CAMBUK ZAITUN: BAB 1 DUEL PERTAMA FENG YE
Ini kisah wanita dengan rambut kepang panjang yang mampu melukai pria jahat sekaligus menyayangi pria baik
Januari 1899
Aku masih ingat betul hari itu, meski sudah hampir sepuluh tahun berlalu. Januari yang dingin di
tahun 1889, angin laut selatan menusuk tulang, membawa aroma garam dan ikan asin dari
pelabuhan kecil di dekat Shaonu Ta, desa kecil kami yang terletak di pesisir selatan Tiongkok,
tak jauh dari Fujian. Desa ini sunyi, hanya deru ombak dan suara burung camar yang
menemani hari-hari kami. Rumah-rumah kayu rendah berjejer di lereng bukit kecil, dan di ujung
desa, gubuk kecil tempat aku dibesarkan berdiri sendirian, menghadap laut yang kelam.
Aku baru berusia sepuluh tahun saat ibuku, Feng Yue, meninggal dunia. Penyakit paru-paru
yang perlahan mencuri napasnya selama berbulan-bulan akhirnya merenggut nyawanya di
malam yang hujan deras. Aku duduk di samping ranjang bambu sederhana, memegang
tangannya yang semakin dingin, sementara rambutku yang sudah sangat panjang saat
itu—mencapai pinggang—menjuntai basah karena air mata yang tak henti mengalir.
“Ibu… jangan tinggalkan Ye’er sendirian…” bisikku berulang kali, suaraku pecah.
Ia hanya tersenyum tipis, matanya sayu memandangku. “Ye’er… rambutmu… jangan pernah
dipotong. Itu warisan ibu… janji ya…”
Itu kata-kata terakhirnya sebelum napasnya terhenti. Aku menangis hingga tenggorokan terasa
terbakar. Tentang ayahku, ibu tak pernah bercerita. Setiap kali kutanya, ia hanya menggeleng
pelan dan berkata, “Ayahmu pergi jauh… tak perlu dicari.” Aku tak pernah tahu namanya,
wajahnya, atau ke mana ia menghilang. Hanya aku dan ibu, hidup dari menjual hasil jaring ikan
kecil dan menenun kain sutra kasar.
Setelah pemakaman sederhana di bukit kecil di belakang desa—hanya aku dan beberapa
tetangga yang membawa peti kayu tipis—aku kembali ke gubuk kosong itu. Aku duduk di sudut,
memeluk lutut, rambutku yang hitam pekat dan tebal tergerai menutupi wajahku seperti tirai.
Aku tak tahu harus ke mana.
Hari ketiga setelah pemakaman, pintu gubuk terbuka pelan. Seorang pria tua bertubuh tegap
masuk, kepalanya botak mengkilap, mengenakan jubah abu-abu usang yang sudah sobek di
beberapa bagian. Ia membawa tongkat kayu panjang dan sebuah bundelan kain. Matanya
tajam, tapi ada kelembutan di baliknya.
“Kau Feng Ye?” tanyanya dengan suara dalam yang berat.
Aku mengangguk pelan, masih takut berbicara.
“Aku Shun Di. Dulu biksu di Kuil Shaolin, tapi… sekarang hanya pengembara. Ibunya berpesan
padaku sebelum meninggal. Ia bilang, kalau suatu hari ia tak ada, aku harus menjaga anaknya.”
Aku menatapnya curiga. “Ibu… kenal Anda?”
Shun Di menghela napas panjang, duduk bersila di lantai tanah. “Kami pernah bertemu saat
aku diasingkan dari kuil. Ia baik padaku, memberi makan saat aku kelaparan. Ia bilang kau
punya bakat… dan rambut yang luar biasa panjang.”
Ia menatap rambutku yang tergerai hingga lantai. Saat itu rambutku sudah mencapai lutut,
hitam legam, tebal, dan lurus sempurna—warisan dari ibu yang dulu juga punya rambut
panjang indah.
Sejak hari itu, Shun Di tinggal di gubuk kecil kami. Ia mengajariku kungfu setiap pagi di pantai
berpasir, saat matahari baru muncul dari ufuk timur. Awalnya ia mengajarkan Bajiquan—ilmu
keras yang mengandalkan ledakan tenaga dalam jarak dekat, pukulan siku, bahu, dan pinggul
yang mematikan.
“Tapi kau wanita,” katanya suatu hari sambil tertawa kecil, “tubuhmu lebih lentur, tapi tak sekuat
pria. Kita harus cari cara lain.”
Ia lalu mengajarkan teknik aneh yang ia ciptakan sendiri saat di Shaolin: sundulan kepala.
Karena kepalanya botak dan keras seperti batu, ia pernah menggunakannya untuk
memecahkan perisai musuh.
“Lihat ini!” katanya sambil menyundul batang pohon kelapa hingga retak. “Kepala adalah
senjata terkuat kalau dilatih!”
Aku mencoba, tapi rambutku yang panjang selalu menghalangi, menutupi mata saat aku
menggerakkan kepala dengan cepat. Suatu malam, saat aku mengeluh, Shun Di hanya
tersenyum.
“Potong saja kalau mengganggu.”
“Tidak!” jawabku tegas. “Ibu berpesan, rambut ini tak boleh dipotong.”
Shun Di menggosok kepala botaknya, berpikir lama. “Kalau begitu… kita ubah ilmunya.
Rambutmu itu… bisa jadi senjata juga.”
Sejak saat itu, aku mulai bereksperimen. Rambutku semakin panjang setiap tahunnya—pada
usia delapan belas tahun, tahun 1899 ini, kepangan tebalku sudah mencapai satu setengah
meter lebih, menyentuh lantai saat aku berdiri tegak. Aku belajar mengikatnya menjadi satu
kepang besar yang kuat, seperti ular naga yang hidup.
Shun Di mengajarkan cara memutar kepala dengan cepat, mengayunkan tubuh bagian atas,
sehingga kepangan itu bisa bergerak seperti cambuk panjang. Awalnya hanya untuk menarik
ranting pohon, lalu memukul karung pasir, hingga akhirnya… aku bisa menggunakannya untuk
melukai.
“Bagus!” kata Shun Di bangga saat aku pertama kali berhasil memutus tali gantungan dengan
satu ayunan kepangan. “Ini bukan lagi sundulan kepala botak… ini Ular Naga milik Feng Ye!”
Aku tersenyum, merasakan kepangan berat itu bergoyang di punggungku. Setiap malam, aku
merawatnya: menyisir perlahan dengan sisir kayu, mengolesi minyak zaitun dari pohon di
belakang rumah, hingga rambutku semakin hitam berkilau, tebal, dan kuat—seperti senjata
sekaligus mahkota.
Shun Di sudah tua sekarang, jarang keluar gubuk. Ia hanya tersenyum dari kejauhan saat aku
berlatih di pantai sendirian. Aku tahu, suatu hari nanti, Ular Naga ini akan diuji di dunia luar
Shaonu Ta yang sunyi ini.
Dan hari itu… akhirnya tiba.
Januari 1899 datang dengan angin laut yang lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis menyelimuti
Shaonu Ta sejak pagi, membuat jalan tanah di tengah desa menjadi licin dan berlumpur. Aku
bangun sebelum fajar, seperti kebiasaanku. Di halaman kecil belakang gubuk, aku melatih
gerakan dasar Bajiquan dulu—pukulan siku pendek, tendangan rendah, putaran pinggul yang
meledak-ledak—sebelum akhirnya fokus pada Ular Naga.
Kepanganku yang tebal dan panjang itu aku gerai dulu semalam, lalu aku ikat kembali pagi ini
menjadi satu kepang besar yang menggantung hingga betis. Saat aku menggoyang-goyangkan
kepala dengan cepat, kepangan itu berdesis di udara seperti cambuk ular, meninggalkan angin
yang terasa di kulitku sendiri. Aku tersenyum kecil. Shun Di masih tertidur di dalam, napasnya
pelan dan teratur. Aku tak ingin mengganggunya; ia semakin lemah akhir-akhir ini.
Setelah latihan selesai, aku berjalan ke pasar kecil di tepi desa. Aku perlu membeli beras dan
minyak zaitun untuk merawat rambutku. Jubah biru tua sederhanaku berkibar pelan,
kepanganku tersampir di bahu kiri agar tak menyapu tanah terlalu kotor.
Saat aku melewati lapangan terbuka di dekat dermaga—tempat para nelayan biasa menjemur
jaring—aku melihat kerumunan kecil sudah berkumpul. Ada sekitar dua puluh orang,
kebanyakan pria muda dari desa-desa tetangga yang datang dengan perahu. Di tengah
lapangan, seorang pria bertubuh besar berdiri angkuh, tangannya disilang di dada. Ia
mengenakan baju kungfu hitam dengan bordir naga emas, celana longgar, dan sepatu kain
tebal. Wajahnya kasar, rahangnya kuat, matanya menyipit penuh ejekan. Usianya mungkin awal
dua puluhan, lebih tua sedikit dariku.
“Hei, kalian semua!” teriaknya lantang, suaranya menggema hingga ke ombak yang memecah
di karang. “Kalian bilang di desa ini ada pendekar wanita yang tak tertandingi? Feng Ye,
katanya? Mana dia? Aku, Gang Ho dari sekte Harimau Utara, datang khusus untuk menguji
kehebatannya!”
Beberapa nelayan saling pandang, ragu. Mereka tahu reputasiku, tapi tak ada yang berani
angkat bicara dulu. Aku berhenti di pinggir kerumunan, tanganku memegang keranjang bambu
kosong. Aku tak langsung maju; aku ingin dengar dulu apa yang dikatakan pria ini.
Gang Ho tertawa besar. “Katanya dia pakai rambut panjang sebagai senjata? Hah! Apa itu
kungfu atau tarian gadis desa? Rambut panjang seperti milik perempuan lemah, pasti lembut
dan harum saja. Mana mungkin bisa melukai orang!”
Tawa kecil terdengar dari beberapa penonton. Aku merasakan darahku mulai panas, tapi aku
tetap diam, memperhatikan.
Seorang nelayan tua berani bicara. “Gang Ho, jangan sembarangan. Feng Ye bukan pendekar
biasa. Rambutnya itu… berbahaya.”
“Berbahaya?” Gang Ho meludah ke tanah. “Aku ingin lihat sendiri! Kalau dia tak muncul, berarti
dia takut pada aku. Aku akan bilang ke seluruh pesisir selatan bahwa pendekar wanita Shaonu
Ta hanyalah pengecut yang bersembunyi di balik rambut panjangnya!”
Kerumunan mulai berbisik-bisik. Beberapa mata tertuju padaku yang berdiri agak jauh. Aku
menghela napas pelan, lalu melangkah maju. Langkahku tenang, kepanganku bergoyang pelan
di belakangku, ujungnya hampir menyentuh lumpur.
Aku berhenti sepuluh langkah di depan Gang Ho. “Kau mencariku?”
Matanya langsung tertuju padaku, lalu melirik kepanganku yang tebal dan hitam berkilau itu dari
atas hingga bawah. Senyum sinis muncul di bibirnya.
“Kau Feng Ye? Benarkah ini pendekar yang terkenal itu? Rambutmu… memang panjang sekali.
Sampai menyentuh tanah kalau dilepas, ya?”
Aku tak menjawab langsung. Aku meletakkan keranjang bambuku di tanah, lalu mulai
menggelung kepanganku dengan tangan. Gerakanku lambat dan sengaja, agar semua orang
melihat. Aku putar kepangan itu berkali-kali di atas kepalaku, membentuk sanggul besar yang
kukencangkan dengan tusuk kayu sederhana. Rambutku kini terikat rapi, tak lagi menggantung
bebas.
Gang Ho tertawa lagi. “Lihat itu! Dia malah mengikat rambutnya rapat-rapat. Takut rusak kalau
berkelahi, ya? Aku sudah dengar cerita tentang ‘Ular Naga’-mu. Tapi kalau kau tak berani pakai,
berarti semua itu hanya omong kosong!”
Aku memasang kuda-kuda Bajiquan dasar: kaki kanan di depan, kiri di belakang, tangan kanan
di depan dada, kiri di pinggang. Aku menatapnya tajam, tapi bibirku melengkung sedikit.
“Gang Ho, kau datang dari jauh hanya untuk ini? Baiklah. Aku terima tantanganmu. Tapi ingat,
di lapangan ini, kau yang memulai ejekan.”
Ia mengangguk puas, langsung memasang kuda-kuda Harimau Utara—tubuhnya membungkuk
rendah, tangannya mencakar udara seperti cakar harimau. Matanya berbinar penuh semangat.
“Bagus! Aku akan buktikan bahwa kungfu wanita tak ada apa-apanya dibanding pria sejati. Dan
setelah aku menang, mungkin aku akan ambil rambut panjangmu itu sebagai trofi!”
Kerumunan mundur membentuk lingkaran lebar. Angin laut bertiup kencang, membawa bau
garam dan ikan. Aku merasakan detak jantungku mulai cepat, tapi bukan karena
takut—melainkan karena antisipasi.
Gang Ho menggeram pelan. “Mulai!”
Ia langsung melompat maju, tinju kanannya meluncur lurus ke arah wajahku dengan kecepatan
harimau yang menerkam.
Dan duel pun dimulai.
Tinju Gang Ho meluncur lurus ke arah wajahku, cepat dan berat seperti palu besi. Aku
condongkan tubuh ke samping hanya sedikit, membiarkan angin dari pukulannya menyapu
pipiku. Rambutku yang tergelung rapi di atas kepala tak bergeming sama sekali. Aku tak balas
langsung; aku ingin rasakan dulu kekuatannya.
Ia mendarat di tanah dengan suara keras, kakinya menggali lumpur. Matanya melebar
sedikit—mungkin tak menyangka aku menghindar begitu mudah.
“Hah! Cepat juga kau untuk seorang wanita!” katanya sambil tertawa, tapi ada nada terkejut di
suaranya. “Tapi itu baru pemanasan!”
Ia langsung melanjutkan serangan: tendangan rendah menyapu ke arah kakiku, diikuti pukulan
siku kanan ke rusukku. Aku lompat kecil ke belakang, lalu gunakan telapak tangan kiri untuk
menangkis siku itu—tenaga Bajiquan-ku meledak di titik sentuh, membuat lengannya terpental
ke samping.
“Bagus,” gumamku pelan, bibirku melengkung tipis. “Kau memang punya tenaga.”
Gang Ho menggeram, semakin bersemangat. Ia maju lagi, kali ini dengan serangkaian pukulan
harimau: cakar kanan ke bahuku, cakar kiri ke perutku, diakhiri tendangan tinggi ke dada. Aku
gunakan kedua tangan untuk memblokir, tubuhku berputar mengikuti alur Bajiquan—setiap
blokiranku mengandung ledakan kecil yang membuat tangannya mati rasa.
Kerumunan mulai berbisik-bisik. Aku bisa dengar suara mereka di tengah deru angin laut.
“Itu Feng Ye… dia bahkan belum pakai rambutnya.”
“Gang Ho dari Utara katanya kuat, tapi lihat, dia belum bisa sentuh gadis itu.”
Aku sengaja hanya pakai tangan dan kaki. Aku ingin uji batasnya, ingin lihat seberapa lama dia
bisa bertahan sebelum memohon aku lepaskan Ular Naga. Setiap kali ia mendekat, aku balas
dengan pukulan pendek ke dadanya atau tendangan ke pahanya—tak terlalu keras, hanya
cukup untuk membuatnya terhuyung.
“Hei!” teriak Gang Ho setelah beberapa menit, napasnya mulai agak tersengal. Ia mundur dua
langkah, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. “Kenapa kau hanya main-main
seperti ini? Pakai rambut panjangmu itu dong! Aku datang jauh-jauh ingin lihat ‘Ular Naga’ yang
katanya legendaris!”
Aku tersenyum kecil, tetap di posisi kuda-kuda, tanganku terbuka santai di samping tubuh. “Oh?
Kau ingin lihat rambutku? Sabar dulu. Aku belum mau menyakitimu terlalu cepat. Lagipula, apa
kau yakin bisa tahan kalau aku benar-benar pakai?”
Ia tertawa besar, tapi aku lihat matanya melirik sanggulku yang besar di atas kepala.
“Menyakitiku? Dengan rambut? Pasti lembut seperti sutra wanita! Aku bayangkan kalau
kusentuh, pasti harum dan halus… seperti rambut gundik di rumah bordil!”
Beberapa pria di kerumunan tertawa pelan, tapi cepat diam saat aku melirik mereka tajam.
Aku angkat alis, berpura-pura tersinggung tapi sebenarnya aku sedang memancing. “Lembut
seperti sutra, katamu? Harum? Hmm… kau terdengar sangat ingin menyentuhnya, Gang Ho.”
Wajahnya memerah sedikit—entah karena marah atau karena malu. “Tentu saja! Setelah aku
kalahkan kau, aku akan gunting rambut panjangmu itu dan jadikan ikat pinggang! Biar semua
tahu bahwa pendekar wanita dari selatan tak ada apa-apanya!”
Aku menggeleng pelan, suaraku tetap tenang. “Aku tidak mau pakai rambutku sekarang
karena… aku kasihan padamu. Kalau sekali saja Ular Naga ini menyentuh kulitmu, kau akan
menjerit seperti anak kecil.”
“Menjerit?!” Ia maju lagi, kali ini lebih ganas. Tinjunya menghantam ke arah bahuku—aku
tangkis dengan siku, lalu balas dengan tendangan rendah ke lututnya. Ia terpincang sebentar,
tapi langsung bangkit lagi.
“Pakai rambutmu! Jangan jadi pengecut!” teriaknya. “Atau kau takut rambut indahmu itu rusak?
Takut aku tarik-tarik sampai lepas dari kepalamu?”
Aku tertawa kecil—tawa yang dingin, yang membuat beberapa penonton merinding.
“Baiklah,” kataku pelan, mataku menatap lurus ke matanya. “Kalau kau begitu ngotot ingin
rasakan kelembutan rambutku… aku beri syarat. Kalau kau bisa membongkar sanggulku ini,
kalau kau bisa membuat rambutku tergerai dengan tanganmu sendiri… maka dengan senang
hati aku akan beri ‘kelembutan’ itu padamu. Kau boleh pegang, kau boleh sentuh, kau boleh
rasakan sepuasmu.”
Kerumunan langsung ramai berbisik. Beberapa pria saling dorong bahu, mata mereka berbinar.
Gang Ho terdiam sesaat, lalu senyum lebar muncul di wajahnya—senyum yang penuh nafsu
dan keyakinan.
“Benarkah kau bilang itu, Feng Ye? Kau janji?”
Aku mengangguk pelan, suaraku manis tapi beracun. “Janji. Tapi kalau kau gagal… kau akan
rasakan sisi lain dari kelembutan itu.”
Ia tak jawab lagi dengan kata-kata. Matanya berubah liar. Ia menggeram seperti harimau lapar,
lalu melompat maju dengan serangan bertubi-tubi yang jauh lebih cepat dan ganas dari
sebelumnya.
Tinju, siku, tendangan, cakar—semuanya mengarah ke kepalaku, ke sanggulku yang besar itu.
Ia benar-benar berniat membongkarnya.
Aku tersenyum dalam hati.
Baiklah, Gang Ho. Mari kita lihat seberapa dekat kau bisa mendekati Ular Naga sebelum ia
menggigitmu.
Angin laut tiba-tiba berhembus lebih kencang, membawa butiran pasir halus yang beterbangan
di antara kami. Kerumunan mundur lagi beberapa langkah, seolah merasakan bahwa
pertarungan ini mulai memasuki tahap yang berbeda. Napas Gang Ho sudah lebih berat,
dadanya naik-turun cepat, tapi matanya… matanya berbinar liar, penuh hasrat yang tak lagi
disembunyikan.
Ia melompat maju lagi, kali ini benar-benar mengincar kepalaku. Tinju kirinya datang dari
bawah, mencoba menyapu ke arah sanggulku, sementara tangan kanannya siap
mencengkeram kalau aku menghindar. Aku putar tubuh ke kiri, biarkan tinjunya lewat di depan
hidungku, lalu balas dengan telapak tangan terbuka ke dadanya—cukup keras untuk
membuatnya terhuyung dua langkah.
“Kurang cepat,” kataku tenang, suaraku hampir seperti bisikan di tengah angin.
“Kurang cepat katamu?!” bentaknya. “Kau hanya lari-lari seperti tikus! Aku akan bongkar
sanggulmu itu sekarang juga!”
Ia serang lagi, lebih ganas. Serangkaian cakar harimau ke arah wajahku, diikuti tendangan
menyamping yang nyaris mengenai pinggangku. Aku gunakan lengan untuk memblokir, tapi
sengaja biarkan satu pukulan siku kanannya mengenai bahuku—hanya sedikit, cukup untuk
membuat tubuhku terdorong ke belakang.
Gang Ho tertawa puas. “Nah, akhirnya kena juga! Sebentar lagi rambutmu akan tergerai di
tanganku!”
Aku mundur tiga langkah, merasakan bahuku memar sedikit. Tapi itu bagian dari rencanaku.
Aku ingin dia semakin percaya diri, semakin rakus. Aku angkat tangan kananku, menyentuh
sanggulku pelan, seolah memeriksa apakah masih rapi.
“Gang Ho… kau benar-benar ngotot ingin menyentuh rambutku, ya?” tanyaku dengan nada
manis yang sengaja kubuat menggoda. “Kau bayangkan apa kalau berhasil membongkarnya?
Ingin membelai? Ingin mencium aromanya? Ingin membelitnya di tanganmu yang kasar itu?”
Wajahnya memerah hebat. Beberapa pria di kerumunan tertawa pelan, tapi cepat diam saat aku
melirik mereka.
“Tutup mulutmu, perempuan!” bentaknya, tapi suaranya bergetar sedikit. “Aku akan buktikan
bahwa rambutmu itu tak ada gunanya selain untuk dipamerkan!”
Ia lompat lagi, kali ini dengan serangan bertubi-tubi yang benar-benar brutal. Tinju kiri, tinju
kanan, siku, lutut—semuanya mengarah ke kepalaku, ke sanggulku. Aku menghindar,
memblokir, memutar tubuh dengan lincah, tapi aku sengaja biarkan dia semakin dekat.
Rambutku yang tergelung mulai sedikit longgar karena hembusan angin dari pukulannya.
Satu pukulan lurus dari tangan kanannya akhirnya mengenai. Bukan langsung ke sanggul, tapi
ke pundakku yang membuat tubuhku terputar dan kehilangan keseimbangan. Aku terhuyung ke
belakang, kaki kananku tergelincir di lumpur basah, dan aku jatuh berlutut dengan satu lutut di tanah.
Kerumunan terdiam sesaat, lalu berbisik ramai.
Tusuk kayu yang menahan sanggulku terlepas karena benturan itu. Kepangan tebal yang
tergelung rapi mulai mengurai sendiri, satu per satu helai rambut hitam pekat terlepas dari
ikatan. Dalam sekejap, seluruh kepanganku tergerai panjang, menyapu tanah lumpur di
sekitarku seperti air terjun hitam yang hidup.
Ujung kepanganku yang tebal dan berat itu menyentuh lumpur, meninggalkan jejak basah.
Rambutku sekarang tergerai bebas—satu setengah meter lebih, hitam berkilau meski di bawah
langit mendung, tebal seperti ekor naga yang baru bangun dari tidur panjang.
Gang Ho berdiri di depanku, napasnya tersengal, tapi senyum kemenangan muncul di
wajahnya. “Hah! Akhirnya! Rambutmu tergerai juga! Lihat, hanya dengan satu pukulan!”
Aku tetap berlutut sebentar, tanganku menyentuh tanah untuk keseimbangan. Rambutku
menutupi sebagian wajahku seperti tirai, tapi aku angkat kepala pelan, menatapnya dari balik
helai-helai hitam itu. Bibirku melengkung menjadi senyum sombong, dingin, yang membuat
beberapa penonton merinding.
“Jadi… kau ingin merasakan rambut ini, Gang Ho?” bisikku, suaraku rendah tapi jelas terdengar
hingga ke kerumunan. “Kau bilang lembut seperti sutra? Harum? Ingin kau pegang
sepuasnya?”
Ia tertawa besar, melangkah mendekat dengan tangan terbuka, seolah sudah menang. “Tentu
saja! Sekarang rambutmu milikku! Aku akan—”
Aku potong kata-katanya dengan tawa kecil yang membuatnya terdiam.
“Biar kulayani.”
Aku bangkit perlahan, tubuhku tegak kembali. Rambutku yang tergerai panjang bergoyang
pelan di angin laut, ujungnya menyapu tanah seperti ekor ular yang siap menyergap. Aku
goyangkan kepalaku sedikit—hanya sedikit—dan kepangan tebal itu mulai bergerak sendiri,
seperti makhluk hidup yang baru dibebaskan.
Mata Gang Ho melebar. Senyumnya perlahan memudar.
“Apa… apa yang kau lakukan?”
Aku tersenyum lebih lebar, mataku menatap lurus ke matanya.
“Sekarang kau akan tahu… kelembutan yang kau idam-idamkan itu, sebenarnya seperti apa.”
Aku berdiri tegak, rambutku yang hitam pekat kini tergerai bebas dalam satu kepang tebal
panjang yang menggantung hingga melewati betis, ujungnya menyapu lumpur basah di tanah
lapangan. Kepang itu berat, penuh kekuatan yang selama ini kutahan di dalam sanggul. Angin
laut menyibaknya pelan, membuatnya bergoyang seperti ekor naga yang baru terbangun, siap
menerkam.
Gang Ho mundur setengah langkah, matanya melebar penuh kebingungan. Senyum
sombongnya tadi lenyap, diganti ekspresi ragu yang mencoba disembunyikan.
“Apa… apa-apaan ini?” gumamnya, suaranya tak lagi sekasar tadi. “Rambutmu… kenapa
bergerak sendiri seperti itu?”
Aku tak langsung jawab. Aku hanya goyangkan kepalaku pelan ke kiri—hanya sedikit—dan
kepang tebal itu langsung menyambar ke kanan, memecah udara dengan suara desisan tajam
seperti cambuk kulit. Ujungnya menghantam tanah di depan kaki Gang Ho, menyemburkan
lumpur ke sepatunya.
Kerumunan terdiam total. Bahkan ombak di dermaga terdengar lebih keras sekarang.
Aku tersenyum lebar, mataku menatapnya tajam dari balik helai-helai rambut yang jatuh
menutupi sebagian wajahku. “Kau tadi bilang ingin rasakan kelembutannya, kan? Ingin pegang,
ingin belai? Nah, sekarang Ular Naga ini sudah bebas. Mari kita mulai.”
Gang Ho menggeleng cepat, tapi langsung pasang kuda-kuda lagi, tangannya mencakar udara.
“Jangan coba-coba mengelabui aku! Rambut tetap rambut! Tak mungkin—”
Kata-katanya terpotong oleh jeritannya sendiri.
Aku putar kepalaku dengan cepat ke kanan, tubuh atas ikut berayun, dan kepang panjang itu
meluncur seperti cambuk raksasa. Ia menyambar lengan kirinya dengan tepat—bunyi “plak!”
keras terdengar, diikuti robekan kain baju hitamnya. Kulit lengannya langsung memerah, garis
bekas cambukan muncul seketika.
“Aaaargh!” jerit Gang Ho, mundur dua langkah sambil memegang lengannya. “Sakit! Apa-apaan
ini?!”
Aku tertawa kecil, suaraku dingin tapi penuh kepuasan. “Sakit? Baru satu sentuhan saja, Gang
Ho. Kau bilang lembut seperti sutra? Ini baru permulaan.”
Aku gerakkan lagi. Kali ini aku goyangkan kepala ke atas dan ke bawah cepat, membuat
kepang itu berputar vertikal seperti roda cambuk. Ia menyambar dada Gang Ho berulang
kali—plak! plak! plak!—setiap kali meninggalkan robekan baru di bajunya. Kain bordir naga emas itu sobek di beberapa tempat, memperlihatkan kulit dadanya yang kini penuh garis-garis
merah panjang, seperti dicakar harimau sungguhan.
“Berhenti! Berhenti dulu!” teriaknya, mencoba menangkis dengan tangan, tapi setiap kali
tangannya mendekat, kepangku menghindar lincah dan langsung menyabet bagian lain—paha,
bahu, punggung.
“Berhenti? Tadi kau yang memohon-mohon ingin rasakan rambutku,” ejekku sambil terus
menggerakkan kepala. Setiap gerakan kecil di leherku membuat kepang itu hidup,
berbelok-belok di udara, mencari celah. “Sekarang rasakan baik-baik. Lembut, bukan? Harum,
bukan? Kau pasti suka, kan?”
Ia mencoba menyerang balik, tinjunya meluncur ke arah wajahku, tapi aku hanya miringkan
kepala sedikit—kepangku langsung naik dan menyabet pergelangan tangannya keras. Ia
menjerit lagi, tangannya terasa terbakar.
“Bajingan! Rambutmu ini… seperti tali besi!” katanya terbata, napasnya sudah ngos-ngosan.
Aku maju selangkah, kepangku menyapu tanah di belakangku, meninggalkan jejak lumpur.
“Besi? Oh, tidak. Ini masih rambutku yang lembut, yang kau idam-idamkan tadi. Lihat, masih
hitam berkilau, masih tebal… masih bisa membelitmu kalau kuingin.”
Kerumunan kini benar-benar terpana. Beberapa wanita menutup mulut, pria-pria saling
pandang tak percaya. Aku bisa dengar bisikan mereka.
“Itu… rambutnya benar-benar seperti senjata hidup…”
“Gang Ho tak bisa mendekat sama sekali…”
Aku terus serang tanpa henti. Kepala ku bergerak cepat—kiri, kanan, atas, bawah—membuat
kepang tebal itu menari di udara seperti ular naga yang marah. Setiap cambukan meninggalkan
bekas baru: robekan di lengan bajunya hingga memperlihatkan otot yang memerah, garis
cambuk di punggungnya yang membuatnya membungkuk kesakitan, bahkan satu sabetan ke
betisnya yang hampir membuatnya jatuh.
“Sudah… cukup!” erang Gang Ho, suaranya parau. Darah tipis mulai merembes dari beberapa
luka di kulitnya.
Aku berhenti sejenak, kepangku berhenti bergoyang, hanya bergantung diam di belakangku,
ujungnya basah oleh lumpur dan sedikit darah yang menetes.
“Cukup? Belum, Gang Ho. Kau belum rasakan jurus terakhirku.”
Aku tarik napas dalam-dalam, merasakan angin laut selatan menyusup ke paru-paruku,
membawa bau garam dan darah tipis yang mulai menetes dari luka-luka Gang Ho. Kepang
tebal Ular Naga-ku bergantung diam di belakangku sekarang, ujungnya basah oleh lumpur dan
sedikit darah merah yang menetes perlahan ke tanah. Gang Ho berdiri di depanku, tubuhnya
gemetar, bajunya robek-robek, kulitnya penuh garis cambukan merah yang mulai memar.
Napasnya ngos-ngosan, matanya liar antara marah dan takut.
“Kau… kau monster!” desisnya, suaranya parau. “Rambutmu ini… bukan rambut manusia!”
Aku tersenyum dingin, goyangkan kepalaku pelan sehingga kepang itu bergoyang lagi seperti
ancaman. “Monster? Hanya karena kau tak tahan dengan kelembutan yang kau idam-idamkan
tadi? Kau bilang ingin pegang, ingin belai… sekarang malah menjerit kesakitan.”
Ia menggeram, mencoba nekad lagi. Ia lompat maju terakhir kali, tinju kanannya meluncur lurus
ke wajahku dengan sisa tenaga yang dimilikinya. “Aku akan hancurkan wajah cantikmu itu!”
Aku tak mundur. Aku putar kepalaku dengan cepat ke kiri, tubuh atas ikut berayun, dan kepang
tebal itu meluncur horizontal seperti sabetan pedang. Ujung kepang menghantam pipi kirinya
dengan bunyi “plakk!” keras yang menggema hingga ke kerumunan.
Darah langsung menyembur. Satu luka panjang terbuka dari tulang pipi hingga sudut bibirnya,
merah segar mengalir deras ke dagunya. Gang Ho terhuyung ke belakang, tangannya
memegang wajah, jeritannya pecah di udara dingin.
“Aaaarghhh! Wajahku! Kau… kau telah mencoreng wajahku!”
Aku tak beri dia waktu bernapas. Aku goyangkan kepala lagi, kali ini lebih cepat—kepang itu
melingkar di udara seperti lasso, lalu menyambar lehernya dari belakang. Dalam sekejap,
kepang tebal itu membelit leher Gang Ho seperti tali laso hidup, menariknya mundur hingga ia
tersedak.
“Ugh… lepaskan…!” erangnya, tangannya mencoba mencengkeram kepangku, tapi setiap kali
jarinya menyentuh, aku tarik lebih kencang—rambut tebal itu semakin mencekik, menekan
tenggorokannya.
Aku tarik dia mendekat, langkah demi langkah, hingga ia berlutut di depanku. Wajahnya sudah
ungu, matanya melotot, darah dari luka pipinya menetes ke kepangku yang membelitnya.
“Lihat baik-baik, Gang Ho,” bisikku di depan wajahnya, suaraku manis tapi penuh racun. “Ini
kelembutan yang kau minta tadi. Lembut, bukan? Seperti sutra yang membelit lehermu
sekarang. Harum? Pasti kau bisa cium aroma minyak zaitun yang selalu kuoleskan setiap
malam.”
Ia mencoba bicara, tapi hanya suara tersedak yang keluar. “Serah… aku… serah…”
Aku longgarkan sedikit jeratan, cukup agar ia bisa bernapas. “Katakan lagi. Lebih keras. Biar
semua orang dengar.”
“Aku… menyerah!” teriaknya parau, suaranya pecah karena malu dan sakit. “Lepaskan aku,
Feng Ye! Aku kalah!”
Kerumunan meledak dalam bisikan ramai. Beberapa tepuk tangan pelan, tapi kebanyakan
hanya terdiam takjub.
Aku tersenyum puas, lalu goyangkan kepala sekali lagi—kepangku melonggar dan lepas dari
lehernya. Gang Ho jatuh ke depan, batuk-batuk keras sambil memegang leher yang sudah
memerah bekas belitan.
Aku mundur selangkah, kepangku kembali bergantung panjang di belakangku, ujungnya kini
berlumur darah segar yang menetes pelan.
“Pergi dari sini, Gang Ho,” kataku dingin. “Dan ingat baik-baik rasa Ular Naga ini. Kalau kau
kembali dengan dendam, aku akan buat kau rasakan lebih dalam lagi.”
Ia bangkit perlahan, wajahnya penuh luka dan malu. Matanya menatapku dengan kebencian
murni. “Ini… belum selesai. Aku akan balas dendam, Feng Ye. Suatu hari kau akan menyesal!”
Aku hanya tertawa kecil. “Silakan coba. Rambutku selalu siap menyambutmu.”
Ia berbalik, tertatih-tatih meninggalkan lapangan diikuti beberapa temannya yang
membantunya. Kerumunan mulai bubar perlahan, tapi aku tahu besok seluruh pesisir selatan
akan bicara tentang pertarungan ini.
Aku ambil keranjang bambuku yang tadi kutinggalkan, lalu berjalan pulang menyusuri jalan
tanah menuju gubuk kecil di ujung desa. Sepanjang jalan, orang-orang menatapku takjub.
Kepangku yang panjang menyapu tanah, meninggalkan jejak merah tipis dari darah Gang Ho
yang menetes.
ku dengar bisikan-bisikan mereka.
“Itu Feng Ye… lihat rambutnya, berlumur darah tapi masih indah sekali…”
“Para lelaki pasti gila ingin menyentuhnya, tapi lihat apa yang terjadi pada Gang Ho!”
“Berbahaya… jangan dekati. Tapi… cantik sekali, ya?”
Beberapa wanita muda menatap iri. “Aku ingin rambut panjang seperti itu… tapi sampai
digunakan sebagai senjata? Ngeri…”
Aku tak peduli. Aku hanya rasakan kepuasan hangat di dada—tenaga dalamku masih mengalir,
dan Ular Naga-ku terasa lebih hidup dari sebelumnya.
Sesampai di gubuk kecil yang menghadap laut, aku dorong pintu kayu sederhana itu. Biasanya
Shun Di duduk di sudut, menyeduh teh atau mengasah tongkatnya. Tapi hari ini… ruangan
kosong.
“Guru?” panggilku pelan.
Tak ada jawaban. Hanya angin laut yang masuk melalui jendela bambu.
Di atas meja kecil dari kayu, ada selembar kertas tua terlipat rapi, dengan tulisan tangan Shun
Di yang khas—tegas tapi sedikit gemetar karena usia.
Aku ambil dan baca pelan.
Ye’er,
Hari ini kau telah bertarung sendirian, dan aku tahu kau menang. Aku melihat dari kejauhan.
Ular Naga-mu sudah sempurna. Kau tak lagi butuh guru botak tua ini.
Aku pergi mencari ketenangan terakhirku di pegunungan utara. Jangan cari aku—ini saatnya
kau hidup mandiri, seperti pendekar sejati.
Rambutmu adalah mahkotamu sekaligus senjatamu. Jagalah selalu.
Guru Shun Di
Aku pegang surat itu lama, air mata hampir jatuh tapi aku tahan. Aku tersenyum kecil. “Selamat
jalan, Guru. Aku sudah lulus.”
Aku mendorong pintu gubuk hingga terbuka lebar, membiarkan angin malam laut selatan masuk
membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Di dalam, hanya kegelapan dan keheningan yang
menyambutku. Surat Shun Di masih kugenggam di tangan kiri, kusimpan pelan di atas meja
kecil sebelum aku menyalakan lampu minyak di sudut ruangan. Cahaya kuning redup
menerangi dinding bambu yang sudah tua, dan aku baru sadar betapa sepinya tempat ini tanpa
suara batuk pelan guru atau aroma teh murah yang biasa ia seduh.
Tapi aku tak punya waktu untuk bersedih malam ini. Tubuhku masih bergetar karena sisa
adrenalin pertarungan, dan kepang Ular Naga-ku… masih berlumur darah Gang Ho yang mulai
mengering di ujung-ujungnya. Aku bisa merasakan berat darah itu setiap kali kepang menyapu
lantai tanah saat aku bergerak.
Aku keluar lagi ke halaman belakang gubuk, tempat kami biasa menyimpan air hujan dalam
gentong besar dari bambu. Malam sudah gelap, hanya bulan sabit tipis dan bintang-bintang
yang berkelip di atas laut hitam. Aku ambil gayung kayu, lalu isi baskom besar dari tembikar
hingga penuh air jernih yang dingin menusuk.
Kembali ke dalam, aku letakkan baskom itu di lantai di depan tikar anyaman. Aku duduk bersila,
punggung tegak, lalu mulai megerai kepangku sepenuhnya.
Jari-jari tanganku menyusup ke dalam ikatan yang masih longgar sejak pertarungan tadi. Aku
tarik perlahan tusuk kayu terakhir, dan satu kepang tebal itu langsung terlepas menjadi
gelombang rambut hitam panjang yang mengalir deras hingga ke lantai, bahkan meluber ke
baskom. Rambutku tergerai bebas sepenuhnya sekarang—satu setengah meter lebih, tebal,
hitam berkilau meski di bawah cahaya lampu minyak yang redup. Beberapa helai menempel di
kulit leher dan bahuku karena keringat pertarungan.
Aku ambil napas dalam, mencium bau darah besi yang samar bercampur aroma minyak zaitun
yang selalu kuoleskan setiap malam. Aku celupkan kedua tanganku ke air baskom, lalu mulai
menyisir rambutku dari atas ke bawah dengan jari-jari.
Satu per satu, aku pisahkan helai-helai yang saling menempel karena darah kering. Air jernih di
baskom mulai berubah warna—awalnya hanya setetes merah, lalu semakin pekat menjadi
merah muda, lalu merah tua saat gumpalan darah Gang Ho luruh dari ujung rambutku.
“Masih hangat tadi darahmu, Gang Ho,” gumamku sendirian, suaraku bergema pelan di
ruangan kosong. “Sekarang dingin dan luruh begitu saja.”
malam itu, aku duduk sendirian di depan gubuk, memandang laut gelap, kepangku tergerai
panjang di sampingku. Aku tak sabar menunggu lawan berikutnya yang akan merasakan
cambuk Ular Naga ini.
.jpeg)

Comments
Post a Comment