Cambuk Zaitun Bab 2: Taruhan Rambut
Samurai dari timur datang menantang. Pertarungan dengan rambut dan kehormatan sebagai taruhannya
Februari 1899
Angin musim semi awal mulai bertiup lebih lembut di Shaonu Ta, membawa aroma tanah basah dan bunga liar yang baru mekar di lereng bukit. Laut selatan masih dingin, ombaknya memecah karang dengan suara yang lebih tenang daripada bulan lalu, seolah dunia pun ikut menarik napas setelah pertarunganku dengan Gang Ho.
Sudah sebulan berlalu sejak hari itu. Reputasi Ular Naga menyebar seperti api liar di pesisir selatan. Para nelayan tak lagi hanya berbisik tentang ikan tangkapan mereka, tapi tentang “Feng Ye si Rambut Cambuk” yang membuat pendekar utara berlutut dan wajahnya berdarah. Beberapa pemuda desa kini menatapku dengan campuran takut dan kagum saat aku lewat pasar, sementara para wanita muda sering menyisir rambut mereka lebih lama di depan cermin air, berharap bisa punya panjang dan tebal seperti milikku.
Aku hidup sendirian sekarang di gubuk kecil itu. Shun Di benar-benar pergi tanpa pamit langsung—hanya surat pendek yang kini kusimpan rapi di bawah tikar tidurku. Setiap pagi aku bangun sebelum fajar, melatih Bajiquan di pantai, lalu fokus pada Ular Naga: mengayunkan kepangku ke batang pohon kelapa hingga retak, atau memukul karung pasir hingga robek. Rambutku semakin panjang sedikit, hampir mencapai 1,6 meter sekarang, tebal dan hitam berkilau karena aku tak pernah lalai merawatnya dengan minyak zaitun dan sisir kayu ibu.
Hari itu, saat aku baru pulang dari pasar dengan keranjang berisi beras dan ikan asin, aku melihat sesuatu yang aneh di depan pintu gubukku. Sebuah gulungan kertas merah tua terikat rapi dengan tali hitam, diletakkan di atas batu besar yang biasa kujadikan bangku. Tak ada siapa-siapa di sekitar, hanya burung camar yang terbang rendah di atas laut.
Aku ambil gulungan itu, membukanya pelan. Tulisan kanji Jepang yang rapi, tapi di bawahnya ada terjemahan dalam hanzi sederhana yang bisa kubaca.
Kepada Feng Ye dari Shaonu Ta,
Aku, Kumi Ayaka, samurai dari klan Kumi di Kyushu, mendengar kehebatan “Ular Naga” yang mengalahkan Gang Ho dari Harimau Utara. Aku datang ke Tiongkok untuk menguji pedangku melawan pendekar sejati.
Aku menantangmu bertarung satu lawan satu di hutan bambu sebelah timur desamu, pada hari kelima bulan ini, saat matahari di atas kepala.
Taruhannya: yang kalah akan dipotong rambutnya oleh pemenang.
Jika kau tak datang, aku akan anggap kau takut pada bilah katana seorang wanita Jepang.
Hormat,
Kumi Ayaka
Aku baca ulang dua kali, jantungku berdegup lebih cepat. Taruhan… memotong rambut? Aku sentuh kepangku yang tergantung panjang di punggungku, jari-jariku menyusuri teksturnya yang halus tapi kuat. Bayangan rambutku dipotong membuatku merinding—tapi bukan karena takut kalah, melainkan karena aku tak bisa membayangkan hidup tanpa Ular Naga ini.
Yang lebih membuatku antusias: lawannya wanita. Selama ini aku hanya bertarung melawan pria sombong yang meledek rambutku sebelum akhirnya menjerit di bawah cambukannya. Kali ini… seorang samurai wanita? Aku ingin lihat bagaimana dia bertarung, bagaimana dia merawat rambutnya sendiri, dan yang terpenting—bagaimana rasanya kalau aku yang memotong rambut seorang pendekar wanita.
Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Aku duduk di depan gubuk, memandang laut gelap sambil menyisir rambutku perlahan. “Kau akan bertemu lawan sejati kali ini,” bisikku pada kepangku yang tergerai panjang di pangkuanku. “Seorang wanita yang juga bangga dengan rambutnya. Kita tak boleh kalah.”
Hari kelima tiba dengan langit cerah. Aku bangun pagi, mandi di sungai kecil belakang desa, lalu olesi rambutku dengan minyak zaitun hingga berkilau sempurna. Aku ikat kepangku longgar dulu, mengenakan jubah biru tua sederhana yang sudah usang di beberapa bagian—tapi cukup longgar untuk gerak bebas. Tak lupa kuselipkan tusuk kayu tambahan di pinggang, kalau-kalau perlu menggulung rambut cepat.
Aku melangkah masuk lebih dalam ke lapangan kecil di tengah hutan bambu, daun-daun hijau bergesekan di atas kepalaku seperti tirai hidup yang berbisik pelan. Sinar matahari siang menembus celah-celah batang bambu tinggi, menciptakan totol-totol cahaya keemasan di tanah berumput yang lembab. Bau getah segar dan tanah basah setelah hujan semalam menyengat hidungku, bercampur aroma samar garam laut yang masih terbawa angin dari Shaonu Ta tak jauh dari sini.
Ayaka berdiri tegak di tengah, tak bergerak sedikit pun, seperti patung samurai yang hidup. Usianya memang sama denganku—25 tahun—kulitnya putih pucat khas wanita Jepang yang jarang terpapar matahari keras, matanya sipit tajam seperti bilah katana yang belum terhunus. Tubuhnya ramping tapi tegap, otot-ototnya terlihat terlatih di balik gi putih bersih yang menempel ketat di tubuhnya, hakama biru tua berkibar pelan ditiup angin, memperlihatkan kakinya yang siap bergerak kapan saja.
Tapi yang benar-benar membuatku berhenti sejenak adalah rambutnya.
Hitam pekat, tebal, dan subur sempurna. Diikat gaya chonmage yang khas samurai—aku pernah dengar dari pedagang Jepang yang singgah di pelabuhan—ekor kuda diikat tinggi di ubun-ubun, lalu ditekuk rapi ke depan hingga menutupi sebagian dahi dan alisnya. Bedanya dengan chonmage pria, tak ada bagian botak sama sekali; rambut di atas kepalanya tumbuh lebat, membuat gaya itu terlihat lebih anggun daripada keras. Aku bisa bayangkan, kalau digerai, rambutnya pasti panjang hingga sepunggung atau lebih, terawat dengan minyak kamelia atau apa pun rahasia wanita Jepang.
Aku tersenyum lebar—senyum yang tak bisa kutahan—karena untuk pertama kalinya, aku bertemu pendekar wanita yang juga jelas bangga dengan rambutnya. Bukan seperti pria-pria sombong yang hanya meledek sebelum akhirnya menjerit.
“Kumi Ayaka,” kataku pelan sambil berhenti lima langkah di depannya, tanganku masih memegang ujung kepangku yang longgar. “Akhirnya kita bertemu. Aku Feng Ye.”
Ia angguk sedikit, tangan kanannya tetap bertumpu di gagang katana yang tersarung di pinggang kiri. Matanya menatapku dari atas ke bawah—ke jubah biru tuaku yang sederhana, ke kaki telanjangku di sandal kayu, lalu berhenti lama di kepang hitam tebal yang tergantung hingga betisku.
“Feng Ye,” ulangnya dengan suara tenang tapi dalam, aksen Jepangnya membuat nama ku terdengar lebih tajam. “Aku sudah mendengar banyak tentangmu. Ular Naga yang membuat Gang Ho lari dengan wajah berdarah. Aku datang jauh dari Kyushu untuk melihatnya sendiri.”
Aku tertawa kecil, melangkah lebih dekat satu langkah lagi. Angin meniup kepangku hingga bergoyang pelan di punggungku. “Kau datang jauh hanya untuk itu? Bagus. Aku juga sudah tak sabar sejak baca suratmu. Akhirnya… lawan yang wanita. Bukan pria sombong yang hanya bisa meledek rambut sebelum merasakan cambukannya.”
Mata Ayaka menyipit sedikit, bibirnya tak tersenyum, tapi aku lihat ada kilau tantangan di matanya. “Kau bangga dengan rambutmu itu, ya? Aku juga. Chonmage ini adalah kehormatan keluargaku. Guru ku bilang, samurai sejati tak pernah kehilangan rambutnya—kecuali dalam kekalahan terhormat.”
Aku angkat alis, tanganku menyentuh kepangku pelan, merasakan teksturnya yang halus tapi kuat. “Kehormatan, ya? Aku juga. Rambutku ini warisan ibuku, dan senjata yang diajarkan guru ku. Kalau kau menang, potonglah sepuasmu. Tapi kalau aku menang…” Aku tersenyum licik, mataku melirik chonmage-nya yang rapi itu. “…aku akan potong chonmage indahmu itu dengan tanganku sendiri.”
Ia tak menjawab langsung. Ia hanya tarik napas pelan, lalu tangan kanannya bergerak—perlahan, penuh hormat—menghunus katana dari sarungnya. Bilah panjang itu berkilau dingin di bawah sinar matahari yang tembus, suara gesekan logam terdengar tajam di tengah bisikan bambu.
“Mulai,” katanya singkat, memasang kuda-kuda iaijutsu—tubuh sedikit miring, katana dipegang dua tangan di depan dada, mata tak berkedip menatapku.
Aku tak langsung serang. Aku tarik napas dalam, lalu mulai menggulung kepang panjangku dengan kedua tangan. Gerakanku lambat dan sengaja, agar ia lihat baik-baik: aku putar kepang tebal itu berkali-kali di atas kepalaku, membentuk sanggul besar yang kukencangkan dengan tusuk kayu dan tali hitam kecil. Rambutku kini terikat rapi di ubun-ubun, tak lagi menggantung bebas—siap untuk pertarungan tangan kosong dulu.
“Kenapa kau ikat rambutmu rapat-rapat?” tanya Ayaka tiba-tiba, suaranya penuh keheranan tapi tetap tenang. “Bukankah Ular Naga-mu itu senjata utamamu?”
Aku tersenyum, memasang kuda-kuda Bajiquan—kaki kanan di depan, tangan terbuka siap ledak. “Sabar dulu, Ayaka. Aku ingin rasakan dulu pedangmu dengan tanganku sendiri. Lagipula… aku tak mau terlalu cepat menyakiti wanita secantik kamu.”
Ia tak tertawa, tapi aku lihat sudut bibirnya bergetar sedikit—mungkin kesal, mungkin tertantang.
“Jangan meremehkanku, Feng Ye,” katanya dingin. “Aku bukan gadis desa yang main-main dengan rambut.”
Angin bambu semakin kencang, daun-daun bergoyang seperti sorak sorai penonton tak kasat mata.
Ayaka melangkah maju pertama kali, katana-nya meluncur dalam tebasan horizontal cepat ke arah pinggangku.
Aku lompat kecil ke belakang, telapak tanganku siap menangkis, dan pertarungan wanita sejati di hutan bambu ini pun benar-benar dimulai.
Tebasan horizontal Ayaka datang cepat, bilah katana-nya memotong udara dengan suara mendesis tajam yang membuat bulu kudukku merinding. Cahaya matahari yang tembus celah bambu memantul di permukaan bilah itu, membuatnya tampak seperti kilat perak yang hidup. Aku lompat kecil ke belakang, kakiku mendarat ringan di atas rumput basah, tangan kananku sudah siap di depan dada.
Bilah itu lewat hanya beberapa inci dari perutku, cukup dekat hingga aku merasakan angin dingin dari ayunannya menyapu kulitku di balik jubah tipis.
“Bagus!” kataku sambil tersenyum, napasku mulai lebih cepat. “Pedangmu cepat sekali, Ayaka.”
Ia tak jawab dengan kata-kata. Ia langsung putar tubuh dengan lincah, hakama-nya berkibar seperti sayap burung elang, dan katana-nya naik dalam tebasan diagonal dari bawah ke atas, mengarah ke bahuku. Aku condongkan tubuh ke kiri, gunakan telapak tangan kiri untuk menangkis pergelangan tangannya—tenaga Bajiquan-ku meledak di titik sentuh, membuat lengannya terpental sedikit.
Bunyi “tak!” keras terdengar saat telapakku bertemu kulitnya, tapi ia tak goyah. Ia balas langsung dengan tusukan lurus ke dada ku, bilahnya menusuk seperti ular berbisa.
Aku putar pinggul dengan cepat, elak ke samping, lalu balas dengan pukulan siku kanan pendek ke rusuknya. Siku ku mengenai sisi gi-nya—bunyi “duk!” pelan, tapi cukup untuk membuatnya terhuyung satu langkah.
Ayaka mundur dua langkah, napasnya masih teratur, chonmage-nya yang rapi tak bergeming sedikit pun. Matanya menyipit lebih tajam, menilai ku.
“Kau lincah,” katanya dingin, suaranya tetap tenang meski baru saja kena pukulan. “Bajiquan, ya? Ilmu keras dari utara.”
Aku angguk, memasang kuda-kuda lagi, tanganku terbuka seperti cakar siap mencengkeram. “Benar. Tapi kau juga tak kalah, Ayaka. Katana-mu seperti ekstensi tanganmu sendiri.”
Ia tak tersenyum, tapi ia maju lagi—kali ini lebih ganas. Serangkaian tebasan bertubi-tubi: horizontal kiri, diagonal kanan, tusukan bawah, diakhiri tendangan rendah dengan kaki kanannya ke lututku. Aku blokir tebasan pertama dengan lengan bawah—logam katana menggesek kulitku, meninggalkan garis merah panas yang terasa terbakar—lalu elak tusukan dengan memutar tubuh, dan tangkap tendangannya dengan tangan kiri, tarik sedikit untuk buat ia kehilangan keseimbangan.
Ia lepaskan tendangan itu sendiri, putar katana di tangan dengan gerakan indah, lalu tebas lagi ke arah leherku.
Aku merunduk cepat, rambut sanggulku di ubun-ubun hampir tersentuh angin bilah itu, lalu balas dengan serangan lutut kanan ke perutnya. Lututku mengenai obi-nya keras—bunyi “buk!” terdengar, membuatnya terbatuk kecil dan mundur tiga langkah sambil memegang perut.
Kerumunan bambu di sekitar kami seolah ikut menahan napas. Hanya suara daun bergesekan dan napas kami yang saling kejar yang terdengar.
Ayaka luruskan tubuh lagi, katana-nya kembali ke posisi siap. “Kenapa kau masih ikat rambutmu rapat-rapat seperti itu?” tanyanya tiba-tiba, suaranya penuh protes meski tetap tegas. “Semua orang di pesisir selatan bicara tentang Ular Naga-mu yang legendaris. Rambut cambuk yang membuat Gang Ho menjerit. Kenapa kau tak pakai sekarang? Takut rusak sanggul cantikmu?”
Aku tertawa kecil, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Garis merah di lengan ku mulai memar, tapi itu hanya membuat darahku lebih panas. “Sabar dulu, Ayaka. Aku ingin nikmati dulu pedangmu dengan tangan kosong. Lagipula… aku tak mau terlalu cepat akhiri pertarungan ini. Kau lawan yang menyenangkan.”
Ia menggeleng pelan, chonmage-nya bergoyang sedikit karena gerakan itu. “Jangan main-main. Aku datang untuk lihat Ular Naga itu. Kalau kau tak pakai, berarti kau meremehkanku.”
Aku maju kali ini, pukulan kananku meluncur lurus ke wajahnya—ia tangkis dengan gagang katana, lalu balas dengan tebasan menyamping ke pinggangku. Aku lompat mundur, tapi ujung bilah itu menyentuh jubahku, merobek kain di sisi hingga memperlihatkan kulit pinggangku yang putih.
“Bagus!” seruku lagi, adrenalin mengalir deras. Aku balas dengan tendangan tinggi ke bahunya—ia blokir dengan lengan, tapi tenaga ledakanku membuatnya terdorong ke belakang hingga punggungnya hampir menyentuh batang bambu.
Ayaka stabilkan diri, napasnya mulai sedikit tersengal. “Pakai rambutmu, Feng Ye!” bentaknya, suaranya lebih keras sekarang. “Aku tak mau menang karena kau sengaja menahan senjata utamamu!”
Aku tersenyum lebar, merasakan sanggulku di ubun-ubun mulai sedikit longgar karena keringat dan gerakan keras. “Kau benar-benar ngotot ingin rasakan Ular Naga, ya? Baiklah… mungkin saatnya sudah hampir tiba.”
Ia serang lagi, katana-nya naik tinggi untuk tebasan vertikal dari atas ke bawah—gerakan yang penuh tenaga, seolah ingin membelahku menjadi dua.
Aku siap elak, tapi kali ini aku biarkan ia lebih dekat. Bilah itu turun cepat… dan aku dengar suara “sret!” kecil saat ujung katana memotong tali pengikat sanggulku.
Dalam sekejap, sanggul besar itu terlepas. Kepang tebal panjangku langsung menjulur lurus dari ubun-ubun ke bawah seperti air terjun hitam yang hidup, ujungnya menyapu rumput basah hingga tanah. satu setengah meter lebih, tebal, hitam berkilau, ujungnya menyapu rumput basah dan daun bambu kering yang berguguran. Rambutku bergoyang pelan ditiup angin, seperti ekor naga yang baru bangun dari tidur panjang, siap menggeliat dan menerkam.
Aku tetap di posisi merunduk sebentar, membiarkan sensasi itu meresap. Bebas. Akhirnya bebas. Darahku berdegup lebih kencang, bukan karena takut, tapi karena kegembiraan murni.
Ayaka mundur satu langkah, katana-nya masih terangkat tinggi setelah tebasan tadi. Matanya melebar sedikit—bukan karena takut, tapi karena puas. Napasnya masih tersengal dari pertarungan tangan kosong, tapi senyum tipis pertama kali muncul di bibirnya yang tegas itu.
“Akhirnya…” katanya pelan, suaranya penuh kepuasan yang tak disembunyikan. “Ular Naga yang dibicarakan seluruh Shaonu Ta. Aku sudah menunggu lama untuk melihatnya bangkit.”
Aku bangkit perlahan, tubuhku tegak kembali. Rambut kepangku yang menjulur lurus dari ubun-ubun bergoyang mengikuti gerakanku, ujungnya meninggalkan jejak basah di rumput. Aku goyangkan kepalaku sedikit saja—hanya sedikit—dan kepang itu langsung berdesis di udara, seperti cambuk yang siap menyabet.
Aku tersenyum lebar, mataku menatap lurus ke matanya. “Kau puas sekarang, Ayaka? Kau yang memaksa Ular Naga ini bangun dari tidurnya. Tadi kau protes kenapa aku belum pakai… nah, sekarang saatnya tepat.”
Angin bambu tiba-tiba berhembus lebih kencang, membuat batang-batang tinggi bergoyang dan daun-daun berjatuhan seperti hujan hijau. Kepangku ikut menari pelan, menyapu udara di sekitarku, seolah hidup sendiri.
Ayaka angguk pelan, katana-nya kembali ke posisi siap dua tangan. Chonmage-nya masih rapi sempurna, tak bergeming sedikit pun meski keringat mulai menetes di pelipisnya. “Bagus. Aku datang jauh untuk ini. Tunjukkan padaku mengapa rambutmu itu ditakuti pria seperti Gang Ho.”
Aku tertawa kecil, suaraku bergema di hutan sunyi ini. “Oh, Ayaka… kau bukan Gang Ho. Kau wanita, sama seperti aku. Aku akan buat kau rasakan kelembutan Ular Naga ini dengan cara yang berbeda.”
Aku goyangkan kepalaku lagi—kali ini lebih kuat—dan kepang tebal itu meluncur ke depan seperti cambuk panjang, menyabet udara dengan suara “swish!” tajam tepat di depan wajah Ayaka. Ia lompat mundur cepat, katana-nya naik untuk blokir, tapi kepangku menghindar lincah dan kembali ke posisi semula.
“Wow…” gumamnya, matanya berbinar penuh tantangan. “Benar-benar seperti naga hidup.”
Aku maju selangkah, kepangku menyapu tanah di belakangku. “Rasakan sendiri, Ayaka. Aku tak akan tahan lagi.”
Ia tersenyum tipis lagi—senyum samurai sejati yang siap mati atau menang. “Ayo. Buat aku menyesal pernah menantangmu.”
Aku tarik napas dalam, lalu mulai gerakkan bahu dan putar tubuh atas dengan cepat. Kepang Ular Naga-ku langsung menari liar di udara, siap menyambar dari segala arah.
Pertarungan baru… benar-benar dimulai sekarang.
Aku tak beri Ayaka waktu untuk bernapas panjang. Napasku sudah teratur kembali, tenaga dalam Bajiquan-ku mengalir deras ke seluruh tubuh, tapi sekarang semuanya kutumpahkan ke gerakan kepala, bahu, dan pinggul atas. Aku goyangkan kepalaku ke kiri dengan cepat—kepang tebal yang menjulur dari ubun-ubun langsung meluncur ke kanan seperti cambuk raksasa, menyabet udara dengan suara “swiiish!” tajam yang menggema di hutan bambu.
Ayaka lompat mundur lincah, katana-nya naik blokir, tapi kepangku menghindar seperti makhluk hidup dan kembali ke posisi, ujungnya menyapu rumput hingga daun-daun beterbangan.
“Wow… cepat sekali!” serunya, matanya berbinar penuh kagum tapi tetap waspada. Ia maju lagi, katana-nya menebas horizontal untuk potong kepangku di tengah.
Aku putar tubuh atas ke belakang, kepang itu ikut melingkar menghindar, lalu aku sabet balik dari bawah ke atas—ujung kepang naik cepat ke arah pahanya. Ia blokir dengan bilah katana, bunyi “plak!” keras terdengar saat rambut tebal ku bertemu logam, tapi tak ada goresan di bilah itu—hanya getaran yang membuat tangannya mati rasa sebentar.
“Rambutmu… benar-benar seperti senjata hidup!” katanya sambil mundur lagi, napasnya mulai lebih cepat. Chonmage-nya masih rapi, tapi keringat mulai menetes lebih deras di lehernya.
Aku tersenyum licik, maju selangkah demi selangkah. “Kau suka, ya? Ini baru permulaan, Ayaka. Rasakan lebih banyak.”
Aku mulai gerakkan kepala tanpa henti—kiri, kanan, atas, bawah, putaran kecil yang membuat kepang Ular Naga-ku menari liar di udara. Sabetan demi sabetan meluncur ke arahnya: satu ke bahu, satu ke pinggang, satu ke kaki, satu lagi ke tangan yang memegang katana. Ayaka awalnya bisa hindari semua—ia lompat, merunduk, putar tubuh dengan gerakan iaijutsu yang indah, katana-nya blokir beberapa sabetan hingga bunyi “plak-plak-plak!” terus menerus terdengar seperti hujan cambuk.
Tapi lama-kelamaan, ia tak bisa dekati aku lagi. Jarak antara kami tetap sekitar satu setengah meter—panjang tepat kepangku—dan setiap kali ia coba maju, sabetan cambuk ku menyambutnya lebih dulu, memaksanya mundur atau blokir dengan katana yang mulai terasa berat di tangannya.
“Kenapa kau tak dekati aku lagi?” ejekku sambil terus gerakkan kepala, kepangku berputar vertikal seperti roda maut di depanku. “Takut kelembutan rambutku ini, Ayaka? Tadi kau bilang ingin lihat Ular Naga… sekarang dia sudah menari untukmu.”
Ia menggeram pelan—suara samurai yang tak mau kalah—lalu nekad lompat maju melalui celah sabetanku, katana-nya tusuk lurus ke dadaku. Tapi aku sudah antisipasi. Aku miringkan kepala cepat, kepangku melingkar seperti lasso di udara, lalu—dalam sekejap—melingkar rapat di gagang katana-nya, tepat di atas tangan kanannya.
“Ayo tarik!” seruku penuh semangat.
Aku tarik kepalaku ke belakang dengan kuat, tenaga pinggul dan bahu ku meledak—kepang tebal itu menarik gagang katana dengan kekuatan luar biasa. Ayaka pegang erat, tapi tangannya terguncang hebat. Katana-nya terlepas dari genggaman, melayang di udara sebentar sebelum jatuh ke rumput lima langkah di belakangnya dengan bunyi “clang!” logam bertemu tanah.
Ayaka terhuyung mundur, tangan kosong sekarang, matanya melebar kaget. “Pedangku… kau rebut dengan rambut saja?!”
Aku tertawa besar, kepangku kembali bergantung panjang di belakangku, ujungnya menyapu rumput. “Senjata wanita lawan senjata wanita, Ayaka. Rambutku lebih kuat dari yang kau kira.”
Ia tak menyerah. Ia langsung sabet lagi kepalaku dengan tangan kosong—aku goyangkan kepala, kepangku naik cepat dan menyabet ke arah wajahnya. Ia tangkap ujung kepangku dengan kedua tangan tepat waktu—jari-jarinya mencengkeram rambut tebal ku erat, matanya penuh tekad.
“Gotcha!” serunya, tarik kepangku kuat-kuat untuk buat aku kehilangan keseimbangan.
Tarik-menarik pun terjadi. Aku tarik kepalaku ke belakang, ia tarik ke depan—kepang tebal itu menjadi tali hidup yang tegang di antara kami, rambut hitam ku meregang kuat tapi tak putus. Aku rasakan tarikan di kulit kepalaku, sedikit sakit tapi juga… nikmat, sensasi kekuatan rambutku yang ditantang langsung oleh tangan wanita lain.
“Kau kuat juga!” kataku sambil tarik lebih keras, tubuhku condong ke belakang. “Rasanya enak pegang rambutku, ya? Lembut seperti yang kau bayangkan?”
Ia memerah sedikit—entah karena usaha atau malu—tapi tangannya tak lepas. “Tutup mulutmu! Rambutmu ini… tebal sekali! Seperti tali sutra baja!”
Aku putar pinggul, tarik lebih kuat lagi hingga ia terdorong maju dua langkah. “Sutra baja yang akan buat kau berlutut, Ayaka. Lepaskan kalau tak sanggup!”
Ia tarik balik dengan tenaga samurai-nya, hampir buat aku terhuyung. “Belum! Aku belum kalah!”
Tarik-menarik berlangsung beberapa saat lagi—napas kami sama-sama tersengal, keringat menetes, rambutku yang dicengkeramnya mulai sedikit basah oleh telapak tangannya yang panas. Sensasi itu… membuatku semakin bersemangat. Ini bukan seperti melawan Gang Ho—ini melawan wanita yang mengerti arti rambut bagi seorang prajurit.
Akhirnya, aku ledakkan tenaga dalam Bajiquan-ku ke leher dan bahu—tarikan kuat sekali yang membuat tangannya terlepas. Kepangku kembali ke aku seperti ular pulang ke sarang, bergoyang di udara sebelum diam lagi.
Ayaka terhuyung mundur, tangan kosong, napasnya ngos-ngosan. Ia melirik katana-nya yang tergeletak di rumput.
Aku tersenyum lebar. “Mau ambil pedangmu kembali? Coba saja… Ular Naga belum selesai menari.”
Ia lompat ke arah katana-nya, tapi aku sudah siap untuk sabetan berikutnya.
Ayaka lompat cepat ke arah katana-nya yang tergeletak di rumput basah, lima langkah di belakangnya. Tubuhnya meluncur rendah seperti harimau yang menerkam mangsa, tangan kanannya sudah terulur untuk genggam gagang pedang itu kembali. Napasnya tersengal, gi putihnya sudah basah keringat di punggung, tapi matanya masih penuh api samurai yang tak mau padam.
Aku tak beri dia kesempatan.
Aku goyangkan kepalaku dengan kuat ke kanan—kepang Ular Naga-ku yang panjang langsung menyambar horizontal ke arah kepalanya, seperti cambuk naga yang mengamuk. Angin dari sabetan itu menderu keras, daun bambu di sekitar beterbangan.
Ayaka merunduk cepat—gerakannya lincah, hampir sempurna. Ujung kepangku lewat di atas kepalanya, hanya beberapa inci dari chonmage-nya yang rapi itu. Sabetan itu tak mengenai kulitnya sama sekali, tak ada luka, tak ada darah.
Tapi aku dengar suara kecil “sret!”—seperti tali sutra yang putus.
Ujung kepangku menyenggol tali pengikat chonmage-nya tepat di ubun-ubun. Ikatan yang selama ini menahan rambutnya dengan sempurna langsung longgar. Dalam sekejap, ekor kuda yang ditekuk ke depan itu terlepas, dan seluruh rambut hitam pekat Ayaka mengalir deras seperti air terjun sutra hitam.
Rambutnya tergerai bebas hingga sepunggung—panjang, tebal, lurus sempurna, berkilau meski di bawah naungan bambu yang redup. Helai-helai itu jatuh menutupi sebagian wajahnya, menempel di bahu dan dada karena keringat, membuatnya tampak… berbeda. Bukan lagi samurai dingin dan tegas dengan chonmage rapi yang melambangkan kehormatan. Sekarang dia seperti wanita anggun, feminin, hampir rapuh—seolah baru saja dilucuti baju zirah tak kasat matanya.
Ayaka terhenti di tengah lompatannya. Tubuhnya membeku, tangannya yang tadi terulur untuk ambil katana kini turun perlahan, memegang udara kosong. Ia jatuh berlutut pelan di rumput basah, lututnya menyentuh tanah dengan suara pelan. Rambut tergerainya menutupi wajahnya seperti tirai, tapi aku lihat bahunya bergetar sedikit.
Aku tarik napas dalam, kepangku kembali bergantung panjang dari ubun-ubun ke tanah, ujungnya menyapu rumput di sekitarku. Aku maju dua langkah mendekatinya, tapi tak terlalu dekat—memberi ruang untuk kehormatan yang dia layak dapatkan.
“Ayaka…” kataku pelan, suaraku lembut tapi penuh ejekan yang tak bisa kutahan. “Kau terlihat cantik seperti itu. Rambutmu tergerai… jauh lebih indah daripada saat diikat chonmage kaku itu. Seperti bunga sakura yang baru mekar, lembut dan menggoda.”
Ia angkat kepala pelan dari balik tirai rambut hitamnya. Matanya yang tadi tajam kini sayu, bibirnya bergetar sedikit. Ia tarik napas panjang, dadanya naik-turun, lalu hembuskan udara perlahan seolah melepaskan segala api perang di dalam dirinya.
“Aku… kalah,” katanya akhirnya, suaranya tenang tapi berat, seperti samurai sejati yang menerima nasib. “Pedangku direbut oleh rambutmu. Chonmage-ku… terlepas karena Ular Naga-mu. Aku tak punya alasan lagi untuk melanjutkan.”
Aku tersenyum kecil, merasakan kepuasan hangat mengalir di dada. Bukan hanya karena menang, tapi karena melihat wanita sekuat dia akhirnya tunduk—dan dengan cara yang begitu intim, melalui rambutnya sendiri.
Ia letakkan kedua tangannya di rumput di depan lututnya, lalu bersujud hormat dalam-dalam—dahi hampir menyentuh tanah, rambut tergerainya menyebar di rumput seperti karpet hitam mengkilap.
“Feng Ye dari Shaonu Ta,” katanya dengan suara penuh hormat, “kau pemenang yang layak. Aku, Kumi Ayaka, mengakui kekalahanku sepenuhnya.”
Aku diam sejenak, membiarkan angin bambu berhembus di antara kami, membawa aroma getah dan keringat kami yang bercampur. Kepangku bergoyang pelan, seolah ikut menghormat.
“Aku terima sujudmu, Ayaka,” jawabku akhirnya, suaraku lebih lembut sekarang. “Kau lawan yang hebat. Aku tak pernah bertemu wanita pendekar sepertimu sebelumnya.”
Ia bangkit perlahan dari sujudnya, duduk bersila di rumput dengan punggung tegak meski rambutnya masih tergerai acak-acakan. Matanya menatapku langsung, tanpa kebencian—hanya penerimaan dan sedikit kesedihan.
“Sebelum kau potong rambutku sesuai taruhan…” katanya pelan, suaranya hampir bisik, “bolehkah aku minta satu hal terakhir? Biarkan aku ikat chonmage-ku sekali lagi. Untuk yang terakhir kalinya.”
Aku angkat alis, tapi hati ku luluh sedikit. Aku angguk pelan. “Boleh. Aku akan tunggu. Lakukan dengan hormat, seperti samurai sejati.”
Ia tersenyum tipis—senyum pertama yang benar-benar tulus sejak kami bertemu. Ia serahkan wakizashi-nya yang terselip di pinggang—bilah pendek itu dia letakkan di rumput di depanku, sebagai tanda penyerahan sepenuhnya.
“Lalu… gunakan ini untuk potong rambutku,” katanya. “Bukan katana-ku. Wakizashi lebih pantas untuk… akhir seperti ini.”
Aku ambil wakizashi itu perlahan, merasakan dingin logam di tanganku. Ayaka berbalik membelakangi aku, duduk berlutut tegak di rumput. Dengan tangan gemetar sedikit—bukan karena takut, tapi karena emosi—ia mulai mengumpulkan seluruh rambut tergerainya dari belakang, menariknya ke atas ubun-ubun dengan hati-hati.
Aku perhatikan setiap gerakannya: jari-jarinya yang terlatih menyisir helai-helai hitam itu, mengikatnya menjadi ekor kuda tinggi, lalu menekuknya ke depan dengan rapi, mengencangkan tali kecil yang tersisa di obi-nya.
Chonmage-nya kembali sempurna—indah, tegas, melambangkan segala yang dia junjung sebagai samurai.
Ia tarik napas dalam lagi. “Aku siap, Feng Ye. Potonglah.”
Aku maju mendekat, wakizashi di tangan kanan, tangan kiri ku tak tahan—aku ulurkan untuk pegang sanggul chonmage-nya yang baru dibentuk itu. Aku elus perlahan permukaannya, rasakan tekstur rambutnya yang tebal dan halus, lalu remas pelan seperti mengagumi trofi.
Rambut Ayaka… benar-benar indah.
Dan sekarang, saatnya aku nikmati sebelum memotongnya.
Aku berdiri di belakang Ayaka yang berlutut tegak di rumput basah, wakizashi di tangan kananku terasa dingin dan berat, seperti membawa nasib seorang samurai wanita di telapak tanganku. Hutan bambu di sekitar kami sunyi, hanya angin yang bergesekan pelan dengan daun-daun tinggi, seolah ikut menyaksikan ritual terakhir ini dengan hormat.
Ayaka sudah selesai mengikat chonmage-nya. Rambut hitam pekatnya yang tadi tergerai indah kini kembali terkumpul rapi di ubun-ubun: ekor kuda tinggi yang tebal, lalu ditekuk ke depan dengan sempurna, diikat erat dengan tali kecil yang dia ambil dari obi-nya. Sanggul itu bulat, tegas, melambangkan segala kehormatan yang dia junjung—dan sekarang, akan menjadi trofi kekalahannya.
Aku tak langsung potong. Aku maju lebih dekat, lututku hampir menyentuh punggungnya, lalu ulurkan tangan kiri ku. Jari-jariku menyentuh sanggul chonmage itu perlahan—permukaannya halus, hangat karena suhu tubuhnya, tebal seperti sutra yang dipadatkan. Aku elus pelan dari pangkal hingga ujung tekukan, rasakan setiap helai rambut yang terikat rapat di bawahnya.
“Indah sekali, Ayaka,” bisikku, suaraku rendah tapi penuh kekaguman yang tulus. “Rambutmu ini… baik saat tergerai tadi, seperti sutra hitam yang mengalir bebas, maupun saat diikat chonmage begini—tegas, kuat, seperti mahkota seorang prajurit sejati.”
Ia diam sejenak, tubuhnya tegak tak bergerak, tapi aku rasakan napasnya sedikit lebih cepat. “Feng Ye… sampai kapan kau akan memainkan rambutku seperti ini?” tanyanya pelan, suaranya protes tapi tak marah—ada nada pasrah di dalamnya, campur dengan sesuatu yang lebih lembut.
Aku tertawa kecil, tanganku tak berhenti. Aku remas sanggul itu pelan, rasakan kekencangannya, kelembutan di balik kekerasan ikatan. “Aku sedang mengagumi rambut seorang prajurit sebelum dipotong, Ayaka. Ini kan taruhan kita. Biarkan aku nikmati sebentar. Rambutmu terasa… begitu hidup di tanganku.”
Ia menghela napas panjang, tapi tak menolak. Malah, aku rasakan tubuhnya sedikit rileks, seolah menikmati sentuhanku meski dalam kekalahan.
“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lebih tenang. “Tanyalah apa yang ingin kau tahu. Sebelum semuanya berakhir.”
Aku tersenyum, tanganku terus elus dan remas sanggul itu—kadang pelan, kadang agak kuat hingga aku dengar desah napasnya sedikit berubah. “Pertama… dengan apa kau rawat rambut sepanjang dan setebal ini? Minyak apa? Ramuan khusus dari Jepang?”
Ia jawab pelan, mata tertutup seolah fokus pada sensasi tanganku. “Minyak kamelia… dari biji bunga tsubaki. Aku oles setiap malam, sisir seratus kali dengan sisir kayu boxwood. Guru ku bilang, rambut samurai harus kuat seperti pedang, tapi halus seperti sutra kimono.”
“Hmm… wanginya samar-samar tercium sekarang,” kataku sambil dekatkan hidungku ke sanggulnya, tarik napas dalam. Aroma manis bunga samar bercampur keringat pertarungan. “Enak sekali. Lalu… siapa yang ajarkan kau ilmu samurai? Dan khususnya, cara ikat chonmage wanita seperti ini? Kan beda dengan pria.”
Ayaka diam sebentar, tapi tanganku yang terus memainkan sanggulnya membuatnya bicara lagi. “Ayahku… dia ronin tua dari klan Kumi. Dia ajarkan aku kenjutsu sejak kecil, karena tak punya anak laki. Chonmage ini… ibuku yang ajarkan. Dia bilang, wanita samurai harus punya gaya sendiri—tanpa botak seperti pria, tapi tetap hormat pada bushido. Rambut adalah kehormatan, tapi juga keindahan.”
Aku remas lebih kuat sedikit, rasakan dia menahan napas. “Lalu apa arti chonmage bagimu sekarang? Saat kau tahu akan kupotong?”
Ia tertawa kecil—tawa pahit tapi tulus. “Arti segalanya. Kehormatan keluarga, bukti aku prajurit. Tapi… juga beban. Setelah ini, aku tak lagi samurai sepenuhnya. Tapi kau menang adil, Feng Ye. Aku terima.”
“Masih banyak pertanyaan,” kataku sambil elus lagi, jari-jariku menyusuri pangkal sanggul di kulit kepalanya—rasakan hangatnya, getaran kecil saat aku sentuh. “Seberapa sering kau sisir rambut ini? Pernahkah kau biarkan tergerai lama untuk pria yang kau suka? Atau selalu diikat ketat seperti sekarang?”
Ia menggeleng pelan, tapi tak menjauh dari tanganku. “Setiap malam, seratus sisiran. Tak pernah untuk pria… aku samurai, bukan gundik. Rambut ini hanya untuk bushido. Tapi sekarang… rasanya aneh kau mainkan begini. Hangat… dan… menenangkan, entah kenapa.”
Aku puas sekarang. Sensasi memegang, mengelus, meremas rambut wanita pendekar seperti dia—tebal, terawat, penuh cerita—membuat kepuasan erotis mengalir di nadiku, lebih dalam dari saat aku cambuk Gang Ho.
“Cukup,” kataku akhirnya, tarik wakizashi lebih dekat. Aku letakkan bilah dingin itu di pangkal sanggul, tepat di kulit kepalanya yang hangat.
Aku tarik sanggul itu kuat ke belakang—kepala Ayaka menengadah ke atas, menghadap langit mendung melalui celah bambu, lehernya terbuka, rambut di wajahnya tersingkap. Ia pejamkan mata, air mata pertama menetes pelan membasahi pipinya—bukan jeritan, hanya diam menahan rasa sakit dan penghinaan.
Aku iris wakizashi ke pangkal—tapi bilahnya tumpul setelah pertarungan, dan rambut Ayaka tebal luar biasa. Irisan pertama hanya potong sedikit, bunyi “sret… sret…” pelan tapi susah payah. Ia menggigit bibir, air mata semakin deras, tapi tubuhnya tak bergerak.
“Teruskan…” bisiknya parau saat aku berhenti sebentar. “Jangan kasihan. Aku minta… akhiri dengan benar.”
Aku kerahkan seluruh tenaga—tangan kananku tekan bilah, kiri tarik sanggul lebih kuat. Irisan demi irisan, rambut tebal itu mulai putus satu per satu, air mata Ayaka tak henti membasahi pipi dan rumput di bawahnya. Ia menahan napas, bahunya bergetar, tapi tak ada suara keluhan—hanya kehormatan samurai hingga detik terakhir.
Akhirnya—dengan tarikan terkuat—cepol chonmage itu terpotong sempurna. Sanggul tebal hitam pekat terpisah di tanganku, masih hangat, berat seperti trofi hidup. Rambut Ayaka kini pendek acak-acakan di sekitar kepala, tak lagi rapi, tak lagi panjang.
Ia tetap berlutut, kepala menunduk dalam, air mata menetes ke rumput.
“Ini… kekalahan pertamaku sebagai samurai,” katanya pelan, suaranya pecah tapi tegas. “Pedang sudah tak di tangan saat direbut, rambut sudah pendek… acak-acakan. Aku tak tahu harus bagaimana lagi.”
Aku pegang sanggul potongan itu di tangan kiri, rasakan kelembutannya yang kini jadi milikku. Lalu aku ambil katana-nya yang tergeletak, selipkan kembali ke sarung di pinggangnya.
“Teruslah hidup menjadi seseorang yang baru, Ayaka,” kataku lembut, duduk di depannya sekarang. “Lagipula… rambut akan tumbuh kembali, kan? Kau masih muda, masih kuat. Ini bukan akhir—hanya babak baru.”
Ia angkat kepala, mata basah tapi tersenyum tipis. Ia terima katana itu kembali, pegang erat. “Terima kasih… Feng Ye. Kau musuh yang terhormat.”
Ia bangkit perlahan, rambut pendeknya tertiup angin, membuatnya tampak lebih lembut, lebih manusiawi. “Aku mohon pamit. Pulang ke Jepang… entah sebagai apa.”
Aku berdiri juga, kepangku bergoyang panjang di belakangku. “Pergilah. Dan kalau suatu hari rambutmu panjang lagi… datanglah kembali. Aku harap kita bertemu lagi, Ayaka.”
Ia angguk hormat terakhir, lalu berbalik menyusuri jalan setapak hutan bambu, sosoknya menghilang pelan di balik batang-batang hijau.
Aku berdiri sendirian di tengah lapangan kecil hutan bambu, angin musim semi awal Februari menyapu wajahku dengan lembut, membawa aroma getah segar dan tanah basah yang masih lembab setelah hujan semalam. Di tangan kiriku, aku pegang cepol chonmage Ayaka yang baru saja kupotong—tebal, hitam pekat, masih hangat dari suhu tubuhnya, berat seperti trofi yang hidup. Rambutnya yang tebal itu terasa halus di telapak tanganku, helai-helai di ujung potongan masih sedikit basah oleh air matanya yang menetes saat ritual terakhir tadi.
Aku tatap cepol itu lama, jari-jariku menyusuri permukaannya sekali lagi—mengingat bagaimana aku elus dan remas sanggul itu sebelum memotong, bagaimana Ayaka menahan napas dan air mata sambil tetap tegak seperti samurai sejati. Sensasi itu masih terasa di kulitku: kelembutan rambut wanita pendekar lain di tanganku, kekalahannya yang intim melalui mahkotanya sendiri. Ular Naga-ku bergoyang pelan di belakangku, kepang panjangku menyapu rumput basah, seolah bangga atas kemenangan hari ini.
Ayaka sudah pergi jauh sekarang. Aku lihat sosoknya menghilang di antara batang-batang bambu tinggi, hakama biru tuanya berkibar pelan, katana kembali di pinggangnya, tapi rambutnya kini pendek acak-acakan—tak lagi panjang, tak lagi chonmage yang tegas. Ia berjalan dengan punggung tegak, meski aku tahu hatinya pasti berat. Aku harap suatu hari ia kembali, dengan rambut panjang lagi, dengan pedang lebih tajam, dan kita bertarung ulang—wanita lawan wanita, rambut lawan rambut.
“Selamat jalan, Ayaka,” gumamku pelan pada angin. “Kau lawan terbaik yang pernah kurasakan.”
Aku selipkan cepol chonmage itu di pinggangku, di balik obi jubah biru tuaku—sebagai kenangan, sebagai trofi yang akan kurawat seperti rambutku sendiri. Nanti malam, aku akan sisir dan olesi minyak zaitun, biar tetap indah meski sudah terpisah dari pemiliknya.
Aku tarik napas dalam, siap pulang ke gubuk kecil di Shaonu Ta. Tapi saat aku berbalik ke arah jalan setapak… aku rasakan lagi. Tatapan itu. Tatapan yang sama seperti sebulan lalu saat pertarungan dengan Gang Ho—seolah ada mata yang mengawasi dari kejauhan, tak berani dekati tapi tak pernah lepas.
Aku menyipitkan mata, perhatikan sekitar. Hutan bambu sunyi, tapi di balik satu batang bambu tebal sekitar dua puluh langkah di belakang tempat kami bertarung tadi, aku lihat bayangan samar. Seseorang mengendap, tubuhnya membungkuk sedikit, seolah bersembunyi tapi tak cukup cepat kabur.
“Hei!” seruku pelan tapi tegas, langkahku maju mendekati.
Bayangan itu bergerak cepat—lari ringan ke arah tepi hutan, menuju desa. Aku kejar beberapa langkah, kepangku bergoyang liar di belakangku, tapi orang itu sudah menghilang di balik semak-semak.
Aku berhenti, tarik napas, ingat-ingat apa yang kulihat sekilas. Pemuda, pasti. Usianya lebih muda dariku—mungkin 22 atau 23 tahun, tiga tahun lebih muda. Tubuhnya ramping, gerakannya lincah tapi tak terlatih seperti pendekar. Penampilannya… aneh untuk Shaonu Ta. Bukan jubah Tiongkok biasa, tapi pakaian Barat: kemeja lengan panjang putih yang rapi meski sedikit kotor debu, celana panjang kain hitam, dan topi baret miring di kepala seperti yang sering kulihat di gambar-gambar pedagang asing dari Shanghai. Di tangannya, dia pegang buku sketsa kecil dan pensil—seperti pelukis atau pelajar yang datang dari kota besar.
Aku gelengkan kepala pelan, tanganku menyentuh kepangku yang masih bergoyang karena lari sebentar tadi. “Siapa kau sebenarnya?” gumamku sendirian. “Sejak pertarungan dengan Gang Ho sebulan lalu… aku rasakan tatapanmu. Kau menguntitku kemana-mana, ya? Mengawasi dari jauh, tak berani dekati.”
Aku ingat-ingat. Saat aku cambuk Gang Ho di lapangan dermaga, aku sempat lihat sekilas bayangan serupa di pinggir kerumunan—pemuda dengan topi baret, memegang buku sketsa, seolah sedang menggambar sesuatu dengan cepat sebelum kabur. Dan sekarang lagi, di hutan bambu ini, setelah aku potong rambut Ayaka.
Apa yang dia incar? Ular Naga-ku? Pertarunganku? Atau… hanya rambutku saja yang membuatnya tergila-gila dari kejauhan?
Aku tersenyum kecil sendiri, merasakan campuran penasaran dan waspada. Di akhir dinasti Qing ini, orang-orang aneh dari kota besar semakin banyak datang ke pesisir—pelajar, pelukis, atau mungkin mata-mata asing yang menyamar. Tapi pemuda ini… matanya yang kulihat sekilas tadi bukan mata pembunuh. Lebih seperti… kagum. Atau tergoda.
“Kalau kau terus menguntit seperti ini,” bisikku pada angin, seolah dia masih mendengar dari kejauhan, “suatu hari aku akan tangkap kau. Dan kita lihat apa yang kau gambar di buku sketsa itu. Pasti… rambutku, ya?”
Aku berbalik, berjalan pulang menyusuri jalan setapak hutan bambu yang mulai gelap karena matahari condong ke barat. Kepangku menyapu daun-daun kering di tanah, meninggalkan jejak panjang seperti ekor naga yang puas. Cepol chonmage Ayaka aman di pinggangku, dan di hati ku… antisipasi baru muncul.
Lawan berikutnya mungkin bukan pendekar lagi. Mungkin… seorang pengagum rahasia yang tak bisa lepas dari pandang pada Ular Naga-ku.
Aku tak sabar menunggu hari itu tiba.
BERSAMBUNG
.jpeg)

Comments
Post a Comment