya berubah. Bibir tebalnya tak hanya mencium dan menjilat—ia mulai menghisap kulitku keras, meninggalkan cupangan merah di dada, di perut, di sekitar putingku yang kecil. Setiap hisapan itu nikmat sekaligus sakit—seperti digigit pelan tapi dalam, kulitku tertarik ke dalam mulutnya yang hangat, lalu dilepas dengan suara “pop” kecil.
“Ahh! Abby… sakit… pelan…” rintihku, tubuhku menggeliat lagi, tapi ikatan membuatku tak bisa kabur.
“Sakit? Tapi enak juga kan, Tuan?” katanya genit sambil terus mencupang, bibirnya pindah ke sisi dada ku, meninggalkan bekas merah bulat yang semakin banyak. “Ini tanda cinta aku… biar kulit putihmu yang halus ini ingat siapa yang punya kau sekarang.”
Ia tak berhenti—selama puluhan menit, bibir dan lidahnya menjamah setiap inci tubuhku bagian depan: mencium, menjilat sisa mani yang tersisa, lalu mencupang keras di dada, perut, pinggang, bahkan di paha dalamku yang putih. Setiap cupangan membuatku merintih campur—nikmat karena sentuhan lidahnya yang basah, sakit karena hisapan yang dalam hingga kulitku memar merah. “Abby… tolong… cukup… aku tak tahan…” mohonku berkali-kali, tapi tubuhku justru bereaksi lain—penisku mulai menegang lagi meski baru saja ejakulasi.
Ia pura-pura tak dengar, malah tertawa kecil di antara hisapan. “Tuan Muda-ku suka kan? Lihat, kelinci putihnya sudah mau bangun lagi…”
Akhirnya, setelah tubuh depanku penuh bekas cupangan merah—like bunga-bunga mawar yang mekar di kulit salju—Abigail memegang pinggulku. “Balik dulu, Tuan,” katanya tegas, tangannya membalik tubuhku dengan mudah meski tanganku masih terikat. Kini aku telungkup, punggung dan pantatku yang putih mulus terekspos sepenuhnya di depan matanya.
“Ya Tuhan… punggung Tuan juga indah sekali,” gumamnya kagum, jari-jarinya mengusap punggungku yang berkeringat. Lalu bibir tebalnya mulai lagi—ciuman pelan di tengkuk, lidah menjilat turun ke tulang belakang, lalu hisapan keras yang meninggalkan cupangan di pundak, di punggung bawah, hingga ke pantatku yang bulat.
“Ahh! Abby… di situ… jangan…” rintihku keras saat ia mencupang pantatku, lidahnya menyusup ke celah sedikit, membuat sensasi nikmat dan sakit bercampur gila-gilaan. Tubuhku menggeliat hebat, tapi ia memegang pinggulku kuat, tak membiarkan kabur.
“Ini juga milikku, Tuan,” bisiknya di antara hisapan. “Pantat putih yang mulus ini… aku mau tandai semua.”
Ritual itu berlangsung hampir satu jam penuh—depan, belakang, cupangan demi cupangan, jilatan demi jilatan, hingga tubuhku penuh bekas merah memar yang sakit tapi juga membuatku terangsang aneh. Aku memohon berulang kali—“Abby… cukup… aku capek… sakit…”—tapi suaraku semakin lemah, tubuhku menyerah pada kenikmatan yang campur aduk itu.
Akhirnya, Abigail puas. Ia membalik tubuhku lagi, melepaskan ikatan tanganku yang sudah lemas, lalu berbaring di sampingku, memelukku erat dari belakang. Rambut kepangnya ia letakkan lagi di atas tubuhku seperti selimut, payudaranya menindih punggungku.
“Sudah, Tuan sayang… tidur sekarang,” bisiknya lembut, mencium tengkukku yang penuh cupangan. “Besok pagi kita lanjut lagi…”
Aku tak bisa jawab apa-apa. Tubuhku lemas total, nikmat dan sakit bercampur hingga aku tak tahu mana yang lebih kuat. Dalam pelukan Abigail yang hangat, dengan aroma kayu manis dan rambutnya yang membius, aku akhirnya tertidur pulas—mimpi penuh bayangan cupangan merah dan kepang hitam yang melilitku selamanya.
Ayam jantan di halaman kecil kabin berkokok nyaring, suaranya menusuk kabut pagi yang masih menyelimuti hutan pinus. Cahaya matahari pagi menyusup pelan melalui celah-celah dinding kayu, menerangi ruangan sederhana kami dengan warna keemasan lembut. Aku terbangun perlahan, tubuhku terasa berat dan nyeri di mana-mana—seperti habis dipukuli, tapi dengan cara yang anehnya juga memabukkan.
Abigail masih tidur pulas di sampingku, lengannya yang kuat memeluk pinggangku erat dari belakang, payudaranya yang besar dan hangat menindih punggungku, napasnya teratur menyapu tengkukku. Rambut kepang tebalnya yang panjang terletak di atas tubuh kami seperti selimut hitam yang hidup, ujungnya menyentuh kakiku. Aroma kayu manis dari tubuhnya bercampur bau keringat malam tadi masih kuat, membuat kepalaku pening sejenak.
Aku mencoba bergerak pelan, ingin lepas dari pelukannya tanpa membangunkan. Lengannya terlalu kuat—aku harus dorong perlahan hingga akhirnya berhasil. Aku bangun dari ranjang, kaki telanjangku menyentuh lantai tanah yang dingin. Tubuhku hanya mengenakan celana dalam tipis yang Abigail pakaiin lagi semalam setelah ritual panjang itu. Aku berjalan pelan ke sudut ruangan, di mana ada cermin kecil retak yang Abigail selamatkan dari perkebunan lama—cermin yang biasa ia pakai untuk menyisir rambutnya.
Aku berdiri di depannya, dan apa yang kulihat membuat napasku terhenti.
Sekujur tubuhku—dada, perut, punggung, pantat, bahkan paha—penuh bekas cupangan merah memar. Ada puluhan, mungkin ratusan: lingkaran-lingkaran merah keunguan, besar kecil, beberapa masih bengkak, beberapa sudah mulai biru di pinggirnya. Di dada ku ada yang besar seperti telur ayam, di sekitar puting, di perut, di punggung bawah hingga pantat—seperti peta bunga mawar liar yang mekar di kulit putihku yang dulu mulus. Kulitku yang seputih salju kini seperti kanvas yang dicoret-coret dengan tanda kepemilikan.
Aku menyentuh salah satu cupangan di dada—sakit nyeri, tapi juga mengingatkanku pada lidah Abigail yang hangat, bibir tebalnya yang menghisap keras. “Ya Tuhan…” gumamku lirih, tanganku gemetar. Ini tanda bahwa aku miliknya—seperti peternak yang memberi cap panas pada ternaknya dengan besi merah. Apakah aku sudah jadi hamba wanita negro ini? Budaknya, seperti dulu budak-budak di perkebunan ayah yang diberi hukuman cambuk atau tanda kepemilikan?
Aku memejamkan mata, menahan air mata yang mulai menggenang. Rasa malu menyergapku seperti gelombang dingin—aku, Theodore van Houten, keturunan tuan tanah kulit putih terpandang, kini tubuhku ditandai seperti ini oleh mantan budakku sendiri. Inikah pembalasan? Inikah yang dirasakan para wanita budak dulu yang dikawin paksa oleh tuan-tuan kulit putih—tubuh mereka ditandai, harga diri mereka direnggut? Aku menangis pelan, air mata jatuh ke lantai tanah.
Tapi tiba-tiba, aku merasakan sesuatu merayap di leherku—lembut, berat, seperti tali sutra yang hidup. Itu membelit pelan ke bahu kiriku, lalu turun ke dada, melingkar di sekitar cupangan-cupangan itu, dan akhirnya turun lebih bawah, membelit pinggangku hingga ke kemaluanku yang masih tertutup celana dalam.
Aku membuka mata, terbelalak melihat refleksi di cermin. Rupanya itu kepang rambut Abigail—wanita negro itu sudah berdiri di belakangku tanpa suara, tubuh tingginya menjulang, kepalanya bersandar di bahu kananku. Wajah cantik ebony-nya tersenyum puas di cermin, matanya menatap refleksiku dengan penuh kemenangan.
“Selamat pagi, Tuan-ku,” bisiknya lembut di telingaku, suaranya serak karena baru bangun tapi penuh godaan. Kepang itu ia gerakkan lagi dengan tangan satunya, membelit lebih erat ke kemaluku melalui kain tipis.
“Abby… kau… kau bangun?” gumamku lemah, tubuhku menegang karena sentuhan kepang itu.
Ia tertawa kecil, bibir tebalnya langsung mencium leherku—ciuman basah, lalu hisapan keras yang meninggalkan cupangan baru di sana. “Ini aku tambahkan lagi rasa cintaku untuk Tuan,” katanya genit, lidahnya menjilat cupangan baru itu. Tangannya yang lain meraih selangkanganku, mengocok penisku perlahan melalui kain, membuatnya menegang cepat di balik belitan kepang.
“Ahh… Abby… pagi-pagi sudah…” rintihku, tapi tubuhku bereaksi cepat—penisku keras dalam genggaman tangannya dan belitan kepang itu.
Abigail mendekatkan tubuhnya lebih erat, payudaranya menindih punggungku, putingnya yang mengeras bergesek kulitku. “Ular sanca-ku ini butuh belaian lembut dari Tuan pagi ini,” bisiknya sambil mencium dan menjilat leherku berkali-kali, hisapan demi hisapan meninggalkan cupangan baru di bahu dan tengkuk.
Lalu ia mulai bernyanyi—suara lembut, seperti mantra rayuan yang menghipnotis, sambil tangannya memandu kepang itu mengocok penisku lebih lincah, membelit dan menggesek batangku melalui kain.
“Kelinci putih dililit ular sanca hitam…
Tak bisa lepas, tak bisa lari…
Tuan muda ku tersayang…
Miliku selamanya…”
Nyanyian itu seperti obat bius—aku membelai kepang tebal itu dari bahu hingga ke bagian bawah yang membelit kemaluku, merasakan teksturnya yang hidup, lembut, halus, memabukkan. Gerakannya seperti ular sungguhan, mengikuti irama tangan Abigail.
Tak lama, penisku memuncratkan sperma lagi—ke dalam celana dalam, tapi sebagian menyemprot keluar, mengotori cermin kecil itu dengan cipratan putih. Kakiku lemas, aku berlutut di depan cermin, napasku tersengal.
Aku berlutut di depan cermin kecil yang retak itu, kakiku lemas seperti kapas basah setelah spermaku muncrat lagi pagi ini—ke dalam celana dalamku yang tipis, sebagian besar menyemprot keluar dan mengotori permukaan cermin dengan cipratan putih kental yang perlahan menetes ke bawah. Napasku tersengal-sengal, tubuhku gemetar, cupangan-cupangan merah memar dari malam tadi dan yang baru ditambahkan Abigail pagi ini terasa nyeri setiap kali aku bernapas dalam. Air mataku masih mengalir deras, bercampur keringat pagi yang dingin di kulit putihku yang penuh tanda kepemilikan itu.
Abigail berlutut di belakangku, tubuh tingginya yang ebony membungkus tubuhku dari belakang seperti pelindung sekaligus penjaga penjara. Lengannya yang kuat memeluk pinggangku erat, payudaranya yang besar dan hangat menindih punggungku, puting cokelat gelapnya yang mengeras bergesek pelan dengan kulitku yang sensitif. Rambut kepang tebalnya—ular sanca hitam yang tak pernah lepas—masih membelit leherku, turun ke dada, dan melingkar di sekitar kemaluku yang baru saja ejakulasi, ujung kepang itu basah karena sisa mani putihku yang menempel di anyaman hitamnya.
“Nampaknya Tuan sekarang sudah menjadi budak-ku,” katanya lagi, suaranya lembut tapi diakhiri tawa kemenangan kecil yang membuat hatiku seperti disambar petir untuk kedua kalinya.
Aku menangis lebih keras—tangis yang tak terkendali, bahuku berguncang, air mata jatuh ke lantai tanah kabin yang dingin. “Abby… kenapa… kenapa kau bilang begitu?” isakku, suaraku pecah karena malu dan sakit hati yang mendalam. “Aku… aku Theodore van Houten… aku dulu tuan muda… sekarang… sekarang tubuhku penuh tanda ini… seperti budak yang dicap… aku merasa… aku merasa seperti budak sungguhan…”
Abigail langsung memelukku lebih erat, tubuhnya menempel sepenuhnya, aroma kayu manis dari kulitnya yang hangat membiusku lagi meski aku sedang menangis. “Ssttt… Tuan sayangku… itu cuma bercanda,” bisiknya lembut di telingaku, tangannya yang gelap dan kuat mengusap air mataku dengan ibu jari, menghapusnya pelan satu per satu. Wajah cantik ebony-nya mendekat, matanya yang cokelat dalam menatapku penuh kasih—bukan lagi lapar, tapi haru. “Maafkan aku, Tuan Muda. Aku tak bermaksud buat kau nangis begini. Kau bukan budakku… kau tetap Tuan Mudaku. Anak kecil yang aku mandikan setiap hari dulu di perkebunan besar… yang aku gendong, aku susui, aku jaga tidur. Kau selalu spesial bagiku.”
Aku masih terisak, tapi pelan-pelan tenang karena usapan tangannya yang lembut di pipiku. “Tapi… tapi kau bilang aku budakmu… dan tubuhku ini… lihat, Abby… penuh cupanganmu… seperti cap kepemilikan…”
Ia tersenyum tipis, bibir tebalnya yang gelap mendekat ke bibirku. “Itu tanda cinta, Tuan… bukan cap budak. Aku cuma mau dunia tahu—meski hanya kita berdua di hutan ini—bahwa kau milikku, dan aku milikmu.” Lalu ia menciumku—ciuman yang kuat, dalam, bibir tebalnya menghisap bibirku dengan lapar tapi penuh kasih, lidahnya menyusup memaksa, menghisap napasku hingga aku merasa seperti dia yang mengambil alih seluruh udara di paru-paruku. Aku membalas pelan, tanganku tanpa sadar memeluk pinggangnya yang lebar, merasakan kehangatan tubuh ebony yang selalu membuatku lupa diri.
Ciuman itu berlangsung lama, hingga napasku habis dan aku harus menarik diri untuk bernapas. Abigail tersenyum puas, tangannya masih memegang kepang rambutnya yang membelitku. “Lihat, Tuan… kau tak bisa benci aku, kan? Meski kau nangis, kau tetap balas ciumanku.”
Aku menunduk, air mataku sudah berhenti, tapi pergulatan di hatiku semakin ganas. Sejak kecil, ayahku dan guru-guru di rumah besar mengajarkan bahwa kulit putihku adalah tanda superioritas—kami di atas, kami yang memerintah, kami yang tak boleh mencemari kemurnian ras dengan bercampur dengan “ras inferior” seperti negro. “Jangan pernah jatuh cinta pada mereka, Theodore,” kata ayahku dulu, suaranya tegas saat kami duduk di veranda. “Itu akan hancurkan nama keluarga kita.”
Tapi sekarang? Kelembutan Abigail—dominasi yang manja, rambut kepangnya yang seperti rantai sutra melingkar di leherku, aroma tubuhnya yang memabukkan, kenikmatan seksual yang ia perkenalkan padaku—semuanya mengaburkan ajaran itu. Aku tak membenci dia. Aku tak bisa membenci wanita yang selamatkan nyawaku, yang rawat aku saat aku hampir mati di jalan, yang manjakan aku dengan cara yang tak pernah kubayangkan.
“Abby… kalau… kalau aku nikah denganmu,” gumamku lirih, suaraku ragu tapi penuh harap, “apa yang akan dikatakan orang di luar sana? Di kota-kota kecil, atau kalau kita pernah keluar hutan ini? Apakah aku masih dianggap kulit putih? Aku… aku takut kehilangan segalanya lagi.”
Ia diam sebentar, tangannya membelai kepang yang masih membelitku, lalu ia bernyanyi lagi—suara lembutnya seperti mantra pagi, rayuan yang menghipnotis, sambil tangannya memandu kepang itu mengocok sisa penisku yang masih sensitif setelah ejakulasi.
“Kelinci putih dililit ular sanca hitam…
Tak bisa lepas, tak bisa lari lagi…
Tuan muda ku tersayang, jangan takut dunia luar…
Di hutan ini, kita cukup berdua… miliku selamanya…”
Nyanyian itu membuatku tenang lagi, kepang tebal itu terasa hidup di tanganku saat aku membelainya balik—lembut, halus, memabukkan seperti biasa. “Aku… aku tak benci kau, Abby,” kataku akhirnya, suaraku bergetar. “Aku cinta kau. Meski ini terlarang… meski aku takut… aku tak bisa tinggalkan kau.”
Abigail memelukku lebih erat, mencium keningku pelan. “Itu cukup bagiku, Tuan Muda. Kita hidup di sini saja… di kabin kecil ini, dengan kebun kita, ayam kita, dan ritual malam kita. Tak perlu dunia luar. Cinta kita tumbuh di sini… seperti yang kau bilang dulu.”
Aku mengangguk lemah, air mataku sudah kering. Di pelukannya, dengan kepang rambutnya yang masih melilitku seperti janji abadi, aku tahu: aku sudah menyerah sepenuhnya. Konflik di hatiku masih ada—harga diri rasial yang tersisa, ketakutan akan opini orang lain—tapi cinta pada Abigail, pada dominasinya yang manis, pada rambut panjang tebalnya yang jadi obsesiku, sudah terlalu kuat untuk dilawan.
Mungkin suatu hari kami akan keluar hutan ini. Mungkin tidak. Tapi untuk sekarang, di pagi yang cerah ini, aku hanya ingin tetap di pelukannya—kelinci putih yang tak lagi ingin lepas dari ular sanca hitamnya.

.jpeg)

Comments
Post a Comment