Gula Coklat chapter 1
Ini kisah tuan kulit putih yang tergoda akan rambut panjang wanita kulit hitam. Akankah dia rela melepas status tingginya demi sentuhan lembut dewi dari Afrika ini?
Namaku Theodore van Houten. Aku baru berusia tiga belas tahun, tapi sudah terbiasa hidup dalam kemewahan yang tak terbayangkan oleh kebanyakan orang di wilayah selatan ini. Rumah besar kami berdiri megah di tengah perkebunan tebu yang luasnya ribuan hektar, di suatu county kecil di Louisiana, tak jauh dari Sungai Mississippi yang mengalir deras membawa lumpur cokelatnya. Udara di sini selalu lembab dan panas, bahkan di pagi hari, bercampur aroma manis tebu yang baru dipanen dan bau tanah basah setelah hujan malam. Pohon-pohon ek tua berdaun lebat mengelilingi rumah utama, cabang-cabangnya menjuntai seperti tirai alami yang menaungi veranda luas tempat aku sering duduk membaca surat kabar.
Keluarga van Houten adalah yang paling terpandang di desa kecil ini. Ayahku, Elijah van Houten, adalah tuan tanah yang disegani, meski ia tak pernah angkat senjata sendiri. Ia sibuk mengurus ratusan budak yang bekerja di ladang-ladang tebu kami, mengawasi proses penggilingan di pabrik gula, dan mengirimkan karung-karung gula putih ke pelabuhan New Orleans untuk diekspor. Ibuku meninggal saat melahirkanku, jadi sejak kecil aku dibesarkan oleh para pelayan rumah tangga—khususnya satu wanita yang selalu ada di sampingku, seperti bayangan yang tak pernah pergi.
Pagi itu, seperti biasa, aku duduk di ruang makan yang luas dengan meja kayu mahoni mengkilap. Cahaya matahari menyusup melalui jendela-jendala tinggi, menerangi karpet Persia yang tebal dan lukisan-lukisan leluhur kami yang bergantung di dinding. Aku sedang membaca koran terbaru dari Richmond—ibu kota Konfederasi—yang dibawa oleh kurir semalam. Berita tentang pertempuran di Virginia membuatku gelisah, tapi juga bangga. Ayahku baru saja berangkat ke sana, membawa dana besar dan beberapa relawan dari perkebunan kami untuk mendukung perlawanan melawan Yankee-Yankee sialan itu.
Teh hangat dituangkan ke dalam cangkir porselen halusku. Aroma daun teh campur madu menyebar, dan aku mendongak. Dia lagi—Abigail. Wanita berusia dua puluh tiga tahun itu berdiri di sampingku, tinggi semampai dengan postur yang anggun meski hanya mengenakan seragam maid sederhana: rok panjang hitam dan blus putih yang sedikit ketat di bagian dada. Kulitnya gelap mengkilap seperti kayu ebony yang dipoles, halus dan menggoda pandangan. Wajahnya cantik, dengan bibir penuh yang selalu melengkung dalam senyuman tipis, mata cokelat yang dalam, dan hidung mancung yang membuatnya terlihat seperti ratu dari suatu kerajaan Afrika yang jauh. Dadanya... ah, dadanya yang lumayan besar itu sering membuatku mencuri pandang, meski aku berusaha menyembunyikannya. Setiap kali ia membungkuk untuk menuang teh, lekuk itu terlihat lebih jelas, membuat jantungku berdegup lebih cepat.
Rambutnya selalu ditutupi kain kepala putih seperti budak perempuan lainnya—aturan rumah tangga untuk menjaga kerapian. Tapi aku tahu rahasia di balik kain itu. Beberapa malam lalu, aku diam-diam mengintip ke kabin budak di belakang rumah besar. Melalui celah jendela kayu yang retak, aku melihatnya: Abigail duduk di depan cermin kecil, melepas kain penutupnya. Rambutnya... ya Tuhan, rambutnya panjang sekali, tebal dan hitam legam, mengalir seperti air terjun hingga melewati pinggangnya saat digelung. Ia menyisirnya perlahan dengan sisir kayu, helai-helai itu mengembang lembut, berkilau di bawah cahaya lilin. Lalu ia mengepangnya menjadi satu kepangan tebal yang panjangnya hampir menyentuh lantai, sebelum menggelungnya kembali dan menutupinya. Aku berdiri di sana lama sekali, napasku memburu, merasakan sesuatu yang aneh di selangkanganku—perasaan yang belum pernah aku pahami sepenuhnya.
"Kau menikmati tehnya, Tuan Muda?" suara Abigail lembut tapi penuh kehangatan, menyadarkanku dari lamunan. Ia berdiri tegak sekarang, tangannya memegang teko perak, senyuman tipisnya membuat bibir tebalnya terlihat lebih menggoda.
Aku tergagap sebentar, wajahku memanas. "Ya... ya, Abby. Teh buatanmu selalu sangat manis. Lebih manis dari gula kita sendiri."
Ia tertawa kecil, suara yang seperti lonceng perak. "Terima kasih, Tuan Muda. Aku tambahkan sedikit madu ekstra hari ini, biar sesuai dengan selera Anda." Ia menuang lagi, gerakannya anggun, dan aku tak bisa menahan diri untuk melirik ke arah kain kepala itu lagi, membayangkan apa yang tersembunyi di baliknya.
"Ayahmu belum kembali juga dari ibu kota, ya?" katanya sambil meletakkan teko di meja, lalu duduk di kursi kecil di sudut—posisi yang seharusnya untuk pelayan, tapi entah kenapa ia sering melakukannya saat hanya kami berdua.
"Tidak. Situasinya pasti gawat di sana. Ayah bilang dia harus menyusun rencana besar untuk mengusir Yankee-Yankee itu dari garis Mason-Dixon." Aku melipat koran, mencoba terdengar dewasa.
Abigail mengangguk pelan, matanya menatapku dalam. "Ayah Anda orang hebat. Memberi banyak dana dan orang-orang untuk perang ini. Apa Tuan Muda yakin Konfederasi akan menang?"
"Tentu saja!" jawabku tegas, meski ada sedikit keraguan di hati. "Ini masalah kepemilikan tanah kami, Abby. Selatan harus menang, atau segalanya akan hancur."
Ia tersenyum lagi, tapi kali ini ada sesuatu yang lain di matanya—mungkin sedih, mungkin sesuatu yang lebih dalam. "Tapi yang kudengar dari para budak lain, perang ini juga tentang membebaskan kami, para budak."
Aku mengerutkan kening. "Kalau begitu, kenapa Yankee tidak mempersenjatai mantan budak mereka sendiri? Lagipula, Abby... kalau seandainya Yankee menang, apa kamu akan senang diberi kebebasan?"
Ia diam sebentar, lalu menatapku lurus. "Aku malah lebih senang jika bisa menikah dengan Anda, Tuan Muda."
Kata-katanya membuatku tersedak teh. "Itu... itu tidak mungkin, Abby! Aku sudah bertunangan dengan Eliza dari perkebunan tetangga."
"Oh, maksudmu gadis jutek itu?" Abigail tertawa kecil lagi, tapi ada nada genit di suaranya. "Tuan Muda yakin dia benar-benar sayang sama Anda? Dia selalu cuek saat datang ke sini."
Aku membela diri. "Well, kalau kami hidup bersama nanti, pasti cinta akan tumbuh seiring waktu."
Abigail mendekat sedikit, aroma kayu manis dari tubuhnya—mungkin dari sabun yang ia gunakan—menyelinap ke hidungku. "Tenang saja, Tuan Muda. Tak peduli siapa yang menang perang ini, aku akan tetap bersama Anda. Selalu."
Aku hanya mengangguk canggung, tapi di dalam hati, perasaan aneh itu kembali muncul. Setiap kali ia menyentuh lenganku saat membantuku berdiri, atau saat ia menyisir rambutku sendiri di pagi hari, aku merasakan getar yang tak bisa kujelaskan. Dan obsesiku pada rambutnya yang tersembunyi itu... semakin hari semakin kuat. Aku sering membayangkannya tergerai bebas, menyentuh kulitku, melilit tubuhku seperti tali sutra hitam yang tak terputus.
Hari-hari di perkebunan berlalu seperti itu—damai di permukaan, tapi penuh gejolak di bawahnya. Perang semakin dekat, dan aku tak tahu bahwa segalanya akan berubah selamanya.
Setahun berlalu sejak pagi-pagi damai itu, dan dunia yang kukenal runtuh seperti rumah kartu yang diterpa angin kencang.
Awalnya hanya berita kecil-kecil yang datang lewat kurir berkuda: Richmond jatuh. Ibu kota Konfederasi direbut Yankee. Lalu, seperti api yang menyebar di ladang tebu kering, kabar buruk demi kabar buruk menyusul. Jenderal Lee menyerah di Appomattox. Perang berakhir. Selatan kalah.
Aku ingat hari itu dengan jelas. Pagi masih panas dan lembab seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda di udara—seperti bau abu yang tak kelihatan. Aku sedang duduk di veranda depan, mencoba membaca buku pelajaran Latin yang sudah lama kutelantarkan, ketika terdengar derap kuda yang cepat. Seorang pengawas ladang, Tuan Hargrove, datang dengan wajah pucat pasi, topinya digenggam erat di tangan.
“Tuan Muda Theodore,” katanya terengah-engah, “pasukan Yankee sudah di parish sebelah. Mereka bilang… mereka bilang Ayah Anda ditangkap di Richmond. Tuduhan membantu pemberontakan.”
Dunia seolah berhenti berputar. Aku berdiri, buku jatuh ke lantai kayu veranda. “Ayah… ditangkap?”
Hargrove mengangguk muram. “Ya, Tuan Muda. Dan… ada perintah dari Washington. Semua perkebunan yang pemiliknya terlibat dalam Konfederasi akan disita. Termasuk kita.”
Belum sempat aku mencerna kata-katanya, suara terompet militer terdengar dari kejauhan, diikuti derap sepatu bot dan suara kuda yang semakin mendekat. Dalam hitungan menit, rumah besar kami dikepung oleh serdadu-serdadu berbaju biru, senapan mereka teracung, wajah-wajah mereka keras dan lelah setelah perang panjang.
Seorang kapten Yankee, berjanggut tipis dan bermata dingin, naik ke veranda dengan dua orang anak buahnya. “Theodore van Houten?” tanyanya langsung padaku.
Aku mengangguk lemah. “Ya… saya.”
“Perkebunan ini kini milik Pemerintah Federal. Semua budak dinyatakan bebas berdasarkan Proklamasi Emansipasi dan Amandemen ke-13. Anda dan keluarga harus meninggalkan properti ini dalam waktu dua puluh empat jam.”
Aku ingin protes, ingin berteriak bahwa ini rumahku, tanah leluhurku, tapi kata-kata itu macet di tenggorokan. Aku hanya bisa melihat ratusan budak—yang selama ini kukenal wajah dan namanya—berkumpul di halaman depan, beberapa menangis bahagia, beberapa lagi kebingungan. Mereka dilepaskan begitu saja, tanpa uang, tanpa tempat tujuan.
Dan Abigail… aku mencarinya di kerumunan itu. Ia berdiri agak ke belakang, kain kepalanya masih rapi, matanya menatapku dari kejauhan. Ada sesuatu di tatapannya—bukan kegembiraan, bukan juga kesedihan. Hanya… janji diam yang pernah ia ucapkan setahun lalu.
Malam itu adalah malam terakhirku di rumah besar. Aku berjalan sendirian menyusuri koridor panjang, menyentuh dinding-dinding yang sudah kukenal sejak kecil, meja makan tempat aku dan Abigail sering berbincang, kamar ayah yang kini kosong. Aku mengemas sedikit pakaian ke dalam tas kulit kecil—beberapa baju, buku Alkitab keluarga, dan sebuah foto kecil ibuku yang sudah pudar.
Keesokan paginya, aku berjalan keluar rumah dengan kepala tegak, meski hatiku hancur. Pasukan Yankee sudah mengibarkan bendera Union di tiang bendera kami. Aku menoleh sekali lagi ke arah Abigail yang berdiri di antara budak-budak lain. Ia mengangguk pelan padaku, bibirnya membentuk kata yang tak bersuara: “Aku akan mencarimu.”
Aku pertama-tama pergi ke perkebunan tetangga, tempat Eliza—tunanganku—tinggal. Rumah besar mereka juga sudah ditinggalkan. Seorang mantan budak tua memberitahuku bahwa keluarga Eliza sudah kabur ke Utara dua minggu lalu, takut akan pembalasan atau sekadar ingin memulai hidup baru di sana. Eliza bahkan tak meninggalkan sepucuk surat pun untukku.
Aku berjalan tanpa tujuan. Dua hari penuh, menyusuri jalan tanah merah yang berdebu, melewati ladang-ladang tebu yang kini tak bertuan, melewati kota kecil yang ramai dengan serdadu Yankee dan para freedmen yang kebingungan. Baju sutra dan sepatuku yang mahal sudah kotor berlumpur, perutku kosong, tenggorokanku kering. Aku tak punya uang—semua rekening keluarga sudah dibekukan.
Pada hari ketiga, kakiku tak lagi kuat menapak. Dunia mulai gelap di pinggir penglihatanku. Aku jatuh berlutut di pinggir jalan setapak yang menuju hutan pinus tua, napasku tersengal. “Tuhan… kalau ini akhirnya…” gumamku lirih.
Lalu aku merasakan tangan kuat mengangkat tubuhku. Aroma yang kukenal begitu baik—kayu manis hangat, campur keringat ringan dan sesuatu yang manis seperti madu—menyelinap ke hidungku. Sehelai rambut hitam panjang, berkilau terkena sinar matahari sore yang menyusup di antara daun-daun, menyapu pipiku sejenak.
“Abigail…?” bisikku sebelum kesadaran hilang sepenuhnya.
Aku terbangun perlahan, seperti muncul dari mimpi yang terlalu dalam. Rasa lemah masih menyelimuti tubuhku, tulang-tulangku terasa rapuh, tapi ada kehangatan yang menyelimuti—selimut kasar dari kain katun yang baunya familiar, campuran kayu pinus dan sedikit aroma kayu manis yang selalu melekat pada Abigail.
Mataku membuka pelan. Cahaya api unggun kecil di perapian menerangi ruangan sederhana ini: dinding kayu pinus yang sudah menghitam di beberapa bagian, lantai tanah yang ditutupi tikar anyaman, dan atap rendah yang membuat kabin ini terasa seperti sarang rahasia di tengah hutan. Di luar, angin malam meniup dedaunan, suara jangkrik dan katak dari rawa-rawa terdekat terdengar samar. Kami benar-benar di tengah hutan, jauh dari jalan utama, jauh dari dunia yang baru saja runtuh.
Abigail duduk di samping ranjang, tangannya memegang mangkuk kayu berisi sup jagung yang masih mengepul. Wajahnya—wajah ebony yang cantik itu—penuh kelegaan, tapi juga air mata yang mengalir pelan di pipinya yang halus. Ia masih mengenakan seragam maid yang sama: blus putih yang sedikit kotor karena perjalanan, rok hitam panjang yang menyapu lantai, dan kain kepala putih yang rapi menutupi rambutnya. Melihatnya seperti itu membuat dadaku sesak—ia bebas sekarang, tapi masih memilih memakai seragam yang dulu melambangkan statusnya sebagai budakku.
“Tuan Muda…” suaranya bergetar saat ia melihat mataku terbuka. Ia langsung meletakkan mangkuk itu dan memelukku erat, tubuhnya yang hangat dan lembut menekan ke tubuhku yang lemah. Aku merasakan payudaranya yang besar itu menindih dadaku, napasnya hangat di leherku. “Akhirnya kau sadar juga. Aku… aku takut sekali kehilanganmu.”
Aku mencoba mengangkat tangan untuk membalas pelukannya, tapi lengan ku terlalu lemah. Hanya jari-jariku yang bisa menyentuh punggungnya sedikit. “Abby… kau… kau yang membawaku ke sini?”
Ia mengangguk, mundur sedikit tapi tangannya masih memegang bahuku. Matanya cokelat dalam itu menatapku penuh kasih. “Ya, Tuan. Aku mencarimu selama berhari-hari. Setelah pasukan Yankee datang dan membebaskan kami semua, aku tak langsung pergi seperti yang lain. Aku tahu kau pasti sendirian, pasti tak punya tempat tujuan. Aku bertanya ke mana-mana, ke para freedmen di jalan, ke kota kecil… sampai akhirnya aku melihatmu jatuh di pinggir hutan ini.”
Aku menelan ludah, tenggorokanku masih kering. “Terima kasih, Abby. Kau… kau menyelamatkanku.”
Ia tersenyum tipis, mengusap air matanya dengan punggung tangan. “Jangan bilang terima kasih, Tuan Muda. Ini sudah kewajibanku. Dari dulu, sejak kau masih bayi.” Ia mengambil mangkuk sup lagi, meniupnya pelan agar tak terlalu panas, lalu menyendokkan satu suap ke bibirku. “Minum dulu ini. Sup jagung dengan sedikit daging kelinci yang aku buru tadi pagi. Kau perlu tenaga.”
Aku membuka mulut patuh, rasanya hangat dan gurih menyusup ke tenggorokan. Setiap suap yang ia berikan terasa seperti kehidupan yang kembali mengalir. Kami diam sebentar, hanya suara api berderak dan sendok kayu yang menyentuh mangkuk.
“Abby,” kataku akhirnya, suaraku masih lemah, “perang… sudah benar-benar selesai, ya? Pihak Utara menang?”
Ia mengangguk pelan, menyendokkan suap lagi. “Ya, Tuan. Presiden Lincoln sudah mengumumkan emansipasi total. Semua budak bebas sekarang. Perkebunan-perkebunan besar seperti milik kita banyak yang disita atau dibagi-bagi ke para freedmen. Ayahmu… aku dengar ditahan di penjara federal di Washington.”
Hatiku sakit mendengarnya, tapi aku sudah menduga. “Dan aku… aku sudah tak punya apa-apa lagi. Rumah besar itu bukan milikku. Tanah itu bukan milikku. Bahkan tunanganku sudah kabur ke Utara tanpa sepatah kata pun.”
Abigail meletakkan mangkuk kosong di meja kecil, lalu memegang tanganku erat. Kulitnya yang gelap dan hangat kontras dengan kulitku yang pucat dan dingin. “Aku tahu, Tuan. Aku tahu semuanya. Tapi itu tak masalah bagiku.”
Aku menatapnya bingung. “Tak masalah? Kau sekarang bebas, Abby. Kau bisa pergi ke mana saja, ke Utara kalau mau, mulai hidup baru. Kenapa kau masih di sini… merawatku? Kenapa kau masih pakai seragam itu?”
Ia tertawa kecil, suara yang lembut dan penuh kehangatan. “Karena bagiku, kau tetap Tuan Mudaku. Selalu. Bebas atau tidak, itu tak mengubah apa yang ada di hatiku.” Ia mendekatkan wajahnya, aroma kayu manis dari tubuhnya semakin kuat. “Dari kecil aku sudah merawatmu. Saat ibumu meninggal, akulah yang menggendongmu, yang menyusui… yang menjagamu tidur. Kau adalah segalanya bagiku.”
Kata-katanya membuat sesuatu di dadaku bergetar. Aku ingat masa kecil itu—Abigail yang masih remaja, berusia sepuluh tahun lebih tua dariku, selalu ada di samping ranjangku, menyanyikan lagu-lagu lembut saat aku menangis.
“Aku sudah tak punya apa-apa untuk membalasmu, Abby,” kataku lirih. “Perkebunanku hilang. Uangku hilang. Aku bahkan tak bisa berdiri sendiri sekarang.”
Ia menggeleng pelan, jari-jarinya mengusap pipiku. “Aku tak minta balasan apa-apa, Tuan. Tapi… kalau kau mau, sebagai balas jasa karena aku menyelamatkanmu… wujudkanlah satu keinginanku. Apa pun yang kau bisa.”
Aku menatap matanya dalam-dalam. Ada sesuatu di sana—harapan, mungkin lebih dari itu. “Apa pun?”
“Ya, Tuan Muda,” jawabnya lembut, senyumannya kembali muncul, kali ini dengan sedikit genit yang membuat jantungku berdegup lebih cepat. “Apa pun yang kau bisa wujudkan dengan tenagamu sendiri.”
Aku mengangguk lemah. “Baiklah. Aku berjanji, Abby. Aku akan mengabulkan permintaanmu semampuku.”
Ia tersenyum lebar, memelukku lagi sebentar. “Terima kasih, Tuan. Sekarang istirahat dulu. Besok kau pasti lebih kuat.”
Malam itu, aku tertidur dengan tangan Abigail masih menggenggam tanganku. Di luar, hutan berbisik pelan, tapi di dalam kabin kecil ini, aku merasa aman untuk pertama kalinya sejak dunia runtuh. Abigail—wanita yang dulu budakku, kini penyelamatku—ada di sini. Dan aku tahu, apa pun yang akan terjadi selanjutnya, akan mengubah segalanya selamanya.
Sup sudah habis, dan tenagaku mulai kembali sedikit demi sedikit. Abigail membantu aku duduk bersandar di kepala ranjang kayu yang kasar itu, lalu ia berdiri, mengulurkan tangannya.
“Ayo, Tuan Muda,” katanya lembut tapi tegas, “kita mandi dulu. Tubuhmu kotor sekali setelah berhari-hari di jalan. Bau keringat dan debu menempel di mana-mana. Biar aku bersihkan seperti dulu.”
Aku ragu-ragu. Mandi? Di sini? Aku melirik sekeliling kabin—hanya ada satu ruangan utama dan sebuah pintu kecil di belakang yang tertutup kain goni. “Mandi di mana, Abby? Kita kan di tengah hutan.”
Ia tersenyum, matanya berbinar nakal. “Aku sudah siapkan di kamar belakang. Aku panaskan air dari sumur tadi sore. Bak kayu tua yang aku temukan di gudang perkebunan dulu—aku bawa ke sini. Airnya masih hangat. Ayo, Tuan. Kau sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku, kan?”
Janji itu kembali mengingatkanku. Aku mengangguk pelan, wajahku memanas. “Baiklah… tapi aku masih lemah. Kau harus bantu aku berdiri.”
Abigail tertawa kecil, suaranya seperti musik di malam hutan yang sunyi. “Tentu saja, Tuan Muda. Itu memang tugasku dari dulu.” Ia merangkul pinggangku dengan satu lengan kuatnya, tubuhnya yang tinggi dan berisi menopang beratku dengan mudah. Aroma kayu manis dari kulitnya semakin kuat saat kami berdekatan begitu—membuat kepalaku sedikit pening, tapi dengan cara yang menyenangkan.
Ia menuntunku melewati kain goni itu, masuk ke ruangan kecil yang lebih gelap, hanya diterangi lilin tebal di sudut. Di tengah ruangan berdiri bak mandi kayu besar, mirip yang ada di rumah besar dulu, penuh air hangat yang masih mengepul tipis. Uapnya membawa aroma daun mint dan sabun buatan sendiri yang Abigail pasti tambahkan. Lantai tanah ditutupi tikar anyaman, dan di samping bak ada bangku kecil dengan handuk kasar serta sepotong sabun cokelat.
Abigail menurunkanku perlahan ke bangku itu. “Sekarang… buka bajumu, Tuan,” katanya tenang, tapi ada nada perintah lembut di suaranya.
Aku menunduk, malu sekali. “Abby… aku bisa sendiri. Kau… kau tunggu di luar saja.”
Ia menggeleng pelan, mendekat hingga lututnya menyentuh lututku. “Tidak bisa, Tuan Muda. Kau masih lemah. Nanti jatuh. Lagipula…” ia tersenyum genit, jari-jarinya menyentuh kancing bajuku yang paling atas, “kau sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku. Dan permintaanku yang pertama adalah… biarkan aku merawatmu sepenuhnya malam ini. Seperti bayi dulu.”
Kata “seperti bayi dulu” itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku ingat masa kecil—Abigail yang masih remaja, memandikanku di bak besar rumah utama, menggosok punggungku, menyanyikan lagu pelan sambil aku tertawa kecil. Tapi sekarang aku sudah tiga belas tahun, tubuhku mulai berubah, dan Abigail… Abigail adalah wanita dewasa yang cantik, dengan lekuk tubuh yang membuatku selalu mencuri pandang.
Aku menyerah. “Baiklah… aku buka sendiri.”
Tapi tanganku gemetar. Abigail tak sabar. “Biarkan aku saja, Tuan.” Ia mulai membuka kancing bajuku satu per satu, gerakannya lambat dan sengaja, seperti menikmati setiap detik. Baju luar jatuh, lalu kemeja dalam yang sudah kotor. Dadaku yang putih pucat terbuka, dan aku merasakan udara hangat ruangan menyapu kulitku. Abigail tak berkata apa-apa, tapi matanya menelusuri tubuhku dengan tatapan yang membuatku gelisah—tatapan penuh kekaguman dan… lapar?
Selanjutnya celana. Aku mencoba menutupi dengan tangan, tapi Abigail menepisnya pelan. “Jangan malu, Tuan Muda. Aku sudah pernah melihat semuanya sejak kau kecil.” Ia menarik celanaku ke bawah, bersama celana dalamku, hingga aku benar-benar telanjang bulat di depannya. Tubuhku yang kurus dan pucat, dengan bulu-bulu halus yang baru mulai tumbuh di beberapa tempat, terekspos sepenuhnya. Penisku yang masih kecil dan lembut menggantung di antara kakiku, dan aku merasa darah naik ke wajahku.
Abigail mengangkatku lagi—dengan mudah, seperti aku tak berbobot—lalu menurunkanku perlahan ke dalam bak air hangat. Airnya sempurna, tak terlalu panas, membaluri tubuhku yang lelah seperti pelukan lembut. Aku menghela napas panjang, merasakan kotoran dan lelah larut perlahan.
“Enak, ya, Tuan?” tanya Abigail sambil duduk di pinggir bak, menggulung lengan blusnya hingga siku.
“Ya… terima kasih, Abby,” gumamku, mencoba tak menatap dadanya yang tertekan oleh blus ketat itu.
Ia mengambil sabun, menggosokkannya ke kain lap basah, lalu mulai menggosok pundakku. Gerakannya lembut tapi tegas, seperti ibu yang mengurus anaknya. “Dulu, saat ibumu meninggal, akulah yang memandikanmu setiap malam. Kau masih bayi, nangis kalau airnya dingin. Aku harus nyanyi dulu biar kau diam.” Ia tertawa kecil, tangannya turun ke lenganku, menggosok setiap inci kulit putihku yang kontras dengan tangannya yang gelap mengkilap.
Aku diam, tapi sensasi itu… aneh. Sentuhan tangannya yang hangat, uap air yang naik, aroma sabun dan kayu manis—semuanya membuat tubuhku bereaksi pelan. Penisku mulai bergerak sedikit di bawah air, dan aku berharap Abigail tak sadar.
Tapi tiba-tiba Abigail berdiri. “Tunggu sebentar, Tuan. Airnya bakal lebih enak kalau aku ikut juga. Biar aku gosok punggungmu dengan benar.”
Sebelum aku bisa protes, ia mulai membuka blusnya. Kancing demi kancing, hingga blus putih itu jatuh ke lantai. Payudaranya yang besar, dibalut kain tipis hitam sederhana, terlihat jelas sekarang—bulat, penuh, dengan lekuk yang membuatku menelan ludah. Lalu roknya meluncur ke bawah, memperlihatkan pinggul lebar dan paha tebal yang gelap mengkilap. Terakhir, kain dalamnya. Tubuh telanjang Abigail kini ada di depanku: kulit ebony yang halus sempurna, perut rata dengan pusar kecil, dan… di bawah sana, bulu hitam tebal yang rapi.
Aku terbelalak, napasku tersengal. “Abby… kau…”
Ia tersenyum lebar, tak malu sama sekali. “Kenapa, Tuan Muda? Kau sudah besar sekarang, tapi aku tetap nanny-mu. Lagipula, lebih praktis begini.” Ia meraih kain kepalanya, melepas ikatannya perlahan. Gelungan rambut tebal itu terurai dulu menjadi kepangan panjang yang menyentuh bokongnya yang bulat. Lalu ia melepas tali kepangan itu.
Rambutnya tergerai bebas.
Ya Tuhan.
Helai-helai hitam legam yang tebal dan mengembang itu mengalir seperti air terjun sutra hingga melewati lututnya—panjang, berkilau di cahaya lilin, setiap helai seolah hidup sendiri. Rambut itu mengembang lebar saat ia mengibaskannya sebentar, aroma shampoo herbal samar menyusup ke hidungku. Aku pernah mengintip ini dari jauh, tapi sekarang… sekarang begitu dekat, begitu nyata.
Abigail melangkah masuk ke bak, air berdesir saat tubuhnya yang telanjang tenggelam hingga pinggang di sampingku. Rambut panjangnya mengapung sebentar di permukaan air sebelum ia angkat dan letakkan di pundaknya. Beberapa helai basah menempel di payudaranya yang besar, meneteskan air ke puting cokelat gelapnya.
“Oh, Tuan Muda kecil sudah bangun sepenuhnya, ya?” katanya sambil melirik ke bawah air dengan mata setengah terpejam. Bibir tebalnya yang gelap itu melengkung dalam senyuman lebar, memperlihatkan gigi putihnya yang rapi. “Jangan malu, Tuan. Aku sudah tahu lama sekali kalau kau suka mengintipku.”
Aku terbelalak, wajahku memanas seperti terbakar. “Apa… apa maksudmu, Abby?”
Ia mendekat lebih lagi, tubuhnya yang ebony mengkilap karena air menempel ke sampingku. Payudaranya yang besar dan berat itu menyentuh lenganku, puting cokelat gelapnya yang mengeras sedikit bergesek dengan kulit putihku. Rambut panjangnya jatuh ke depan, beberapa helai menempel di dada telanjangku, basah dan berat, aroma herbal samar dari rambut itu menyusup ke hidungku, membuat kepalaku pening.
“Aku tahu, Tuan,” bisiknya lembut, tangannya menyentuh pipiku, jari-jari gelapnya mengusap kulitku yang pucat. “Sudah bertahun-tahun. Kau sering mengintip ke kabin budak malam-malam, berdiri di luar jendela saat aku menyisir rambutku. Aku pura-pura tak tahu, tapi aku lihat bayanganmu. Dan aku senang… senang sekali Tuan Muda memperhatikan aku seperti itu.”
Aku menunduk dalam-dalam, malu bukan main, tapi penisku justru semakin keras mendengar pengakuannya. “Abby… aku… aku minta maaf. Aku tak seharusnya—”
“Ssttt,” ia menempelkan jari di bibirku, lalu tertawa pelan. “Jangan minta maaf, Tuan. Aku justru bahagia. Rambutku ini… aku rawat bertahun-tahun, supaya tetap panjang, tebal, lembut. Dan sekarang, aku tahu untuk siapa aku merawatnya.” Ia mengambil segumpal rambut basahnya yang mengembang, mengangkatnya perlahan, lalu membiarkannya jatuh ke air di depanku. Helai-helai itu menyapu penisku yang menegang di bawah permukaan, sentuhannya seperti ribuan bulu halus yang menggelitik.
Aku menggigit bibir, napasku tersengal. “Abby… itu…”
“Enak, ya?” bisiknya, matanya penuh godaan. Ia mulai menggosok tubuhku lagi dengan kain lap, tapi kali ini lebih lambat, lebih sengaja. Mulai dari pundak, turun ke dada, menggosok putingku yang kecil hingga mengeras, lalu ke perut. Akhirnya tangannya mencapai selangkanganku. Ia membuang kain lap itu, dan tangannya yang telanjang—hangat, kuat, kulitnya halus—meraih penisku langsung.
“Ahh!” aku mendesah tak terkendali saat jari-jarinya melingkar di batangku yang putih dan keras itu. Kontras warna kulitnya yang gelap ebony dengan kulitku yang seputih salju membuat pemandangan itu semakin erotis di mataku sendiri.
“Tenang, Tuan Muda,” katanya lembut, mulai mengocok perlahan, naik-turun dengan irama yang mantap. “Biar aku bersihkan di sini juga. Kotor sekali setelah berhari-hari di jalan, kan?” Tangannya licin karena sabun dan air, gerakannya sempurna—kadang erat, kadang longgar, ibu jarinya mengusap kepala penisku yang sensitif hingga aku menggeliat.
Tapi itu belum cukup baginya. Abigail mengambil segumpal besar rambut panjangnya yang basah, menggulungnya di sekitar tangannya seperti tali sutra hitam yang tebal. Lalu, dengan senyuman penuh dominasi, ia membungkus rambut itu di sekitar penisku.
Sensasinya… ya Tuhan. Rambutnya yang lembut, halus, tebal, basah—seperti ribuan helai sutra hidup yang melilit batangku. Ia mulai mengocok lagi, kali ini dengan rambutnya sebagai alat—naik-turun perlahan, rambut itu mengembang dan menyapu seluruh panjang penisku, dari pangkal hingga ujung. Setiap gerakan membuat helai-helai itu bergesekan dengan kulit sensitifku, dingin tapi hangat, licin tapi kasar sedikit karena tekstur alaminya.
“Abby… ahh… itu… terlalu…” aku merintih, kepalaku terdongak ke belakang, tanganku mencengkeram pinggir bak kayu.
“Rambutku enak, ya, Tuan?” bisiknya di telingaku, napasnya hangat. “Aku tahu kau selalu memimpikan ini. Rambut negro tebal yang panjang ini melilit penis putihmu yang kecil… seperti ular sanca hitam yang menjerat kelinci putih.”
Kata-katanya membuatku semakin gila. Ia mempercepat gerakan rambutnya, tangannya memandu agar rambut itu semakin erat melilit, mengocok lebih cepat. Aku merasakan tekanan semakin kuat, kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Tapi Abigail tak berhenti di situ. Ia menunduk, wajah cantiknya mendekat ke selangkanganku. Rambut panjangnya jatuh ke depan seperti tirai hitam, menutupi kami berdua sebagian. Lalu bibir tebalnya yang gelap dan penuh itu membuka, menelan kepala penisku perlahan.
“Ahh! Abby!” aku berteriak kecil, tubuhku menegang.
Mulutnya hangat, basah, bibir tebalnya yang lembut melingkar erat di sekitar batangku. Lidahnya yang panjang dan lincah menjilat bawah kepala penisku, memutar-mutar, sementara tangannya terus memandu rambutnya untuk mengocok pangkal yang tak tercapai mulutnya. Ia menghisap kuat, suara basah “slurp… slurp…” terdengar di ruangan kecil itu, campur dengan desahanku yang semakin tak terkendali.
Ia naik-turun kepalanya perlahan dulu, mulutnya menelan semakin dalam, hingga hampir seluruh penisku hilang di dalam bibir tebalnya yang gelap. Rambutnya yang panjang menyapu pahaku, perutku, bahkan sesekali menyentuh bola zakarku—semuanya menambah sensasi yang gila.
“Aku… aku mau… Abby!” aku merintih, pinggulku bergerak sendiri.
Ia mempercepat, menghisap lebih kuat, tangannya mengocok cepat dengan rambut tebal itu. Akhirnya, aku tak tahan lagi. Tubuhku menegang keras, dan aku ejakulasi di dalam mulutnya—semburan demi semburan panas yang keluar deras.
Abigail tak mundur. Ia terus menghisap, menelan sebagian, tapi membiarkan sisa mani belepotan di sekitar bibir tebalnya yang mengkilap. Saat ia akhirnya mundur, napasnya tersengal, ia menjilat pelan sisa mani putih itu dari bibirnya dengan lidah panjangnya, matanya menatapku penuh kemenangan.
“Rasanya manis kayak yogurt, Tuan,” katanya genit, suaranya serak karena nafsu. “Yogurt putih dari Tuan Muda yang manis.”
Aku hanya bisa terengah-engah, tubuhku lemas di bak air, mata tak bisa lepas dari wajahnya yang ebony cantik itu, dari rambut panjang tebalnya yang masih basah menempel di tubuh telanjangnya. Aku merasa malu, tak berdaya—seorang tuan kulit putih yang baru saja ditelanjangi, dipermainkan, dan didominasi oleh mantan budak negro ini. Tapi di balik rasa malu itu, ada sesuatu yang lain yang semakin kuat: cinta. Cinta yang terlarang, yang tak seharusnya kurasakan, tapi sudah terlalu dalam untuk kutahan.
Air di bak sudah mulai dingin, tapi tubuhku masih panas, bergetar karena apa yang baru saja terjadi. Aku terduduk lemas di dalam air yang keruh sedikit, napasku masih tersengal, mata tak sanggup menatap Abigail langsung. Mani putihku masih belepotan di sudut bibir tebalnya yang gelap, dan ia menjilatnya pelan-pelan dengan lidah panjangnya, seperti menikmati setiap tetes terakhir.
Abigail tersenyum puas, matanya yang cokelat dalam itu menatapku dengan campuran kasih sayang dan dominasi yang membuatku tak berdaya. “Sudah lebih bersih sekarang, ya, Tuan Muda?” katanya lembut, suaranya serak karena nafsu yang baru saja terpuaskan sebagian. Ia berdiri perlahan dari bak, air mengalir deras dari tubuh ebony-nya yang telanjang, menyusuri lekuk payudaranya yang besar, perut rata, hingga paha tebalnya. Rambut panjang tebalnya yang basah menempel di punggung dan bokongnya, mengembang seperti jubah hitam basah yang hidup.
Ia keluar dari bak lebih dulu, mengambil handuk kasar dari bangku kecil. “Ayo, Tuan. Keluar sekarang, sebelum kau kedinginan.” Ia mengulurkan tangan, dan aku—masih lemah, masih malu—menggenggamnya. Tubuhku ditarik perlahan keluar dari air, telanjang bulat, penisku yang baru saja ejakulasi kini lemas lagi, menggantung basah di antara kakiku yang putih pucat.
Abigail mulai mengeringkanku dengan handuk itu, gerakannya lembut tapi penuh kuasa. Ia menggosok pundakku dulu, lalu dada, menyeka putingku yang masih sensitif hingga aku menggeliat kecil. “Masih lemas ya, Tuan?” tanyanya genit, tangannya turun ke perutku, menyeka air dengan pelan. Lalu ke selangkanganku—ia mengeringkan penisku dan bola zakarku dengan hati-hati, jari-jarinya sesekali menyentuh kulit sensitif itu, membuatku mendesah lagi.
“Abby… aku… aku bisa sendiri,” gumamku lemah, tapi suaraku tak meyakinkan sama sekali.
Ia tertawa kecil, suaranya seperti lonceng perak di malam hutan yang sunyi. “Tidak bisa, Tuan Muda. Kau masih seperti bayi bagiku. Biarkan aku yang urus semuanya.” Ia membungkuk, mengeringkan kakiku satu per satu, lalu memintaku angkat kaki agar ia bisa menyeka telapak dan jari-jari kakiku. Rambut panjangnya yang basah menyapu lantai, beberapa helai menyentuh kakiku—sensasi dingin dan lembut yang membuat bulu kudukku merinding lagi.
Setelah aku kering, Abigail mengeringkan dirinya sendiri dengan handuk yang sama. Ia menggosok payudaranya yang besar itu pelan, puting cokelat gelapnya mengeras lagi karena gesekan handuk. Lalu punggungnya, dan saat ia mengeringkan rambutnya—ya Tuhan, rambut itu. Ia meremas helai-helai tebalnya dengan handuk, tapi tetap saja panjang dan berat, mengembang basah hingga menyentuh betisnya. Aroma herbal dari rambutnya semakin kuat bercampur uap mandi.
Tapi aku masih lemah berdiri lama. Kakiku gemetar. Abigail menyadarinya, dan dengan senyuman manja, ia mendekat. “Kasihan Tuan Muda-ku… masih tak kuat berdiri.” Tanpa menunggu izin, ia membungkuk, merangkul pinggangku dengan satu lengan kuatnya, lengan lain di bawah lututku. Lalu ia mengangkatku—menggendongku seperti bayi, tubuh telanjangku yang ringan menempel erat ke tubuh telanjangnya yang hangat dan berisi.
“Abby! Letakkan aku turun!” protesku lemah, wajahku memanas karena malu. Aku tuan kulit putih, tapi sekarang digendong seperti anak kecil oleh wanita negro ini—mantan budakku.
“Tidak mau,” jawabnya tegas tapi manja, berjalan keluar dari ruangan kecil itu sambil menggendongku erat. Payudaranya yang besar menindih dadaku, putingnya bergesek dengan kulitku setiap langkah. Rambut basahnya meneteskan air ke tubuhku, helai-helai itu menyapu pipiku, leherku. “Kau bayiku malam ini, Tuan. Biarkan aku gendong kau ke ranjang.”
Ia membawaku kembali ke ruangan utama, meletakkanku pelan di ranjang sederhana itu. Lalu ia mengambil pakaianku yang sudah dicuci dan dikeringkan di dekat perapian—baju sederhana yang tersisa dari tas kecilku. Abigail mendandaniku seperti boneka: memakaikan celana dalam dulu, jari-jarinya sengaja menyentuh penisku lagi hingga aku mendesah. Lalu kemeja, mengancingkannya satu per satu sambil mencium pipiku pelan.
“Sudah cantik lagi, Tuan Muda,” katanya puas setelah selesai. Ia sendiri tak buru-buru berpakaian. Hanya mengenakan rok panjang longgar tanpa blus, payudaranya yang besar terbuka bebas, bergoyang pelan setiap ia bergerak.
Hari sudah malam benar. Di luar kabin, hutan gelap dan sunyi, hanya suara jangkrik dan angin malam. Tak ada selimut tebal di ranjang ini—hanya kain tipis. Abigail naik ke ranjang, berbaring di sampingku, tubuhnya yang hangat menempel erat. “Dingin ya, Tuan?” bisiknya, tangannya merangkul pinggangku.
“Sedikit…” jawabku lirih, masih tak berani menatapnya langsung.
Ia tersenyum, lalu membuka ikatan rambutnya yang masih setengah basah. Rambut panjang tebal itu tergerai bebas lagi, mengembang lebar karena kelembaban. Ia mengibaskannya pelan, lalu menyelimutkan helai-helai itu ke atas tubuhku—seperti selimut hidup yang lembut dan hangat. Rambutnya menutupi dadaku, perutku, hingga kakiku, helai demi helai menyentuh kulitku di mana-mana, aroma herbal dan kayu manisnya membiusku.
“Ini selimut kita malam ini, Tuan,” katanya manja, tangannya mengusap rambut itu agar lebih rata menyelimutiku. “Rambutku yang kau suka ini… sekarang milikmu sepenuhnya.”
Sensasinya luar biasa—lembut, halus, tebal, seperti ribuan sentuhan sutra yang hidup. Aku menggeliat pelan, merasakan rambut itu bergesek dengan kulitku setiap kali aku bernapas.
Abigail mendekatkan tubuhnya lagi, lalu—dengan gerakan sengaja—ia membuka rok bagian atasnya, memperlihatkan payudaranya yang besar dan telanjang sepenuhnya. Puting cokelat gelapnya yang besar itu sudah mengeras, seperti mengundang.
“Ini… ‘susu coklat’ kesukaan Tuan dulu,” katanya dengan nada manja yang penuh godaan, tangannya menuntun kepalaku mendekati salah satu payudaranya. “Minum lagi, Tuan Muda. Kau pasti lapar setelah semua itu.”
Aku mencoba menolak sebentar, tapi aroma tubuhnya, kehangatan rambutnya, dan sentuhan tangannya terlalu kuat. Mulutku secara refleks membuka, menghisap putingnya yang besar itu. Rasa manis samar—like susu hangat campur madu—menyusup ke lidahku. Aku menghisap pelan dulu, lalu lebih dalam, seperti bayi yang lapar.
Abigail mendesah puas, tangannya membelai kepalaku, jari-jarinya menyisir rambutku yang pendek. “Bagus… seperti itu, Tuan. Hisap lebih kuat. Aku suka melihat Tuan Muda-ku begini… tak berdaya di pelukanku.”
Aku menghisap bergantian kedua payudaranya, tanganku tanpa sadar memeluk pinggangnya yang lebar. Di antara hisapan itu, aku mendongak sebentar, melihat wajahnya—tersenyum lebar, mata penuh kemenangan dan dominasi, seperti ratu yang baru saja menaklukkan kerajaannya
"Tuan muda, sudah lama aku jatuh cinta padamu. Apa tuan muda mau menikah denganku," kata Abigail lirih.
Aku dengan malu membuang muka-ku. Tuan kulit putih seperti diriku, dilamar oleh mantan budak-ku. Aku tak membenci wanita yang telah melayani dan menolongku ini, namun aku rasa hubungan antara aku dan dia sangat bertentangan dengan harga diriku.
Aku menunduk lagi, menghisap lebih dalam untuk menyembunyikan wajahku. “Aku… aku takut. Kebanggaanku sebagai kulit putih… sebagai tuan tanah…”
Abigail memelukku lebih erat, rambutnya semakin menyelimuti kami berdua. “Tidak apa-apa, Tuan,” bisiknya lembut, mengulang kata-kataku dulu dengan nada penuh makna. “Jika kita hidup bersama seperti ini, pasti cinta akan tumbuh.”
Kata-kata itu menusuk hatiku. Dulu aku bilang begitu pada Eliza, tunanganku yang kabur. Sekarang Abigail mengucapkannya kembali—dan aku tahu, ia benar. Cinta ini sudah tumbuh, meski terlarang, meski aku masih malu mengakuinya sepenuhnya.
Malam semakin larut, dan Abigail mulai bernyanyi pelan—lagu pengantar tidur yang baru, yang ia ciptakan saat itu juga, suaranya lembut dan menghipnotis.
Bersambung
.jpeg)

Comments
Post a Comment